Do'a Ibuku

Posted by Violet 18.32, under | No comments



Dulu aku jarang berfikir tentang kehebatan do’a seorang ibu untuk anaknya. Sering ku dengar kisah tentang para ibu yang berdo’a untuk anaknya dan do’a itu didengar oleh tuhan. Tapi kemudian aku lantas melihat pada diriku sendiri. Apa yang baik dari diri ini? tidak cantik, aku juga tidak pandai, aku hanya gadis biasa yang tak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan seperti teman-temanku yang lain. Apakah ini yang diharapkan ibu? Apa ibu pernah berdo’a untuk ku? Rentetan pertanyaan bodoh itu kerap kali hinggap dikepalaku. Membuat ku merasa kalau aku mungkin satu dari sekian anak yang jarang dido’akan oleh ibunya sendiri. Ku ingat lagi berbagai peristiwa dimana aku selalu bersitegang dengan ibu. Perbedaan pendapat, kesalah-fahaman, amarah, air mata kerap kali mewarnai hubungan kami.
Ibu, betapapun aku merasa sering tertekan karena sikapnya selama ini pada anak-anaknya, ia tetap wanita yang paling ku cintai didunia ini. rasa cinta yang ku miliki padanya selalu lebih besar setiap kali aku berada jauh darinya.
Ketika aku memutuskan bekerja disubang, ibu memberi restu meski awalnya beliau ragu karna aku akan berjauhan dengannya. Tapi aku meyakinkan ibu kalau semua akan baik-baik saja.
Setelah segala persiapannya sudah lengkap, aku berangkat kesubang. Dalam hati aku terus berdo’a semoga ibu dan adik-adikku selalu dalam lindungan Allah.
Di subang, aku bekerja disebuah garment milik orang korea. Posisiku sebagai marketing yang ditugaskan menangani satu customer terbesar di perusahaan tersebut. Hari-hari diminggu pertama yang ku jalani cukup menyenangkan meski kadang membosankan. Cukup banyak kendala yang di hadapi disana tapi semua berhasil ku lalui. Ketika baru pertama kali menginjakkan kaki ditempat kerja baruku, ada satu hal yang mengganjal pikiranku. Aku menyaksikan seorang karyawan produksi yang tengah dimarahi oleh pria kurus berkulit putih. Ku tebak orang itu pastilah salah satu dari orang-orang korea yang punya jabatan penting diperusahaan ini. aku menyaksikan pemandangan itu dari lantai atas ruang kerja ku. Suara pria asing itu terdengar begitu keras membuat siapapun yang sedang dimarahinya pasti ketakutan. Aku bertanya pada seorang teman disebelahku tentang siapa pria itu.
“itu Mr.Mishan, manager produksi” jawab temanku. Aku kembali menatap pemandangan dibawah dari jendela. Tiba-tiba aku membayangkan kalau aku ada diposisi wanita itu, yang sedang diomeli habis-habisan oleh Mr.mi. memang sebesar apa kesalahan yang dibuat wanita itu hingga kemarahan Mr mi begitu hebatnya?
Memasuki minggu ke dua apa yang ku takutkan terjadi. Untuk pertama kalinya Mr.mi berteriak marah padaku hanya karena aku membantu seorang teman melakukan pekerjaannya. Dengan wajah sangarnya pria kurus itu menatapku sambil berteriak lantang dengan bahasa indonesia yang susunan kalimatnya kacau balau. Tubuhku gemetar hebat dan tak mampu menyerap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Aku baru mengerti kalau dia bilang bahwa aku seharusnya bekerja di meja kerja ku sendiri ketika teman yang ku bantu memberitahu maksud perkataan Mr.mi. dengan tubuh yang masih bercucuran keringat dingin, aku berjalan lemas meninggalkan gudang penyimpanan bahan baku. Semua orang menoleh kearahku saat aku melintasi area produksi. Sungguh, hari itu tak akan pernah ku lupakan. Hari dimana untuk pertama kalinya aku dibentak begitu keras oleh orang lain selain ibuku. Bahkan ibu ku saja tidak pernah berteriak sekeras itu. Aku benar-benar merasa dipermalukan. Sekuat mungkin ku tahan agar tak menangis.
Esok harinya beberapa karyawan yang mulai akrab dengan ku menasihati agar aku tak ambil pusing dengan sikap Mr.Mi kemarin sebab semua yang bekerja ditempat itu pasti pernah atau akan merasakan hal yang sama.
“kalau disini harus kuat mental, mba As. Kalau Mr.Mi atau orang korea lain marah gak usah didengerin. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.” Nasihat seorang teman.
Aku hanya tersenyum. Ya, kita lihat saja nanti berapa lama aku mampu bekerja ditempat ini jika kondisinya seperti ini.

Suatu malam sepulang kerja, aku menghubungi adikku di cileungsi agar bisa berbicara dengan ibu. Ibu bertanya soal tempat kerja baru ku, maka mengalirlah cerita tentang pengalamanku selama bekerja disana. Dari mulai pengalaman baru ku bekerja sebagai marketing, berkenalan dengan orang-orang baru, hingga pengalaman pahitku saat di omeli Mr.Mi. ibu mendengarkan cerita ku dengan seksama. Ternyata ibu mengerti bagaimana perasaanku karena saat muda dulu ibu pernah bekerja di perusahaan milik korea. “kalo kerja sama orang korea mah udah biasa begitu. Ibu juga dulu ngalamin. Di omelin abis-abisan sama orang korea.” Tutur ibu. Di akhir kalimatnya ibu meminta agar aku bersabar dan tetap bertahan bekerja di sana. 

Hari-hari kerja selanjutnya terasa begitu berat ku jalani. Ketika orang yang biasa menangani pengiriman barang untuk customer yang ku pegang memilih resign setelah menikah, aku semakin kepayahan. Aku memegang dua pekerjaan sekaligus. Pertama melakukan tugas utamaku sebagai marketing dan kedua menggantikan tugas temanku yang sudah resign yaitu memantau raw material yang keluar masuk gudang sekaligus mengantar barang ke customer. Dua tugas ini membuat ku lebih rentan terkena omelan Mr.Mi dan Mr.Park selaku pemilik perusahaan tempat ku bekerja. Letak gudang bahan baku yang ada lantai bawah dan meja kerjaku dilantai atas membuat tubuhku mengalami keletihan yang teramat sangat setiap kali harus mondar-mandir naik-turun tangga. Rutinitas di tempat kerja membuat kondisi kesehatan ku terabaikan hingga akhirnya aku jatuh sakit. Tapi betapapun lemahnya tubuhku, ku paksakan tetap masuk kerja. Aku depresi. Setiap waktu aku dihantui teriakan-teriakan liar Mr.Mi saat memarahiku. Entah untuk keberapa kalinya aku menangis dimeja kerja. Andai saja aku bisa seperti Mba Silvi, rekan kerja sesama marketing yang sering juga di marahi Mr.Mi tapi ia berani membalas teriakan-teriakan Mr.Mi dengan suara yang sama lantangnya… tapi nyatanya aku tak bisa. Diam adalah cara terbaik untukku saat meredam emosi maupun kesedihan.
Tuhan menghadapkan ku pada dua sisi berbeda. Pertama aku dipertemukan dengan orang-orang korea yang luar biasa memuakkan di mataku. Tapi disisi lain, ditempat kerja itu juga aku dipertemukan dengan orang-orang yang begitu sayang padaku. Itu kurasakan ketika para karyawan lebih sering melakukan interaksi dengan ku. Mereka yang meminta agar aku tetap bertahan bekerja disana. Begitu juga dipesantren tempat aku tinggal selama bekerja disubang. Baik para santri maupun guru pembimbingku begitu menyayangiku.
Suatu malam ibu meneleponku. Seperti biasanya, beliau selalu bertanya apakah aku masih betah kerja disana. Tak banyak pengalaman buruk yang ku ceritakan pada ibu dengan harapan kondisiku tidak terlalu membebani pikirannya.
“setiap hari ibu berdo’a supaya orang-orang korea itu berubah, gak marah-marah lagi. Biar Atun betah kerja disana”. Tutur ibu.
“ibu kemarin puasa khusus beberapa hari buat minta sama Allah supaya gak ada lagi orang yang marah-marahin Atun…” lirih ibu. Aku diam. Menahan gejolak haru didada. “amiin, mudah-mudahan dikabulkan sama Allah” Tuturku.
            Beberapa waktu setelah perbincangan dengan ibu ditelepon waktu itu, aku seperti merasa kalau do’a ibu didengar Allah. Sikap keras Mr.Mi belakangan agak melunak. Begitu juga dengan beberapa orang korea lainnya. Tapi kondisi menenangkan ini ternyata tidak bertahan lama.
Memasuki bulan ke empat aku benar-benar berada pada titik yang paling menguras emosi. Karna beberapa kali kerap miss understanding dengan customer yang ku tangani, kemarahan Mr.Mi kembali meledak-ledak. Selama tiga hari berturut-turut aku diomeli habis-habisan diruang kerjanya yang bisa dilihat oleh semua karyawan produksi. Puncaknya, sepulang dari mengantar barang ke customer aku menangis histeris disamping supir yang mengantarku.
“sabarnya ya mba As. Silahkan kalau mau nangis gak pa-pa. keluarin semua uneg-uneg nya, jangan dipendem sendiri.” Tutur pak Budi sambil menghentikan mobilnya. Aku menangis tersedu-sedu disebelahnya. Meluapkan semua kesedihan yang kurasakan selama ini. Pak budi mencoba menghibur hingga akhirnya tangis ku mereda.
            Tanggal 17 Januari 2013, Mr.Mi kembali memarahiku karna masalah digudang. Untuk kali ini aku bisa menjawab setiap teriakan-teriakan liarnya karna aku tahu persis duduk perkaranya. Dan ku pastikan bahwa ini adalah yang terakhir kali ia memperlakukanku demikian.
Pada beberapa karyawan yang sudah sangat dekat denganku ku utarakan pada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di PT Dong Yang. Mereka menyayangkan keputusanku. Tapi aku tak ingin berubah pikirian.
“mba As jangan pergi atuh, kalau gak ada mba As kita gimana? Gak ada yang ngurusin gudang lagi dong.. yang handle PT Sheok hwa nanti siapa…?”
Teh Ana menatapku memohon. Wanita yang sering bersamaku digudang ini memang sudah cukup akrab denganku.
Dengan tekad yang sudah bulat, aku keluar dari perusahaan garment tersebut tanpa pemberitahuan ke pihak HRD maupun atasan ku, Mr.Mi. beberapa hari setelah kepergianku, pihak HRD PT DongYang masih memintaku untuk kembali bekerja disana, tapi aku menolak. Sebab ditempat lain mungkin aku akan lebih dihargai.
            Aku belum mengabari ibu tentang hal ini. Hingga aku tiba di rumah kakak ku di Cileungsi, aku baru memberi tahu kalau aku sudah tidak bekerja lagi. Ibu memang menyayangkan keputusanku, tapi ku tahu ibu tetap berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.
            Ku sebut ini sebagai hari ketenangan. Hari-hari yang ku jalani setelah aku tidak lagi bekerja di tempat yang membuatku tidak pernah tenang bekerja maupun berpikir. Sambil menenangkan diri tentunya aku juga berusaha mencari pekerjaan baru.
Dari sebuah informasi lowongan kerja yang ku baca di salah satu group facebook, akhirnya aku memiliki pekerjaan baru sebagai project admin disebuah perusahaan konsultan yang berada di daerah bogor utara. Tanggal 11 maret 2013 aku mulai bergabung di perusahaan tersebut.
Tempat kerja baru ini mengingatkan ku pada ibu. Pada doa yang pernah dituturkannya saat aku masih bekerja di perusahaan lama. Disini aku merasa bahwa tuhan mengabulkan doa yang ibu panjatkan untukku. Saat aku dipertemukan dengan orang-orang yang baik, dan bekerja dibawah pimpinan orang-orang baik yang setidaknya tidak pernah ku dapati mereka berteriak marah sehebat Mr.Mi. Saat berkumpul dengan rekan sesama, aku merasa seperti ada ditengah-tengah keluargaku sendiri. Puji syukur tak habisnya ku panjatkan pada Allah yang telah memberi begitu banyak pelajaran dalam pengalaman hidup yang pernah ku lalui. Juga pada ibu yang tak pernah berhenti berdoa untuk anaknya.

 Ibu, aku mencintaimu... sangat mencintaimu. 

Bogor, 8 Juni 2013



0 komentar:

Posting Komentar

My Music