Hari ini aku pulang agak terlambat. pukul 6.30 sore aku baru tiba di kobong. (sebutan untuk asrama di pondok tempat ku tinggal). saat aku datang, para santri putri dan putra baru saja selesai melaksanakan shalat magrib berjamaah di masjid yang terletak persis didepan kobong putri. ini adalah hari yang ke 9 sejak aku tinggal di pondok pesantren As-salaam Post. Dan seperti hari-hari sebelumnya, santri karyawan tidak diwajibkan mengikuti pengajian dimasjid yang selalu dilakukan para santri lain seusai shalat magrib. Aku lantas bergegas mandi dan setelah itu segera ku tunaikan shalat magrib. setelah selesai, ku rebahkan tubuh sejenak, melepas letih yang mendera setelah seharian bekerja.
Tak lama kemudian hp ku berdering, ada panggilan masuk dari nomer adikku yang berada dicileungsi.
"Halo, Assalamu'alaikum. " Suara ibu menyapaku dari sebrang sana. tiba-tiba ada perasaan rindu yang teramat dalam begitu ku dengar suaranya. Setelah ku jawab salamnya, beliau lantas menanyakan keadaanku selama berada disubang.
Ku akui, saat aku tinggal dengan ibu, aku merasa kalau aku lebih banyak berbuat dosa dari pada membantu meringankan beban nya. saat berada di sisinya ibu sering kali menanyakan hal-hal yang aku tidak ingin ibu mengetahuinya dan akhirnya aku kerap kali berbohong. meski dari segi tenaga aku banyak membantu ibu saat di rumah, tapi ku tahu, kondisiku menjadi sebuah beban psikologis bagi ibu. dan kini, saat jauh aku merasa benar-benar merindukan ibu. kerinduan yang tidak pernah kurasakan saat bisa di sampingnya.
aku mendengar suara ibu begitu lembut, padahal jika aku ada bersamanya ibu kerap kali bersuara keras saat menasihati atau memarahi adik-adikku saat tak menuruti perintahnya.
suara ibu terdengar sumbang, seperti habis menangis. tapi saat ku tanyakan, ibu bilang suaranya berubah akibat flue yang dialaminya. ibu bertanya apakah aku betah bekerja disubang dan tinggal dipondok. tentu saja ku bilang 'ya..' sebab disini aku merasa ada kedamaian jiwa yang sudah lama tak kurasakan lagi.
Ibu lalu mulai bercerita tentang kehidupan yang dijalaninya di cileungsi selama aku tak ada. Sebelum aku pindah bekerja di Subang, ibu baru dua minggu memulai usaha barunya, yaitu berjualan sayuran. sebenarnya ibu sudah memiliki usaha yang sudah bertahun-tahun dijalaninya yaitu membuat kue-kue basah, tapi rupanya ibu ingin mencoba usaha baru yaitu berjualan sayuran. Awalnya ibu masih semangat menjalankan profesi barunya, tapi nampaknya semuanya tak bertahan lama. dengan nada sedih, ibu bercerita bahwa ibu sudah kewalahan melanjutkan usaha sayurannya. bukannya mendapat untung, ibu justru malah menambah deretan hutangnya karena modal yang digunakan selalu habis untuk biaya hidup.
Ya Allah.., betapa mata ini ingin menangis, betapa batin ini ingin menjerit mendengar keluh kesah yang ibu sampaikan. usiaku telah mencapai 22 tahun tapi aku belum pernah bisa memberikan kebahagiaan untuk ibu. Aku benar-benar ingin menangis, tapi ku tahan sekuat tenaga agar aku tak membuat ibu tambah sedih.
Ku besarkan hati ibu dengan mengatakan kalau suatu saat anak perempuannya ini akan membawanya keluar dari kesulitan hidup yang selama ini menemani hari-harinya. ibu meng'aminkan setiap harapan-harapan yang ku sampaikan pada ibu.
Semoga kesempatan ku masih ada bu....
Kesempatan untuk membahagiakan mu...
Kesempatan untuk membuat hari tua mu menjadi indah..
Kesempatan untuk membuatmu tak pernah menyesal telah melahirkan ku kedunia ini.
Seusai ku sampaikan segala harapan-harapan ku dimasa mendatang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan satu kalimat yang terlontar dari bibir ibu. Dengan nada sangat lembut, ibu berkata,
" tun, jangan mikirin acep lagi ya... InsyaAllah nanti sama Allah diganti sama yang lebih baik. "
Allah... Air mata yang sejak tadi ku tahan tak terbendung lagi. Aku menangis tersedu-sedu. ibuku, wanita yang paling aku cintai di bumi ini ternyata mengerti betapa perihnya luka yang ku alami setelah lelaki yang paling kucintai memutuskan untuk meninggalkanku. Aku memang sangat terluka bu, tapi ibu harus tahu, putrimu ini selalu berusaha untuk tegar. ya, aku selalu berusaha meski belum sepenuhnya aku mampu. Akhirnya pembicaraanpun kami akhiri setelah ibu menasihati agar aku makan lebih banyak dan selalu menjaga kesehatan.
Beberapa waktu lalu, saat acep memutuskan hubungan kami dengan alasan yang belum bisa ku mengerti, aku merahasiakannya dari ibu. sebab ku tahu ibu akan kecewa karena ibu sudah terlanjur sayang pada acep dan telah merestui hubungan kami. setiap kali ditanya perihal acep, aku selalu bilang bahwa kami tidak berkomunikasi lantaran sedang bertengkar. tapi ketika aku hendak pindah kerja di subang, aku bercerita apa adanya pada ibu karena beliau terus-terusan bertanya ada masalah apa yang terjadi diantara kami. saat itu, mata sayunya menatapku, seolah ia melihat luka yang tersembunyi dibalik penuturanku.
Ibu lantas menasihati agar aku bersabar. Saat itu aku cuma tersenyum mendengar nasihat ibu, walaupun sebenarnya aku sangat ingin menangis.
***
Bu, terimakasih telah memberiku kekuatan baru. aku sangat mencintaimu, meski tak pernah ku ucapkan.
***
Subang, 25 September 2012
***
Bu, terimakasih telah memberiku kekuatan baru. aku sangat mencintaimu, meski tak pernah ku ucapkan.
***
Subang, 25 September 2012