Dulu aku jarang berfikir tentang
kehebatan do’a seorang ibu untuk anaknya. Sering ku dengar kisah tentang para
ibu yang berdo’a untuk anaknya dan do’a itu didengar oleh tuhan. Tapi kemudian
aku lantas melihat pada diriku sendiri. Apa yang baik dari diri ini? tidak cantik,
aku juga tidak pandai, aku hanya gadis biasa yang tak memiliki apa-apa yang
bisa dibanggakan seperti teman-temanku yang lain. Apakah ini yang diharapkan
ibu? Apa ibu pernah berdo’a untuk ku? Rentetan pertanyaan bodoh itu kerap kali
hinggap dikepalaku. Membuat ku merasa kalau aku mungkin satu dari sekian anak
yang jarang dido’akan oleh ibunya sendiri. Ku ingat lagi berbagai peristiwa
dimana aku selalu bersitegang dengan ibu. Perbedaan pendapat, kesalah-fahaman, amarah,
air mata kerap kali mewarnai hubungan kami.
Ibu,
betapapun aku merasa sering tertekan karena sikapnya selama ini pada
anak-anaknya, ia tetap wanita yang paling ku cintai didunia ini. rasa cinta
yang ku miliki padanya selalu lebih besar setiap kali aku berada jauh darinya.
Ketika
aku memutuskan bekerja disubang, ibu memberi restu meski awalnya beliau ragu
karna aku akan berjauhan dengannya. Tapi aku meyakinkan ibu kalau semua akan
baik-baik saja.
Setelah
segala persiapannya sudah lengkap, aku berangkat kesubang. Dalam hati aku terus
berdo’a semoga ibu dan adik-adikku selalu dalam lindungan Allah.
Di subang, aku bekerja disebuah garment
milik orang korea. Posisiku sebagai marketing yang ditugaskan menangani satu
customer terbesar di perusahaan tersebut. Hari-hari diminggu pertama yang ku
jalani cukup menyenangkan meski kadang membosankan. Cukup banyak kendala yang
di hadapi disana tapi semua berhasil ku lalui. Ketika baru pertama kali
menginjakkan kaki ditempat kerja baruku, ada satu hal yang mengganjal
pikiranku. Aku menyaksikan seorang karyawan produksi yang tengah dimarahi oleh
pria kurus berkulit putih. Ku tebak orang itu pastilah salah satu dari
orang-orang korea yang punya jabatan penting diperusahaan ini. aku menyaksikan
pemandangan itu dari lantai atas ruang kerja ku. Suara pria asing itu terdengar
begitu keras membuat siapapun yang sedang dimarahinya pasti ketakutan. Aku
bertanya pada seorang teman disebelahku tentang siapa pria itu.
“itu
Mr.Mishan, manager produksi” jawab temanku. Aku kembali menatap pemandangan
dibawah dari jendela. Tiba-tiba aku membayangkan kalau aku ada diposisi wanita
itu, yang sedang diomeli habis-habisan oleh Mr.mi. memang sebesar apa kesalahan
yang dibuat wanita itu hingga kemarahan Mr mi begitu hebatnya?
Memasuki minggu ke dua apa yang ku
takutkan terjadi. Untuk pertama kalinya Mr.mi berteriak marah padaku hanya
karena aku membantu seorang teman melakukan pekerjaannya. Dengan wajah
sangarnya pria kurus itu menatapku sambil berteriak lantang dengan bahasa
indonesia yang susunan kalimatnya kacau balau. Tubuhku gemetar hebat dan tak
mampu menyerap kalimat yang terlontar dari mulutnya. Aku baru mengerti kalau
dia bilang bahwa aku seharusnya bekerja di meja kerja ku sendiri ketika teman
yang ku bantu memberitahu maksud perkataan Mr.mi. dengan tubuh yang masih
bercucuran keringat dingin, aku berjalan lemas meninggalkan gudang penyimpanan
bahan baku. Semua orang menoleh kearahku saat aku melintasi area produksi.
Sungguh, hari itu tak akan pernah ku lupakan. Hari dimana untuk pertama kalinya
aku dibentak begitu keras oleh orang lain selain ibuku. Bahkan ibu ku saja
tidak pernah berteriak sekeras itu. Aku benar-benar merasa dipermalukan. Sekuat
mungkin ku tahan agar tak menangis.
Esok
harinya beberapa karyawan yang mulai akrab dengan ku menasihati agar aku tak
ambil pusing dengan sikap Mr.Mi kemarin sebab semua yang bekerja ditempat itu
pasti pernah atau akan merasakan hal yang sama.
“kalau
disini harus kuat mental, mba As. Kalau Mr.Mi atau orang korea lain marah gak
usah didengerin. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.” Nasihat seorang
teman.
Aku
hanya tersenyum. Ya, kita lihat saja nanti berapa lama aku mampu bekerja
ditempat ini jika kondisinya seperti ini.
Suatu malam sepulang kerja, aku
menghubungi adikku di cileungsi agar bisa berbicara dengan ibu. Ibu bertanya
soal tempat kerja baru ku, maka mengalirlah cerita tentang pengalamanku selama
bekerja disana. Dari mulai pengalaman baru ku bekerja sebagai marketing,
berkenalan dengan orang-orang baru, hingga pengalaman pahitku saat di omeli
Mr.Mi. ibu mendengarkan cerita ku dengan seksama. Ternyata ibu mengerti
bagaimana perasaanku karena saat muda dulu ibu pernah bekerja di perusahaan
milik korea. “kalo kerja sama orang korea mah udah biasa begitu. Ibu juga dulu
ngalamin. Di omelin abis-abisan sama orang korea.” Tutur ibu. Di akhir
kalimatnya ibu meminta agar aku bersabar dan tetap bertahan bekerja di sana.
Hari-hari kerja selanjutnya terasa
begitu berat ku jalani. Ketika orang yang biasa menangani pengiriman barang
untuk customer yang ku pegang memilih resign setelah menikah, aku semakin
kepayahan. Aku memegang dua pekerjaan sekaligus. Pertama melakukan tugas
utamaku sebagai marketing dan kedua menggantikan tugas temanku yang sudah
resign yaitu memantau raw material yang keluar masuk gudang sekaligus mengantar
barang ke customer. Dua tugas ini membuat ku lebih rentan terkena omelan Mr.Mi
dan Mr.Park selaku pemilik perusahaan tempat ku bekerja. Letak gudang bahan
baku yang ada lantai bawah dan meja kerjaku dilantai atas membuat tubuhku
mengalami keletihan yang teramat sangat setiap kali harus mondar-mandir
naik-turun tangga. Rutinitas di tempat kerja membuat kondisi kesehatan ku
terabaikan hingga akhirnya aku jatuh sakit. Tapi betapapun lemahnya tubuhku, ku
paksakan tetap masuk kerja. Aku depresi. Setiap waktu aku dihantui
teriakan-teriakan liar Mr.Mi saat memarahiku. Entah untuk keberapa kalinya aku
menangis dimeja kerja. Andai saja aku bisa seperti Mba Silvi, rekan kerja
sesama marketing yang sering juga di marahi Mr.Mi tapi ia berani membalas
teriakan-teriakan Mr.Mi dengan suara yang sama lantangnya… tapi nyatanya aku
tak bisa. Diam adalah cara terbaik untukku saat meredam emosi maupun kesedihan.
Tuhan menghadapkan ku pada dua sisi
berbeda. Pertama aku dipertemukan dengan orang-orang korea yang luar biasa
memuakkan di mataku. Tapi disisi lain, ditempat kerja itu juga aku dipertemukan
dengan orang-orang yang begitu sayang padaku. Itu kurasakan ketika para
karyawan lebih sering melakukan interaksi dengan ku. Mereka yang meminta agar
aku tetap bertahan bekerja disana. Begitu juga dipesantren tempat aku tinggal
selama bekerja disubang. Baik para santri maupun guru pembimbingku begitu
menyayangiku.
Suatu malam ibu meneleponku. Seperti
biasanya, beliau selalu bertanya apakah aku masih betah kerja disana. Tak
banyak pengalaman buruk yang ku ceritakan pada ibu dengan harapan kondisiku
tidak terlalu membebani pikirannya.
“setiap
hari ibu berdo’a supaya orang-orang korea itu berubah, gak marah-marah lagi.
Biar Atun betah kerja disana”. Tutur ibu.
“ibu
kemarin puasa khusus beberapa hari buat minta sama Allah supaya gak ada lagi orang
yang marah-marahin Atun…” lirih ibu. Aku diam. Menahan gejolak haru didada.
“amiin, mudah-mudahan dikabulkan sama Allah” Tuturku.
Beberapa waktu setelah perbincangan
dengan ibu ditelepon waktu itu, aku seperti merasa kalau do’a ibu didengar
Allah. Sikap keras Mr.Mi belakangan agak melunak. Begitu juga dengan beberapa
orang korea lainnya. Tapi kondisi menenangkan ini ternyata tidak bertahan lama.
Memasuki bulan ke empat aku benar-benar
berada pada titik yang paling menguras emosi. Karna beberapa kali kerap miss understanding dengan customer yang
ku tangani, kemarahan Mr.Mi kembali meledak-ledak. Selama tiga hari
berturut-turut aku diomeli habis-habisan diruang kerjanya yang bisa dilihat
oleh semua karyawan produksi. Puncaknya, sepulang dari mengantar barang ke
customer aku menangis histeris disamping supir yang mengantarku.
“sabarnya
ya mba As. Silahkan kalau mau nangis gak pa-pa. keluarin semua uneg-uneg nya,
jangan dipendem sendiri.” Tutur pak Budi sambil menghentikan mobilnya. Aku
menangis tersedu-sedu disebelahnya. Meluapkan semua kesedihan yang kurasakan
selama ini. Pak budi mencoba menghibur hingga akhirnya tangis ku mereda.
Tanggal 17 Januari 2013, Mr.Mi
kembali memarahiku karna masalah digudang. Untuk kali ini aku bisa menjawab
setiap teriakan-teriakan liarnya karna aku tahu persis duduk perkaranya. Dan ku
pastikan bahwa ini adalah yang terakhir kali ia memperlakukanku demikian.
Pada
beberapa karyawan yang sudah sangat dekat denganku ku utarakan pada mereka
bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bekerja di PT Dong Yang. Mereka
menyayangkan keputusanku. Tapi aku tak ingin berubah pikirian.
“mba
As jangan pergi atuh, kalau gak ada mba As kita gimana? Gak ada yang ngurusin
gudang lagi dong.. yang handle PT Sheok hwa nanti siapa…?”
Teh
Ana menatapku memohon. Wanita yang sering bersamaku digudang ini memang sudah
cukup akrab denganku.
Dengan
tekad yang sudah bulat, aku keluar dari perusahaan garment tersebut tanpa
pemberitahuan ke pihak HRD maupun atasan ku, Mr.Mi. beberapa hari setelah
kepergianku, pihak HRD PT DongYang masih memintaku untuk kembali bekerja
disana, tapi aku menolak. Sebab ditempat lain mungkin aku akan lebih dihargai.
Aku belum mengabari ibu tentang hal
ini. Hingga aku tiba di rumah kakak ku di Cileungsi, aku baru memberi tahu
kalau aku sudah tidak bekerja lagi. Ibu memang menyayangkan keputusanku, tapi
ku tahu ibu tetap berharap yang terbaik untuk anak-anaknya.
Ku sebut ini sebagai hari
ketenangan. Hari-hari yang ku jalani setelah aku tidak lagi bekerja di tempat
yang membuatku tidak pernah tenang bekerja maupun berpikir. Sambil menenangkan
diri tentunya aku juga berusaha mencari pekerjaan baru.
Dari sebuah informasi lowongan kerja
yang ku baca di salah satu group facebook, akhirnya aku memiliki pekerjaan baru
sebagai project admin disebuah perusahaan konsultan yang berada di daerah bogor
utara. Tanggal 11 maret 2013 aku mulai bergabung di perusahaan tersebut.
Tempat
kerja baru ini mengingatkan ku pada ibu. Pada doa yang pernah dituturkannya
saat aku masih bekerja di perusahaan lama. Disini aku merasa bahwa tuhan
mengabulkan doa yang ibu panjatkan untukku. Saat aku dipertemukan dengan
orang-orang yang baik, dan bekerja dibawah pimpinan orang-orang baik yang
setidaknya tidak pernah ku dapati mereka berteriak marah sehebat Mr.Mi. Saat
berkumpul dengan rekan sesama, aku merasa seperti ada ditengah-tengah
keluargaku sendiri. Puji syukur tak habisnya ku panjatkan pada Allah yang telah
memberi begitu banyak pelajaran dalam pengalaman hidup yang pernah ku lalui.
Juga pada ibu yang tak pernah berhenti berdoa untuk anaknya.
Ibu, aku mencintaimu... sangat mencintaimu.
Bogor, 8 Juni 2013
0 komentar:
Posting Komentar