One Night at the Bus

Posted by Violet 15.54, under | No comments

Untuk ketiga kalinya aku menghabiskan libur akhir pekan di Purbalingga, dirumah kakakku. Rencananya minggu sore aku akan pulang ke cileungsi karena senin pagi sudah harus masuk kerja lagi, oleh karena itu minggu siang kak Agus, kakak iparku membelikan 1 tiket bus untukku di Bukateja, daerah yang agak jauh dari tempat tinggal kakakku. Seperti biasanya, aku menggunakan bus Sinar Jaya. 
Saat menerima tiket dari kak Agus, ada rasa khawatir yang sedikit mengganggu. Dilembar tiket bus itu enggak tercantum nomor kursi untukku, itu artinya aku bisa pergi dengan bus tersebut dengan catatan aku hanya bisa duduk ditempat kosong yang enggak pasti letaknya. nah loh? Jangan-jangan kursi kosongnya ada di bagian paling belakang, atau disebelahnya nenek tua cerewet, atau disebelah bapak-bapak yang tidurnya ngorok atau disebelah cowok yang kentutnya bau? hadeeeuh..

Bus yang bakal ku tumpangi dijadwalkan berangkat pukul lima sore, jadi setengah jam sebelumnya aku berangkat ke Bukateja diantar kakakku serta suami dan anaknya. Kami pergi dengan sepeda motor. Aku dibonceng mbak Mimi, adik kandung kak Agus, sementara kak Agus membonceng kakakku dan putranya. Tiba di Bukateja, kulihat sudah banyak calon penumpang yang datang dengan bermacam bawaan mereka yang kelihatan baru pulang kampung. Aku duduk dikursi panjang yang ada didepan salah satu toko, membaur dengan orang-orang. Kami semua menunggu. Pukul setengah enam sore belum ada satu bus pun yang datang. orang-orang yang mengantarku mungkin lelah menunggu dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang sebelum melihatku naik ke dalam bus.
"gue balik dulu ya, dah sore. kasian anak gue. nanti klo ada apa-apa lu sms gue aja ya." Kakakku pamit pulang. "iya teh. ya udah sana. Jazakallah dah dianterin. " Aku menyalami mereka sebelum berpisah.

Hari semakin gelap, bus-bus yang akan mengangkut penumpang akhirnya mulai berdatangan satu persatu.
"lebak bulus, bulus, bulus...." Seorang agen berteriak dipintu bus yang berhenti tak jauh dari tempatku duduk. 
"kali deres, deres,deres..." sambung yang lain dari bus sebelahnya. Oh God, Aku mulai bosan. Entah ini bus yang keberapa yang datang tapi lagi-lagi bukan jurusan Cileungsi. Berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, aku belum pernah menunggu selama itu. Semua penumpang sudah terangkut ke tujuan masing-masing, hingga yang tersisa hanya tinggal aku dan seorang cowok yang masih setia menunggu bus sinar jaya jurusan Cileungsi datang. Karena mulai khawatir, aku bertanya ke salah satu petugas disana, tapi dengan santainya dia cuma bilang "iya tunggu sebentar lagi ya mba. mungkin macet..." huffffh... harus nunggu berapa lama lagi ieu..


Sesekali aku dan si cowok yang sama-sama nunggu bus Cileungsi saling bertatapan. Kami harap-harap cemas pastinya. Kesel dan capek pula. Hingga pukul 7.30 malam bus yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Kakakku meminta agar aku pulang lagi saja kerumah dia dan keberangkatan minta diundur hingga besok. tapi aku menolak karena besok harus masuk kerja. Well, aku masih setia menunggu. Angin kencang bertiup beraturan. Membawa udara dingin yang seakan siap menurunkan curah hujan. 

***
Pukul 20.00, gerimis mulai turun saat ku lihat sebuah bus datang memasuki area parkir. Semoga ini yang ditunggu-tunggu. Ternyata itu bukan bus yang ku harapkan. Seorang petugas menghampiriku dan cowok yang menunggu bersamaku, Petugas itu mengatakan kalau kami bisa naik bus tersebut dan nanti transit di Cibitung. Aku dan si cowok setuju. So, it's time to go. 
Seorang kenek bus segera turun dan membantu membawa barang bawaanku ke atas bus sebelum akhirnya dia meminta ku menunjukkan tiket. Pintu pun ditutup dan bus segera melaju kembali.
Karena dilembar tiket yang kupunya tak tercantum nomor tempat duduk, aku mulai menyisir semua kursi dari depan kebelakang sambil menenteng bawaanku yang cukup banyak. Ku lirik ke kanan dan kiri mencari tempat duduk yang kosong. Cowok yang bersamaku beruntung karena sudah lebih dulu mendapat tempat duduk. Setelah mencari-cari akhirnya aku dapat tempat duduk meski hampir dibelakang. Tapi... napasku mendadak sesak. Keberadaan bangku kosong ini tidak sama dengan yang ku bayangkan sebelumnya, tapi mungkin lebih buruk. Aku duduk dideretan dua bangku. Disebelah tempat dudukku sudah ada seorang cowok yang bertubuh sangat besar tengah melamun menatap keluar jendela.
Saking gendutnya orang ini, dia bahkan nyaris menghabiskan dua kursi untuk badannya. alamaaak.. Ini untuk pertama kalinya aku bersyukur memiliki badan yang sangat kurus. Saat duduk, cowok gendut itu sempat menoleh sesaat kearahku. Tapi dia tak sempat membalas senyumku karena langsung menatap keluar jendela lagi. 
Hhh.. yasudahlah bung. aku tak memaksamu membalas senyumku.

Aku menata barang bawaanku yang ku letakkan dibawah tempat duduk. Ku atur posisi duduk diatas sedikit ruang yang disisakan si cowok gendut disebelah kiriku. Bismilah, Perjalanan dimulai. 


***
Aku sangat menyukai perjalanan jauh dimalam hari. Selain lalu lintasnya yang jarang macet, polusi juga tak separah disiang hari. Apalagi perjalanan Purbalingga-Cileungsi bisa memakan waktu hingga sepuluh jam lebih. Waktu yang lama ini nggak bakal terasa karena semalaman kita bisa tidur dibus. Kenyamanan yang selalu ku dapat setiap kali bepergian dimalam hari sepertinya tak kurasakaan saat itu. Malam dimana aku berada didalam bus dan duduk berdampingan dengan cowok gemuk yang membuatku nyaris jatuh kelantai bus lantaran kehabisan tempat duduk. Huh... harusnya yang duduk dideket jendela itu aku, bukan dia. hiks... 


Malam itu bus melaju dengan kecepatan sedang. Sejauh ini, selain sempitnya tempat duduk, aku tak memiliki keluhan apa-apa lagi selama cowok gemuk disebelah ku itu tidak terjaga dari tidurnya. Karena setiap kali membuka mata, cowok itu akan menggerakkan badannya untuk mendapat posisi duduk paling nyaman. Dan sialnya, setiap kali cowok itu bergerak, aku selalu terdorong keluar tempat duduk yang nyaris membuatku jatuh untuk kesekian kalinya. heeuh, sabar..sabar.
Satu jam berlalu. Hujan sudah reda sejak tadi ketika supir bus memasuki area pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Kesempatan ini dimanfaatkan betul oleh para pedangang asongan yang menjajakan dagangannya dimalam hari. Beberapa penjual makanan masuk kedalam bus. Sambil meneriaki dagangan mereka, dihampirinya satu persatu para penumpang. Ketika mendengar nama 'getuk goreng' dijajakan penjualnya, cowok gendut disebelahku langsung membuka mata dan mencari arah suara. Gayung bersambut. Membaca gelagat pria disebelahku, sipenjual langsung menghampiri.
"Harga nya berapa pak?"
"2000 sebungkus pak."
"klo gitu saya beli dua bungkus pak."
Sebuah transaksi kecil antara cowok gemuk disebelah kiriku dengan bapak-bapak penjual getuk terjadi didepan mataku. Biasa saja memang, tapi efek yang timbul dari transaksi ini membuatku ingin muntah. gimana enggak, saat hendak membayar makanan yang dibelinya, si cowok gendut mengulurkan tangan kanannya tinggi-tinggi hingga ketiak dari lengannya yang besar berada tepat didepan wajahku, lalu menyerahkan uang lima ribuan kearah si penjual yang berdiri disamping kananku. Aku merasa seluruh isi perutku berebut keluar hendak muntah saat dengan jelas hidungku menghirup aroma ketiaknya. 
Emaaaaaaak.. ini bau ketek orang, ketek kebo apa bau sampah bantar gebang?? enggak perduli sama perasaan si cowok gendut, spontan aku menutup seluruh wajahku saat ketiaknya belum juga hilang dari peredaran mataku karena dia harus mengambil kembalian yang diserahkan penjual getuk. Sejak duduk disini aku memang seperti mencium bau yang sangat tak enak. dan ku pikir bau itu timbul dari luar bus yang masuk kedalam melalui jendela yang dibuka si cowok ini. Ternyata... 


Pukul 11 malam bus tiba di Rumah makan khusus Sinar Jaya yaitu RM Panorama prupuk, Tegal.  Hampir semua penumpang turun dari bus. Ada yang hendak solat, makan, ke toilet atau sekedar mencari udara segar diluar. Sementara aku memilih tetap ditempat untuk menjaga barang bawaanku. Aku beranjak dari kursi ketika cowok disebelahku hendak turun dari bus. ah senangnya.... moment tanpa cowok gendut disebelahku itu kumanfaatkan untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya dari jendela mobil. 
Setengah jam berlalu.
Para penumpang kembali ke tempat duduk masing-masing. Setelah semuanya di cek oleh seorang petugas dan dianyatakan siap berangkat, bus pun kembali melanjutkan perjalanan. Udara yang sempat terasa panas selama beberapa jam tadi kini mulai terasa dingin. 
Aku melihat kesekeliling, lampu-lampu dibagian atas penumpang dimatikan oleh supir bus dan semuanya menjadi gelap dan sunyi. Aroma tak enak dari tubuh cowok disamping kiriku itu masih tercium jelas. Membuatku sulit memejamkan mata meski sebenarnya aku sangat ngantuk dan ingin tidur. Ku serongkan tubuhku kekanan dengan harapan penciumanku tak lagi menangkap aroma bau badan dari si cowok gemuk, dan ternyata berhasil.
Aku mendekap erat tas yang ada dipangkuanku sebelum akhirnya aku tertidur pulas didalam bus. 

***

Pukul 5.00 pagi bus memasuki area Pool Cibitung, tempat bus-bus Sinar Jaya menaikkan, menurunkan atau untuk transit penumpang. Bus berhenti dan para penumpang turun satu persatu. Termasuk aku. 
Aku berjalan tertatih-tatih membawa barang bawaanku yang cukup banyak, mencari tempat untuk ku beristirahat sejenak. Didepan pos yang letaknya persis di dekat pintu gerbang masuk bus, aku duduk dikursi panjang yang ada disana bersama dua penumpang lain. Saat duduk itulah aku teringat sesuatu. Yup, aku belum mengabari kakaku kalau aku sudah tiba di Cibitung dengan selamat. Aku bermaksud hendak mengambil handphone yang ku simpan didalam tas saat aku menyadari ada sesuatu yang hilang. Dompet, dompetku tak ada didalam tas.Aku mencoba untuk tak terlihat panik saat tanganku terus merogoh isi tas berharap dompet kesayanganku masih ada disana, ternyata nihil. Aku benar-benar lemas saat itu. Bahkan niat untuk segara mengabari kakakku pun ku urungkan lantaran aku syok berat. Seorang petugas berpakaian hitam menghampiriku. 
"mbak mau kemana?" Tanya nya lembut.
"saya mau ke cileungsi pak. Bus yang ke cileungsi udah dateng apa belum ya, pak?"
"waduh, bus nya udah dateng dari jam 4 tadi mbak. udah pergi lagi. wah mbak ini kesiangan." Petugas itu lalu mengarahkan pandangannya pada bus-bus yang berjajar di depan kami. "Nah, naik itu aja mbak, bus yang ke terminal bekasi.Nanti dari terminal baru naik angkutan biasa yang ke cileungsi." Aku mengangguk lalu tersenyum pada bapak petugas itu lalu beranjak menuju bus.


Aku berjalan menyusuri badan bus mencari tempat duduk yang kosong. Rupanya hanya ada sekitar sepuluh orang di bus tersebut yang sudah mengisi bagian depan kursi-kursi penumpang. Aku memilih duduk sendirian di deretan tiga bangku agar bisa bergerak bebas. Setelah duduk dan bus mulai melaju, aku membongkar satu persatu barang bawaanku.Pertama-tama aku membongkar tas besar yang berisi pakaianku. Dengan rapi ku keluarkan isinya sedikit demi sekdikit, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan dompet lalu menyimpannya. Tas pertama telah selesai dibongkar tapi dompet ku tak juga ditemukan. Aku beralih pada tas besar kedua yang berisi oleh-oleh dari Purbalingga. Harapan terakhirku ada pada tas ini. Tanganku masih terus mencari hingga air mata mengalir begitu saja saat ku tahu pencarianku sia-sia. Aku yakin sekali kalau dompetku telah dicuri orang.
Seingatku, terakhir kali aku membuka dompet dan mengambil uang yaitu saat masih di Bukateja. Waktu itu aku membeli air mineral dan tissue disalah satu toko yang ada disana menggunakan uang sepuluh ribu rupiah. Lalu dompet ku masukan kedalam tas dilenganku sedangkan uang kembalian yang hanya empat ribu rupiah ku masukkan kedalam saku baju.Kesimpulannya, saat aku masuk kedalam bus pertama dompetku masih ada didalam tas. Aku lalu mengingat kembali saat-saat yang ku lalui selama didalam bus Sinar Jaya pertama. Saat aku masih tersiksa karena bau badan cowok gendut disebalah kiriku, hingga saat aku tertidur pulas di bus.
Cowok gendut disebelah ku kah yang mengambilnya....? Sepertinya bukan. 
Tiba-tiba aku diingatkan pada sesuatu. Saat di bus, demi menghindari bau badan si cowok gendut, aku duduk menyerong ke kanan. Kearah kursi berjajar tiga. Posisi tasku waktu itu masih dipangkuanku dengan resleting yang tertutup rapat dan talinya yang kuselempangkan ditangan kiri. Sebelum tertidur, beberapa kali mataku berpapasan dengan tatapan seorang pria yang duduk dideretan tiga bangku tak jauh dariku. Tatapan pria itu aneh, dan yang lebih aneh lagi adalah posisi duduknya yang justru menghadap ke barisan kursi belakang tempatku berada. Aku kesulitan mengenali wajah pria bertopi dan berjaket coklat tua itu karena saat itu bus dalam keadaan gelap. Tak mau ambil pusing dengan pria itu, aku memilih tidur. 
Aku sempat bangun beberapa kali ketika bus melewati tikungan tajam. Saat itulah ku cek barang bawaanku untuk meyakinkan kalau semuanya masih lengkap. Aku sedikit kaget ketika melihat tas dipangkuanku terbuka. Tapi karena posisinya yang tak berubah, aku tak punya pikiran jelek apa-apa dan segera menutupnya kembali dan melanjutkan tidur.


***

Dengan perasaan sedih, Aku merapikan isi tas besar yang baru saja ku bongkar. Bagaimanapun dompetku sudah tak ada. meski begitu aku bersyukur karena sipencuri tak mengambil handphone yang diletakan bersama dompet. Aku segera menelepon kakakku di Purbalingga. Sambil tersedu-sedu, kuceritakan apa yang baru saja ku alami. Beberapa penumpang yang ada didepanku tampak menghujaniku dengan tatapan penuh tanya. Saat berbicara ditelepon, aku memang tak mampu lagi membendung emosi dan air mata. Perasan sedih, marah, bingung bercampur jadi satu. Terang saja aku sangat terpukul. Selain berisi uang simpananku untuk seminggu kedepan, didompet itu juga berisi uang yang dititipkan kakakku untuk diberikan pada ibu. Dan selain itu ada KTP, kartu ATM, Kartu Jamsostek dan beberapa lembaran penting yang ku susun rapi didalam dompet. 

Aku berhenti menangis dan segera memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke cileungsi. Aku memeriksa saku baju dan celana. Hanya uang empat ribu rupiah yang kutemukan disaku kanan bajuku. Dan itu tak cukup sampai ke cileungsi. Bingung yang luar biasa membuat mataku kembali basah. Ya Allah..bagimana ini?


Ponselku berbunyi. Abangku yang tinggal dipondok gede menelepon.
"Assalamu'alaikum, Neng." Sapanya dengan suara yang terdengar agak panik.
"Wa'alaikumsalam. ya 'a?"
"Tadi Nina telepon aa, ngejelasin semuanya. sekarang kamu lagi dimana?"
"masih di bus Sinar Jaya yang ke terminal Bekasi,'a."
"Ya udah, nanti klo udah diterminal, kamu tunggu didepan kampusnya hadi ya. Kampus Politeknik Gunakarya. Nanti 'aa suruh Hary jemput kamu. Udah tenang aja. Jangan nangis lagi ya. "
Aku mengiyakan ucapan abangku sebelum pembicaraan kami ditutup dengan ucapan salam darinya.


Tiba diterminal Bekasi, aku berjalan menuju kampus tempat kuliah Hadi, putra pertama abangku. Sekitar pukul 6.00 pagi, aku melihat Hary, putra kedua abangku datang menghampiri dengan mengendarai motor satria. Kami berbincang beberapa saat sebelum akhirnya aku meminta Hary agar mengantarku ke kantor polisi untuk membuat surat keterangan. Lanjut dari sana, Hary mengantarku pulang ke Cileungsi. 


***
Semua yang ku alami selama dalam perjalanan pulang dari Purbalingga membawa banyak pelajaran berharga untukku. Diantaranya mengingatkan aku agar lebih waspada dan berhati-hati dalam membawa barang bawaan. 
Ini memang pengalaman yang tak menyenangkan. Tapi bukan berarti aku kapok pergi jauh-jauh dimalam hari. Karena beberapa bulan setelahnya aku kembali pergi ke Purbalingga dengan tujuan yang sama. Refreshing. Semoga selanjutnya pengalaman buruk itu tak pernah terulang lagi.  

***



Cileungsi, 26 Januari 2012



Jalan Terbaik Untukku

Posted by Violet 09.42, under | 2 comments

Hari-hari ditempat kerja yang cenderung jauh dari kesibukan membuatku lebih banyak menghabiskan waktu kerja hanya untuk berjelajah didunia maya. Entah itu chatting, browsing, blogging atau sekedar facebook-an.
Aku bekerja sebagai admin gudang disebuah perusahaan keramik yang cukup besar di daerah Cileungsi. Job desk ku tak banyak, dan biasanya tugas utama yang diberikan oleh atasanku dapat terselesaikan hanya dalam waktu satu atau dua jam saja.

Suatu siang, seusai makan siang dikantin pabrik aku kembali kemeja kerja. kembali ku tatap layar komputer yang setengah jam lalu ku tinggalkan. Ku arahkan kursor pada kolom home dan mulai mengetik www.facebook.com. Enter.
Saat sedang asyik menjelajahi facebook, satu notification muncul dilayar. ku buka, seorang teman baru saja menulis satu postingan di salah satu group. Informasi lowongan kerja rupanya.

'Lowongan kerja untuk admin di PT Multistrada Arah Sarana Tbk. Syarat: Wanita, Lulusan Bogor Educare. Fasilitas berupa Gaji pokok, makan dan uang transport. Yang berminat bisa datang langsung tgl 19 September bertemu dengan ibu dian. info lebih lanjut hubungi Sri prahastuti, 0812xxxxxx'

Hmm.. cukup menarik. Belakangan ini aku memang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan baru. Alasannya karna upah yang ku peroleh ditempat kerja saat ini tak bisa memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari dan keluargaku. Aku mengenali contact person yang tertera dipengumuman tersebut.
Sri prahastuti atau yang biasa dipanggil riri kebetulan adalah salah satu temanku sewaktu kuliah di Bogor Educare (BEC). Maka begitu mendapat informasi tersebut aku langsung menghubunginya.

19 September 2011

Senin pagi Aku sudah siap berangkat ke perusahaan yang akan ku lamar. Dengan membawa berkas lamaran kerja yang sudah disiapkan dua hari sebelumnya, aku berangkat bareng riri. Perusahaan tempat riri kerja yaitu PT Multistrada Arah Sarana Tbk atau yang biasa disingkat dengan MASA berlokasi di Lemah Abang, Cikarang sedangkan aku tinggal di Cileungsi. biar nggak telat tiba disana, aku menginap di kosan riri yang letaknya tak jauh dari lokasi pabrik.

Dari beberapa keterangan yang Riri ceritakan, di perusahaan itu aku bisa memperoleh gaji dua kali lipat dari gaji yang kuperoleh ditempat ku kerja saat ini. ditambah lagi tunjangan-tunjangan lainnya. Jadilah aku semakin bersemangat.

Hari ini untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki diperusahaan yang memproduksi ban tersebut.
"Lo jangan heran ya as, di tempat kerja gue gak ada nama PT nya loh didepannya." terang riri saat kami berada dalam bus yang mengantar kami ke tempat tujuan. "masa sih, Ri? Pabrik besar kaya gitu gak ada namanya? aneh bener..." komentar ku.
Kalau saja aku tak datang bersama Riri, mungkin aku akan kesasar sebab seperti apa yang Riri bilang, meski ini pabrik besar, aku tak menemukan ada plang atau apapun yang bertuliskan nama perusahaan tersebut didepannya.

Saat memasuki area pabrik, aku sempat tertahan di pos satpam selama beberapa saat. Mereka meminta ku untuk meninggalkan kartu identitas disana, entah itu KTP, SIM atau kartu identitas lainnya namun aku tak memiliki semuanya. KTP ku hilang beberapa waktu lalu bersama dompet yang membawanya didalam sebuah bus. sedangkan SIM, aku memang tak punya kendaraan pribadi, jadilah aku dan Riri kebingungan. Lama aku membujuk satpam penjaga agar mengizinkan ku masuk untuk mengikuti tes recruitment disana hingga akhirnya mereka mengizinkan ku masuk setelah menelepon sesorang, mungkin bagian personalia. Entahlah.

"Good Luck ya As!" Riri tersenyum memberi semangat.
"iya. Thanks ya Ri dah bantuin gue." ucapku sambil menjabat tangan Riri dan kami pun berpisah karena Riri harus bergegas ke ruang kerjanya.

***
Aku memasuki sebuah gedung berwarna biru. Disana seorang receptionist memberi tahu dimana aku harus menunggu. Aku naik ke lantai tiga, dan ketika menemukan ruangan yang dimaksud, aku segera masuk dan membaur bersama puluhan calon karyawan yang juga akan mengikuti tes hari itu. Aku dan calon karyawan lainnya langsung menjalani tes recruitment berupa psikotes dan tes komputer.
Menjelang sore, semua tes telah selesai dan aku kembali ke Cileungsi.

Dua hari sejak mengikuti tes recruitment, pihak MASA menghubungiku. Melalui pesan singkat yang dikirim ke ponselku, Aku diminta datang kembali untuk mengikuti wawancara kerja. Aku sangat gembira menerima kabar tersebut dan rasa optimis dalam diripun kian tinggi. Setiap usai melaksanakan shalat ku panjatkan do'a pada Allah agar semua proses yang akan ku jalani dapat berjalan lancar sehingga aku bisa diterima bekerja disana dengan harapan kondisi ekonomi keluargaku akan jauh lebih baik. Dan demi memaksimalkan semua usaha ku, aku bahkan harus bolos kerja berkali-kali untuk memenuhi panggilan recruitment pihak MASA.

23 September 2011

Hari ini aku bolos kerja lagi sebab harus datang untuk wawancara di MASA. Untung saja kemarin Aku sudah meminta izin pada atasanku dengan menceritakan keadaan yang sebenarnya dan beliau mengizinkan.

Bismilah... Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah, tak lupa Ku cium tangan ibu sambil minta di do'akan agar aku diberi kemudahan. Ibu tersenyum meyemangati. Pukul 7 pagi aku berangkat dari cileungsi menuju Lemahabang. Setelah perjalanan selama dua jam, sampai juga aku di MASA. Sambil tergesa-gesa lantaran waktu sudah menunjukan pukul 9.30, aku bergegas memasuki gedung utama. Aku sudah telat setengah jam. Setibanya dilantai dua, Aku langsung bergabung dengan sekelompok calon karyawati yang juga akan menjalani wawancara kerja. Aku menarik nafas lega. Saat ku tanyakan pada seorang calon karyawati, dia bilang wawancara belum dimulai, jadi aku belum terlambat.

Satu persatu dari kami dipanggil ke ruangan yang telah ditentukan. Selama menunggu giliran, aku banyak berbincang-bincang dengan teman seperjuangan yang duduk disamping kanan kiriku. Kami semua berjumlah 12 orang. Ada yang datang dari Karawang, Bekasi, Cibitung, bahkan adapula yang datang dari surabaya. Hmm.. Luar biasa semangatnya.

Dua jam berlalu terasa sangat lama dan aku masih menunggu hingga hari semakin mendekati waktu shalat jum'at. enam orang telah selesai diwawancara, masih tersisa enam orang lagi termasuk aku. Akhirnya aku dan lima orang yang tersisa memutuskan untuk mencari makan siang disekitar pabrik setelah kami diberi tahu oleh pihak HRD bahwa sesi wawancara akan dilanjutkan ba'da shalat jum'at dan kami diminta berkumpul kembali pukul satu siang.
Awalnya aku ragu membeli makan siang karna uang yang ku punya hanya tersisa untuk ongkos pulang. Tapi kondisi badanku yang terasa lemas karena tadi pagi tak sempat sarapan membuat ku nekat. Aku harus makan, dan soal ongkos pulang nanti bisa dipikirkan belakangan.
Seusai makan siang ku tunaikan shalat zuhur dimushala yang ada didalam gedung utama. Tak lupa kupanjatkan do'a agar Allah memudahkan segala urusanku.

Waktu terus berjalan dan sesi wawancarapun berlanjut. Seorang teman yang bernama Tyas beruntung karena menjadi yang pertama dipanggil diantara kami berenam. Sekitar lima belas menit kemudian Tyas keluar dari ruangan dan memberi tahu kami siapa yang selanjutnya diwawancara. Anehnya, seusai wawancara Tyas tak langsung pulang.

"gimana tadi wawancaranya? susah nggak pertanyaannya? ada itung-itungan nggak?" beberapa teman yang duduk bareng kami membanjiri Tyas dengan beraneka pertanyaan. "nggak, biasa aja kok. gitu-gitu doang pertanyaanya." Tyas menjawab santai.
"eh, tapi bu Dian bilang aku disuruh nunggu lagi disini. gak tau deh mau ngapain. mau ngapain ya..." Tyas diam sesaat tampak berfikir.
Bukan hanya Tyas, kami yang lain pun keheranan. Masalahnya kondisi ini berbeda dengan teman-teman yang sudah wawancara duluan, begitu selesai wanwancara mereka langsung pulang. Katanya pihak MASA bakal menghubungi mereka dalam beberapa hari kedepan jika mereka memang dinyatakan lolos.

Satu persatu dari kami telah selesai di wawancara dan semuanya diminta menunggu lagi termasuk aku yang paling terakhir dipanggil. Kami berenam menunggu lagi dengan harap-harap cemas.
Perasaan ku benar-benar tak karuan saat itu. Satu sisi ada perasaan lega dalam hati karna saat wawancara tadi aku bisa mengontrol diri agar tak gugup hingga bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Namun disisi lain ada perasaan takut yang menghantui. Aku sudah melewati tahap wawancara, dan itu artinya, ini adalah wawancara recruitment yang ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir yang pernah ku lalui setelah dua kegagalan yang ku alami sebelumnya. dulu Aku gagal diterima bekerja disebuah perusaan kabel dan beberapa waktu kemudian aku gagal lagi diterima diperusahaan elektronik. keduanya gagal pada sesi wawancara.

Hari mendekati sore, semua peserta yang tersisa dikumpulkan dalam ruangan tempat kami melakukan wawancara tadi. diruangan inilah seorang staff HRD memberi pengarahan pada kami. Kami diberi tahu oleh beliau bahwa kami berenam ini adalah para peserta yang telah lolos seleksi pada sesi wawancara dan hanya tinggal menjalani satu tahap lagi sebelum dinyatakan bisa diterima bekerja disana. Kami harus melakukan MCU (Medical chekup). Tahap ini membuatku tak kalah waswas. Aku pernah menjalani MCU sekitar 1,5 tahun yang lalu, tepatnya saat melamar ditempat ku bekerja saat ini. Meski hasilnya bagus, tentu saja itu tak bisa menjamin apakah kesehatanku sekarang masih sama dengan yang dulu. Meski begitu aku tetap optimis dan yakin kalau Allah pasti akan memberiku yang terbaik.

Setelah mendapat surat pengantar untuk chek up dirumah sakit yang telah ditentukan, aku dan lima orang lainnya kembali ke tempat masing-masing.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu... Ya Allah, uangku tak cukup untuk ongkos pulang.
Ku lirik arloji yang melingkar ditangan, sudah pukul 16.30. Aku termenung beberapa saat, bingung. ku telusuri isi tas yang kubawa sambil berharap ada uang yang terselip, ternyata tak ada. Perasaanku semakin tak karuan. ku periksa satu persatu saku celana dan.. Alhamdulillah, aku gembira luar biasa karena menemukan uang sepuluh ribu rupiah disaku belakang celanaku.

24 September 2011

Hari ini aku mandi pagi-pagi sekali. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, Pukul 8 pagi aku harus sudah tiba di RS Harapan Keluarga yang berlokasi di kawasan jababeka, Cikarang untuk melakukan medical chekup. Dan itu artinya, aku harus bolos kerja lagi. Ya, karna ini hari sabtu sedangkan aku bekerja selama enam hari dalam seminggu.
Tiba dirumah sakit, aku bertemu dan berkumpul dengan teman lainnya, Tyas, Dian, Asri, Heny dan Fatma. Setelah melakukan konfirmasi dengan petugas RS, kami pun duduk ditempat yang disediakan untuk menunggu giliran.

Hari sejak dilakukannya medical chekup menjadi hari yang paling mendebarkan sepanjang sejarah hidupku dalam hal mencari pekerjaan. selama 24 jam sehari ponselku tak pernah sekali pun tidak aktif. Harapanku hanya satu, suatu saat pihak MASA akan menghubungiku kembali untuk memberi tahu bahwa aku dinyatakan lolos MCU dan bisa diterima bekerja disana.

Ponselku berbunyi, satu pesan masuk.
'Mba, gimana, udah ada kabar? diterima gak?'

SMS dari Heny, salah satu teman yang turut melamar bersamaku.

'Belum ni mba, kok lama ya.. udah hampir dua minggu. mba sendiri gimana? udah dikabarin?'
'Belum juga. aku sms ke temen2 yang lain juga katanya belum pada dikabarin. yadah, kita sabar.'

hhh... aku menarik nafas dalam-dalam. Always positif thinking, Astria!
Dalam harapan panjangku, aku tetap berusaha untuk berprasangka baik pada Allah. Allah pasti akan mengabulkan do'aku.


29 Oktober 2011

Ku rebahkan tubuh diatas kasur yang ada disudut kamar kos, mencoba melepas lelah yang menyelimuti tubuh. Harusnya aku sudah bisa pulang sejak siang tadi karena jam kerja dihari sabtu hanya setengah hari. Tapi berhubung masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, aku baru pulang pukul enam sore.
Dering lagu Friend or Foe nya Tatu terdengar nyaring di ponselku. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo" Sapaku pada si penelepon.
"Selamat sore! bisa bicara dengan mbak Astria?" sebuah suara ramah seorang pria terdengar dari sebrang.
"ya saya sendiri. ada apa ya?"
"Saya Rio, dari PT Multistrada Arah Sarana Tbk."
Jantungku tiba-tiba berdebar kencang, "oh pak Rio. ya ada apa pak?"
"begini mba, setelah kami menerima hasil medical chekup dari pihak RS, ternyata kami menemukan ada masalah pada kesehatan mba astria."
"Oh.., gitu ya pak. " Aku lemas.
"iya, tapi pihak kami masih memberi kesempatan mba untuk melakukan tes darah ulang. dan hasilnya kami tunggu sampai hari jum'at depan."
"hmm... tes darah aja ya pak? yang lainnya nggak perlu?"
"ya mbak. tes darah saja. tapi tes darah lengkap ya. mulai sekarang diusahakan banyak mengkonsumsi zat penambah darah. tes nya bisa dilakukan di RS yang kemarin, RS harapan Keluarga. Tapi mohon maaf, untuk chekup kali ini tidak dibiayai oleh perusahaan melainkan dari mbak sendiri." Pak Rio menjelaskan panjang lebar.
"klo tes nya di RS yang deket-deket sini boleh nggak pak?"
"ya boleh-boleh saja. Yang penting jangan lupa, hasilnya diserahkan hari jum'at depan tanggal 4 November. "
Oke pak. terimakasih banyak"
"ya sama-sama. selamat sore!"

Aku menarik nafas panjang. meski kabar yang ku terima barusan sedikit mengecewakan, tapi aku juga tak kalah senang. mereka masih memberi kesempatan padaku untuk melakukan tes darah ulang. itu artinya aku masih punya kesempatan.

3 November 2011

Sehari sebelum berangkat ke cikarang untuk menyerahkan hasil tes darah, aku masih diliputi kebingungan. Hari ini juga aku harus pergi ke RS, tapi bagaimana bisa berangkat kalau sekarang saja aku tak punya uang sama sekali untuk biaya tes darahnya yang aku sendiri belum tau berapa biaya yang harus ku keluarkan?
aku terus memutar otak. Berpikir harus kemana mencari pinjaman. pagi-pagi aku sudah menelepon teman-teman terdekat agar bisa meminjamkan ku uang tapi hasilnya nihil. Aku tak bisa menyerah begitu saja. ku coba meminjam ke beberapa teman kerja dan akhirnya aku berhasil. setelah mendapat pinjaman uang, aku segera meminta izin pada atasanku untuk keluar pabrik selama kurang lebih dua jam. Dan lagi-lagi bos ku yang baik hati mengizinkan.

***
Keesokan harinya aku menyerahkan hasil tes darah yang kemarin ku lakukan di RS MH Thamrin yang letaknya kebetulan tak jauh dari tempat tinggalku. Kembali berbekal pengharapan yang begitu besar, aku berangkat ke Lemahabang.

Setelah menyerahkan hasil tes darah ke MASA, hari-hari yang ku lalui menjadi hari yang kembali dipenuhi dengan do'a dan harapan.
'Ya Allah, aku telah berusaha semaksimal mungkin. Dan apapun keputusannya, ku pasrahkan segalanya pada kuasa-Mu, Rabb. Sesungguhnya Engkau lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Mu ini'
Sebenarnya kata-kata seperti ini yang harusnya ku ucapkan saat berdo'a pada Allah.. tapi tidak. Aku ingin kepastian.

"Ya Allah, telah banyak pengorbanan yang ku lakukan agar bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik. aku mohon pada-Mu ya Allah, jangan kau sia-siakan segala upayaku ini. Aku mohon! Setelah berkali-kali aku gagal diterima bekerja diperusahaan yang menurutku lebih baik, aku harap kali ini Engkau lebih bermurah hati. Berilah aku kesempatan bekerja di MASA.. aku ingin melunasi hutang-hutangku dan ibuku, ingin bisa membahagiakan keluargaku, aku mohon ya Allah..."

Sambil berlinang air mata pengharapan, kata-kata ini selalu terucap disetiap bait do'a yang kupanjatkan pada Allah. Demi terkabulnya do'aku, tak lupa ku tunaikan shalat tahajud. Memohon dan memohon. Aku juga sering shalat hajat dan memperbanyak shalat-shalat sunnah lainnya. Tak putus-putusnya lisan ini memohon pada Allah agar aku diterima bekerja setidaknya diperusahaan yang menurutku lebih baik dari tempat ku bekerja saat ini. Aku berharap ini akan menjadi jawaban atas segala kesulitan ekonomi yang melilit ku dan keluargaku. Setidaknya mungkin dengan penghasilan yang lebih baik aku dapat sedikit demi sedikit membayar hutang yang tak ada habisnya.

***

Aku mungkin punya tuhan. Ya, aku punya tuhan, tapi sayang dia tuli. Dia bahkan tak bisa mendengar do'a yang selama ini ku panjatkan setiap saat. Setelah penantian yang sangat menyiksa akhirnya aku mendapat kabar kalau aku gagal diterima bekerja di MASA. Alasannya; Aku menderita Anemia.

"Apa salahku ya tuhaaaaaaaaan.... " aku menangis sejadi-jadinya. Semua memory perjuangan yang telah ku lakukan saling berebut memenuhi otakku, membentuk sebuah atom amarah yang kian meledak-ledak didada. Aku marah pada tuhan.

Aku yang harus berkali-kali bolos kerja demi memenuhi setiap panggilan, aku bahkan harus rela dipotong gaji atas tindakan mangkir dari pekerjaan, padahal gaji ku setiap bulan sendiri tak pernah bisa menutupi kebutuhan hidup keluargaku. Aku juga harus menelan omongan pahit dari teman-teman kerja yang selalu mengejek, mencela, atau memarahi karena kelakuan ku yang sering bolos. Alih-alih demi memperoleh penghasilan yang lebih baik aku malah harus berkali-kali meminjam uang pada teman agar usahaku bisa berjalan lancar, menambah deret panjang catatan hutang yang harus ku bayar setiap bulannya.

Aku marah pada tuhan yang mentakdirkan aku seperti ini. Mungkin tuhan memang tak pernah ada. Karena jika dia ada, dia tentu sudah mengabulkan do'aku.
Lantas untuk apa semua ibadah yang telah aku lakukan selama ini? Shalat wajib yang tak lagi ku tinggalkan, shalat tahajud, shalat duha, shalat hajat dan shalat-shalat sunah lainnya. untuk apa?!
Jika dia memang ada, seharusnya dia tak membiarkan hambanya ini kesusahan. kalau begitu kata-kata tuhan yang ditulis di kitabnya itu tak terbukti, yang mengatakan kalau tuhan itu menguji hambanya sebatas kemampuan. nyatanya, demi memenuhi kebutuhan ku dan keluargaku, aku harus luntang-lantung mencari pinjaman lantaran penghasilkan ku selalu tak mencukupi. Dan setidaknya setiap bulan aku harus selalu dipusingkan dengan tagihan hutang-hutang yang terus menumpuk hingga mencapai angka tiga kali lipat dari gajiku setiap bulannya. itu artinya, jika memang tuhan itu ada, dia tidak adil karena menguji hidupku melebihi batas kemampuan. Penghasilan pas-pasan, biaya hidup yang selalu meninggi, ditambah hutang yang kian menumpuk. Harusnya dia membantuku. kesimpulannya, jika memang tuhan itu ada, sudah pasti dia itu pembohong besar .

"kamu tau nggak, klo aja tuhan itu ada, manusia itu gak ada yang hidup susah, kan katanya tuhan maha kaya. Kalaupun dia emang ada, berarti dia itu kejam banget. buktinya, dia ciptakan manusia tapi hidupnya dibikin susah. Hampir di seluruh belahan dunia ada banyak manusia yang mati kelaparan. cuma orang-orang bego yang setiap saat minta sama sesuatu yang sebenarnya gak ada. " Pak Dar, seorang teman kerja yang sangat akrab denganku terus menghujani pikiranku yang kalut. Dan sejak saat itu pula aku jadi tahu kalau dia seorang atheis.
Sementara aku yang diajak bicara tak mampu melontarkan kata-kata penolakan karna sedikit demi sedikit nalarku mulai mencerna apa yang baru saja diucapkannya. Pak Dar menatapku tajam. Mungkin dia benar....

"coba kamu pikir, orang yang hidupnya cuma berdo'a dan berdo'a tanpa usaha pasti gak bakalan sukses. tapi orang yang selalu berusaha meraih kesuksesan, meskipun dia gak pernah berdo'a, dia pasti bisa sukses. Itu artinya, peran tuhan itu gak pernah ada. semua ya tergantung manusianya itu sendiri. mau seperti apa hidupnya. Saya liat kamu sholatnya rajin, apa tuhan kamu itu denger semua permintaan kamu? nggak kan?! sekarang saya tanya, kamu percaya nggak klo hidup setelah mati itu ada?"
aku mengangguk pelan.
"hhh.. Kamu bodoh!" Pak Dar menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum sinis ke wajahku.
"Manusia kalo udah mati ya mati aja. dikubur, selesai!. Kalaupun ada yang bilang setelah mati itu ada kehidupan lagi, itu sih cuma karangan orang-orang jaman dulu aja. kita sekarang cuma nerima cerita-cerita dari orang-orang terdahulu yang kita sendiri gak pernah bisa ngebuktiin kalau itu nyata apa nggak."

Sungguh, naluri kecilku ingin sekali marah pada pak Dar yang mengatakan kalau tuhan itu tak ada. tapi sayangnya kemarahan ku pada tuhan jauh lebih besar...

***
Dulu aku bersyukur sekali pada Allah yang telah memberi kemudahan bagiku dalam mendapatkan pekerjaan seperti yang sekarang masih ku jalani ini. Dulu di pabrik keramik ini aku hanya anak magang dari sebuah yayasan pendidikan gratis bernama Bogor Educare, tapi kemudian seorang manager dari departemen warehouse menawari ku pekerjaan untuk menjadi adminnya, dan tentu saja kesempatan itu tak ku sia-siakan. Setelah masa magang selesai, aku mengirimkan lamaran. Selama sebulan ku jalani tahapan recruitment hingga akhirnya aku diterima dan menandatangani surat kontrak kerja.

Awal bulan februari 2010 Aku mulai bekerja sebagai admin dengan upah UMR perbulannya dan berstatus karyawan kontrak. Bulan-bulan pertama bekerja semuanya masih berjalan normal. Aku sangat menikmati pekerjaan yang belum lama ku jalani. Berada diruang kerja yang nyaman, job desk yang tidak banyak, ditambah adanya fasilitas internet membuatku betah dimeja kerja. Dan selain itu semua karyawan disini begitu baik dan bersahabat.

Seiring waktu yang terus bergerak, aku mulai merasakan kondisi ekonomi yang kian menghimpit. Aku mulai sadar, pengeluaranku untuk menutupi kebutuhan hidup ternyata jauh lebih besar dari gajiku. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan lain yang bisa membayarku lebih besar. paling tidak aku bisa memperoleh pendapatan yang sesuai dengan besar kebutuhanku dan keluargaku. Keinginan untuk mencari pekerjaan baru sempat ku utarakan pada pak Anton, managerku. Beliau tidak melarang, bahkan cenderung mendukung karena di tempat ku bekerja, sangat kecil sekali kemungkinan bagiku yang hanya lulusan SMA bisa diangkat menjadi karyawan tetap.

Proses pencarian dimulai. Aku menyaring beberapa informasi lowongan kerja dari berbagai sumber; dari teman-teman terdekat, dari teman-teman di facebook, dari internet dan banyak lagi. Temanku merekomendasikan beberapa perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja, dan aku mulai mengirimkan surat lamaran. Kebanyakan surat lamaran ku kirim melalui e-mail, tapi ada beberapa juga yang ku kirim melalui kantor pos atau menitipkan pada orang yang bekerja diperusahaan yang membuka lowongan tersebut.
Dulu ketika baru pertama kali mengalami kegagalan saat melamar kerja aku masih bisa ikhlas dan sabar. mungkin itu memang bukan yang terbaik bagiku dan aku yakin, selama aku terus berusaha dan selalu berdo'a, Allah pasti akan menjawab do'aku. Dan begitu pula setelahnya. Di beberapa kegagalan selanjutnya Aku juga tak terlalu kecewa karena saat melamar kerja statusku masih seorang karyawan. Namun seiring berjalannya waktu, semakin besar tanggung jawab ku terhadap keluarga, semakin giat aku mencari pekerjaan yang kurasa lebih baik, semakin banyak pula penolakan yang kuterima. Aku mulai putus asa.
Aku hanya manusia biasa, tak selamanya tegar, namun tak selalu dirundung putus asa. Semangat dan rasa optimis tertinggi ku miliki saat aku mencoba melamar di MASA. Dan semua harapan yang kupunya luluh lantak saat aku ditolak. Ya, Kondisi emosional ku berputar 180 derajat. Aku merasakan kekecewaan yang teramat besar karena dititik inilah aku melakukan pengorbanan yang tidak sedikit.

***
Ku lipat rapi sajadah dan mukena yang biasa ku pakai shalat dan menyimpannya dilemari. aku tak akan mengeluarkannya lagi. Sungguh! Bahkan Al-Qur'an yang selalu ku simpan di deretan paling depan dari buku-buku yang tersusun rapi di rak ku pindahkan ke deretan paling belakang agar tak lagi terlihat oleh mataku.
"hhh... benda tak berguna." aku tersenyum getir. Seusai merapikan kamar, Ku rebahkan tubuh diatas kasur dan kembali menerawang pada titik-titik kekosongan jiwa yang kian memenuhi ruang kehidupan ini.

"Ko gue perhatiin lo gak pernah shalat lagi sih teh?" komentar Ismail, adikku yang ke dua.
"hah, Shalat?? ,hahaha.. ngapain gue shalat?! gue udah gak percaya sama tuhan." Jawabku sekenanya dan kembali mengalihkan pandangan pada buku yang sedang ku baca. Mail bengong.
"dih parah banget sih lo, teh. gue aja ni ya, yang istilahnya masih jauh banget sama tuhan, gue masih percaya klo tuhan tuh ada. eh teh, tuhan itu ada. dia deket. ada dihati setiap manusia. cuma manusianya aja yang gak sadar."
"alah brisik. badan lo bau. sana mandi." Ku lempar handuk merah yang ada dikasur kearah Mail. Dia memang langsung pergi ke kamar mandi, tapi sambil melontarkan sederet protesnya atas pernyataanku yang bilang kalau tuhan itu tak ada.

***
Aku duduk kembali menatap layar. Chatting dengan teman-teman.
Ghamuna: assalamo'alaikom. Hi Astria. :)
Astria_90: Wa'alaikumsalam. Hi Omar, How are you?

Omar, seorang teman didunia maya yang mengaku berasal dari pakistan selalu menyapaku setiap kami sama-sama online.

Ghamuna: I am fine. n you?
Astria_90: I'm not fine. :((
Ghamuna: Why? what happen? could you tell me....?
Astria_90: I'm so sad, angry and hopeless.
Ghamuna: what happened Astria? do you have a problem? tell me please. maybe I can help you dear.

Aku menarik nafas dalam-dalam. sejak mengenal Omar, kami memang sering bertukar cerita. entah itu pengalaman yang kami lalui atau apapun. Kadang melalui chatting, telepon atau SMS. Omar menjadi teman curhat yang menyenangkan meski kami belum pernah sekalipun bertemu.

Astria_90: Omar, may I ask you?
Ghamuna: yes of course.
Astria_90: do you believe in god?, is he real?
Ghamuna: Yes Astria. God is real. Allah is our god. why? I hope averything is okay.
Astria_90: I don't believe in god, Omar. There's no god in my life. do you know? I always try to get a new job but always failed. God never heard my prayers. He let me live in misery.

Kata-kata itu ku ketik begitu saja, seiring bulir bening yang mulai membasahi pipi. beberapa saat kemudian ponselku berbunyi. Omar menelepon tapi segera ku reject.

Astria_90: don't call me please. I just wanna chatt with you.
Ghamuna: Okay. I'm sorry. Astria, don't be sad. Allah always do the best for us. Never loose hope, Ast.
Astria_90: I really don't know what should I do now...
Ghamuna: Astria, I know you're a stronger. Always be patient and never leave shalat, Ast. Allah is with those who steadfastly persevere.
Astria_90: Exactly, Omar. One side I don't wanna be a looser, but I'm so angry with god because I have done everything but I got nothing.

Omar tak langsung membalas perkataanku barusan. Aku pikir dia kehabisan kata-kata dan ternyata setelah menunggu beberapa saat, ia muncul lagi.

Ghamuna: Astria, sorry I'm going off now.
Astria_90: hhhmm.. oke, never mind. we can chatt on the next time.

Satu menit kemudian.....
Ghamuna: Hey wait.. I read something.
Astria_90: what is that, Omar?
Ghamuna: Wait... I'll copy it for you.

-Allah answers prayers in three ways. 1.Allah says yes and gives you what you want, 2.Allah says no and gives you better, 3.Allah says wait and gives you the best in his own time. :) Read it by your eyes and your heart, Ast! :)

Ku baca dengan seksama kata-kata yang Omar tulis.

Allah menjawab do'a dengan tiga cara; 1. Allah bilang 'ya' dan memberikan apa yang kita mau. 2. Allah bilang 'tidak' dan memberi yang lebih baik. 3. Allah bilang 'tunggu' dan mengabulkan do'a kita pada waktu yang tepat.

kubaca lagi, kubaca lagi dan...
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat berat menghantam kesadaran. Memecahkan semua kekosongan yang memenuhi ruang hati, menjadikannya buih-buih yang kecil yang perlahan terbang menjauh dan menyisakan bulir-bulir bening yang berkejaran menganak sungai dipipi. Allah.. Apa yang terjadi padaku...? Maafkan aku ya Rabb.....

***

Aku bersimpuh sujud ke hadapan-Nya. Memohon ampun atas semua khilaf yang selama ini memenuhi ruang hati dan pikiran. Aku tak tahu Omar itu seperti apa, aku juga tak tahu dari mana dia mendapat kata-kata penyejuk jiwa yang begitu indah itu. Yang aku tahu, Omar telah mengembalikan kesadaranku akan adanya Allah, membuatku mengerti arti sabar yang sesungguhnya, membuatku kembali menemukan semangat yang redup. Sekarang aku yakin, Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Allah bukan tak mengabulkan do'aku, tapi menggantinya dengan yang lebih baik atau menundanya hingga waktunya tiba. Subahanallah....

Aku meraih mushaf yang telah lama ku abaikan. Ku baca kembali ayat-ayat Al-qur'an dan mencoba untuk lebih mendalami artinya.
Malam itu, seusai shalat magrib ku baca surah Arrahman.
"fabi ayyi ala i robbikuma tukadzibaan: Ni'mat tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan...?"
Ayat ini membuka mataku dan menyadarkan betapa aku begitu angkuh selama ini. Aku yang jarang bersyukur atas semua karunia yang telah Allah berikan padaku.
Seharusnya aku lebih banyak bersyukur; bersyukur karena aku telah diberi pekerjaan dan memiliki penghasilan setiap bulannya sementara masih banyak orang diluar sana yang berjuang susah payah untuk memdapatkan pekerjaan, bersyukur karena aku memiliki atasan serta rekan-rekan kerja yang sangat baik, yang membuat hari-hari kerja yang ku jalani jadi menyenangkan. Selain itu, Jika bukan karena hasil tes darah yang ku lakukan kemarin, mungkin seterusnya aku tidak akan perduli pada kesehatan.

***
Dipagi yang cerah ini, ku buka jendela kantor yang menghadap ke taman kecil disamping bangunan. Angin segar bertiup lembut diudara, menerpa wajah, mengantarkan sejuk pada rerimbun pepohonan yang berjajar angkuh, membawa alam pikiran ku menerawang jauh kemasa lalu.

Waktu kecil, saat ditanya ingin jadi apa jika sudah besar nanti, dengan antusias aku menjawab, 'ingin jadi dokter'. Namun memasuki usia remaja, aku justru bercita-cita ingin menjadi seorang penulis. Keinginan itu tertanam sejak aku mengenal dan membaca buku-buku karya penulis terkenal seperti Asma nadia, Gola Gong, Pipiet Senja, dan banyak lainnya. Dan tentu saja, harapanku adalah aku bisa menjadi penulis terkenal seperti mereka. Aku teringat pada buku berjudul Langit Jingga Dihatiku karya Pipiet Senja yang pernah kubaca. Dalam buku itu Pipet Senja mengatakan 'usia sebuah buku bisa lebih panjang dari pada usia penulisnya itu sendiri'. Luar biasa!

Lalu kenapa aku harus marah pada tuhan saat berkali-kali aku ditolak diterima bekerja diperusahaan yang ku lamar? cita-citaku menjadi penulis, inilah yang harus ku perjuangkan. Bahkan seorang penulis hebat sekalipun pasti pernah merasakan jatuh bangun dalam meraih cita-cita mereka hingga nama mereka jadi besar dan bisa melekat dihati para pecinta buku.

Maafkan aku ya Rabb... Engkau pasti punya rencana yang lebih baik bagi hamba-Mu ini... Aku yakin. Someday, my dreams will come true....


Cileungsi, 11 Januari 2012

Neny

Posted by Violet 09.40, under | No comments

Aku mengenal Neny sekitar 9 bulan yang lalu. ketika gadis berusia 15 tahun itu bekerja sebagai pelayan koperasi diperusahaan tempat ku bekerja. Saat pertama kali berkenalan dengannya, gadis yang tidak pernah lulus SD itu ku kira lugu dan tak banyak bicara. tapi waktu yang terus berjalan membuat pandangan ku tentangnya menjadi berbeda. Neny gadis yang ceria. Dia tak pernah mengeluh saat harus melayani puluhan karyawan yang datang silih berganti minta dibuatkan kopi, teh manis, mie instan atau apapun. bahkan ketika dia harus bekerja sendirian karna Rosita, gadis sebayanya yang dulu bekerja bersama nya harus dikeluarkan dari pekerjaannya karna dianggap berprilaku kurang baik.


Neny tetap gadis baik, yang seiring dengan waktu dia menjadi satu-satunya teman curhatku lantaran tempatku bekerja didominasi hampir 90% kaum pria.
Setiap pagi, sebelum memulai aktifitas bekerja aku selalu mampir ke koperasi karyawan yang kebetulan letaknya berada tak jauh dari kantor ku. Biasanya dari kejauhan neny senyam-senyum melihat kedatanganku. seperti biasa juga, ucapan yang pertama terlontar darinya adalah kritikan mengenai penampilanku hari itu yang dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan, "hari ini mau sarapan apa kita?"
Hampir setiap pagi kami sarapan bersama dikoperasi. kadang kami makan ketoprak yang sengaja ku beli di penjual yang mangkal didepan gerbang pabrik, atau sarapan nasi uduk yang dijual dikoperasi.
Neny gadis yang murah hati. Pun ketika aku kebingungan mencari pinjaman uang untuk membayar sewa kosku. Neny yang upah perbulannya hanya separuh dari gajiku dengan sukarela meminjamkan ku uang meski saat dia menyerahkannya diiringi kata-kata yang mengejekku. "ih kamu mah, abis gajian ko malah pinjem uang.."
atau "aku pinjemin tapi ada syaratnya ya, sore ini pulang kerja anterin aku belanja trus uang pinjemannya dibalikin pas aku mau pulang kampung, Oke?"
Begitulah Neny, baik hati, sedikit bawel namun sangat menyenangkan untuk dijadikan teman curhat.

***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan hubungan ku dengan Neny kian bertambah akrab dari waktu ke waktu. Neny juga pernah mengajakku mengunjungi kontrakkannya dan disana aku diperlakukan sangat baik oleh Neny dan keluarganya. Segalanya masih berjalan normal hingga suatu kejadian merubah segala keakraban yang terjadi antara aku dan Neny, kenyataan pahit yang menyisakan jurang terdalam pada hubungan persahabatan kami.

Rabu, 7 Desember 2011

Siang itu aku tengah disibukkan dengan tugas kantor yang harus ku setorkan pada atasanku ketika seorang satpam datang keruanganku.
"permisi bu astria." sapanya sopan seraya menghampiri meja kerjaku.
"ya ada apa pak?"
"maaf bu, tadi sesorang menelepon saya, meminta saya untuk menjemput ibu".
"loh, kemana?" tanyaku heran.
"ke kantor PUK bu. ibu sudah ditunggu disana."
kantor PUK? kantor organisasi di perusahaan ini? ada apa?
Masih diliputi keheranan yang teramat besar ketika akhirnya aku beranjak dari tempat duduk dan mengikuti langkah satpam yang hendak mengantarku ke tempat yang dituju. dalam hati aku terus menebak-nebak, apa karna beberapa kali aku tidak masuk kerja sehingga harus menghadap PUK dan terancam di keluarkan? atau kinerja ku yang kurang baik selama bekerja disini? aku tak tahu.

ku ketuk pintu ruangan tempat orang-orang menungguku. mas Irwan, salah satu anggota PUK yang kebetulan satu departemen denganku membuka pintu dan mempersilahkan ku masuk. tiba-tiba perasaan yang sangat tak enak menyergap saat ku lihat ternyata diruangan itu ada beberapa orang yang tak kukenal dengan mimik wajah menyeramkan yang semuanya menatapku tajam. pastilah mereka para anggota PUK yang tidak pernah ku kenal. begitu pikirku. namun yang membuatku mulai khawatir adalah, diruangan itu ada pak Kodir yang menjabat sebagai pimpinan koperasi karyawan, ada juga pak Muji yang sering turut menangani urusan koperasi dan yang paling membuat ku syok adalah keberadaan Neny yang duduk persis ditengah kerumunan orang-orang ini. Neny dengan wajahnya yang merah padam duduk disofa yang disebelah kirinya duduk seorang pria yang akhirnya ku ketahui beliau adalah ketua PUK diperusahaan ini, pak Gatot.

"kamu tahu nggak kenapa kamu dipanggil kesini?" pak Kodir bertanya lembut seraya menatapku beberapa saat setelah aku duduk disebelahnya. aku menggeleng.
"tuh, Neny, dia yang selama ini malingin duit koperasi". pak Kodir menekan suaranya dan berkata dengan nada keras sambil mengarahkan telunjuknya tepat kewajah Neny yang duduk berhadapan denganku.
Aku tersentak. "Neny?"
"Nih lihat, ini uang yang dia ambil hari ini. 1.600.000 rupiah. belum lagi yang kemarin-kemarinnya."
Tangan pak Kodir beralih ke beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang tergeletak diatas meja sofa yang berada ditengah kami semua. matanya menyiratkan kebencian yang luar biasa pada sosok Neny. Sementara aku mematung tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Untuk beberapa saat dengan susah payah ku serap kembali kesadaran diri yang terasa mengabur bersama suara-suara yang kian meyakinkan nalarku bahwa yang terjadi diruangan itu bukanlah mimpi.

Pak Kodir menjelaskan, Neny telah berhasil masuk perangkap yang dibuat oleh nya dan rekan lainnya untuk menjebak si pencuri uang koperasi yang selama ini tak pernah diketahui siapa pelakunya. Hari itu pak Kodir telah menyiapkan sejumlah uang yang telah diberi tanda dan akan diletakkan dilaci tempat mereka biasa menyimpan uang.
Ruang koperasi terdiri dari tiga bagian; ruang utama yang berisi rak-rak tempat segala macam barang yang dijual koperasi, meja kerja mbak tuti selaku admin sekaligus penanggung jawab keuangan dan juga terdapat lemari besi tempat menyimpan barang-barang penting termasuk uang yang diletakkan persis dibelakang meja kerja mbak tuti. Ruang kedua bisa juga disebut dapur koprasi. diruangan inilah Neny bertugas, melayani karyawan yang minta dibuatkan aneka macam minuman. Dan ruangan ketiga adalah gudang koperasi.
Dari cerita pak Kodir, ketika 'uang jebakan' telah diletakkan di lemari, mbak Tuti pergi keluar ruangan dan mengatakan pada Neny kalau dia akan pergi belanja. ketika itulah Neny beraksi. mengetahui tak ada seorangpun didalam ruang utama koperasi, Neny mengambil uang dilaci yang memang sengaja tidak dikunci.

Dan siang itu semuanya terungkap. Rasa kaget bercampur sedih mengalahkan segala keletihan yang mendera tubuhku yang belum istirahat sama sekali sejak tadi pagi lantaran baru tiba dari kota Purbalingga menjenguk adikku yang mengalami kecelakaan. Aku masih termenung tak percaya ketika pak Gatot, selaku ketua PUK bertanya padaku.
"astria, apa bener kamu pernah dipinjamkan uang sama nNeny?"
Aku tak lantas menjawab. aku teringat pesan singkat yang Neny kirim ke ponselku beberapa saat sebelum satpam menggiringku keruangan ini.

'say, nanti klo ada yang tanya kamu pinjem uang ke aku apa enggak, bilang aja nggak ya.'
ku balas sms Neny, 'sip. emang kenapa say? ada yang mau minjem uang ke kamu ya?'
'nggak. pokonya bilang aja gitu. lagi ada masalah nie.'
'masalah apa?'

'uang'
Aku tak membalas lagi pesan terakhir Neny karena harus fokus ke komputer untuk menyelesaikan tugas.

pak kodir mengulangi pertanyaan yang diucapkan pak Gatot sambil menatapku dalam dari balik kacamatanya. "apa bener kamu pernah pinjam uang sama Neny?"
"iya pernah. tapi udah dibayar itu mah pak." suara Neny lantang menjawab pertanyaan yang dilontarkan pak Kodir padaku.
"Diam kamu!" sentak pak Kodir penuh amarah.
"ya pak, aku pernah pinjam uang sama Neny. tapi sudah lama dan itupun sudah ku bayar." aku menjawab setenang mungkin meski nurani ku penuh dengan gejolak penyesalan karna yang ku sampaikan tidak sesuai fakta yang ada. aku memang sudah dua kali meminjam uang pada Neny, pertama sekitar sebulan yang lalu dan sudah ku kembalikan sesuai perjanjian. sedangkan yang kedua kalinya yaitu empat hari yang lalu. ketika aku mendapat kabar dari kakak ku di Purbalingga bahwa adikku yang tinggal bersamanya baru saja mengalami kecelakaan sedangkan aku tak memiliki uang sama sekali untuk melihat kondisinya. Neny yang kala itu ku ceritakan kesulitan yang kuhadapi meminjamkan ku uang hingga aku bisa berangkat menjenguk adikku. Tentu saja aku belum mengembalikan pinjaman yang terakhir tadi karna aku baru dapat mengembalikannya akhir bulan.
Beberapa saat ku tatap wajah Neny dalam-dalam. gadis baik yang selama ini ku kenal ternyata tak lain adalah seorang pencuri. Ya Allah..

Begitu banyak keganjilan yang kurasakan terhadap Neny selama ini namun aku selalu berusaha untuk tak berprasangka buruk. tapi kenyataannya?
Sekarang aku jadi mengerti kenapa Neny sering kali mengajakku berbelanja di mall dan menghabiskan ratusan ribu rupiah padahal tanggal-tanggal gajian masih lama.
Neny juga belakangan ini tampil lebih mewah dengan seperangkat perhiasan emas yang dikenakannya. Kalung, cincin, gelang dan juga anting. Entah aku yang terlalu naif atau memang segala kebaikan Neny yang membutakan mataku. Ironisnya, ketika di gali lebih dalam, semua kehilangan yang di alami koprasi mencapai hampir 50 juta rupiah. Jumlah yang membuat kami semua yang hadir disana terbelalak tak percaya. Dari pengakuan Neny juga diketahui bahwa Rosita, kerabat yang dulu pernah bekerja bersamanya pernah menggelapkan uang koprasi sebelum dia dikeluarkan.
satu fakta yang tidak ku mengerti adalah, selama bekerja dikoprasi Neny telah berkali-kali melakukan tindakan pencurian yang menyebabkan koperasi mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah, tapi kenapa baru sekarang ini para pengurus koperasi berani mengambil tindakan? bukankah kejahatan juga dapat timbul karena adanya kesempatan? seandainya sejak kehilangan pertama atau kedua kalinya mereka dapat mengambil langkah serupa lebih awal tentu tindakan tak terpuji Neny dapat dihentikan lebih dini, tepatnya sebelum Neny 'ketagihan' mencuri dan koperasi belum mengalami kerugian yang begitu besar.
Masih diruangan PUK, pak Kodir mendesak Neny untuk mengakui semua kejahatannya. Pak Kodir yang mengintrogasi dengan penuh emosi sementara Neny yang membantah mati-matian semua tuduhan dengan suara lantang dan sorot mata berkilat-kilat, membuatku tak percaya kalau gadis itu adalah sosok Neny yang pernah ku kenal. Sungguh, dadaku sesak menahan kekecewaan yang teramat dalam namun aku berusaha keras untuk tak menitikkan air mata dan bersikap setenang mungkin didepan orang-orang yang sedang mengadili Neny.

Jam-jam berikutnya aku diminta menemani Pak kodir dan mbak Tuti menjemput Rosita kerumahnya. Kami didampingi seorang satpam dan seorang OB yang menjadi penunjuk jalan menuju ke kediaman rosita. Jarak tempuh yang lumayan menguras waktu kami.

Ketika diperjalanan menuju rumah Rosita, aku menyempatkan diri mengirim sms untuk Neny,
'Neny, aku kecewa banget. tapi gimanapun juga kamu sabahat terbaik aku selama aku kerja disana. aku sayang sama kamu. aku gak mau kamu ditahan diruangan itu selama berjam-jam apalagi sampe dipenjara. kamu jujur aja ya, biar semuanya cepet selesai'
Sent.
Tak lama Neny membalas, 'iya'.

Dan ketika kami kembali ke kantor PUK dengan membawa Rosita beserta bapaknya, pak Gatot memberi tahu kami bahwa Neny telah mengakui semua kejahatannya.

Pukul 9.00 malam aku baru bisa pulang kerumah setelah selama berjam-jam berkutat dengan kasus Neny. Dan pelaku sindikat pencurian uang koperasi pun sudah berkumpul semua. ada Neny dan bapaknya juga Rosita dan bapaknya.

***
Selanjutnya, Aku tak tahu lagi bagaimana nasib mereka. entah mengganti semua uang yang sudah mereka ambil, atau masuk bui. entahlah..
yang aku tahu, sejak hari itu aku telah kehilangan Neny. Hari-hariku selanjutnya pun berubah drastis. Tak ada lagi sosok Neny yang selalu menyambut kedatanganku setiap pagi. Yang selalu mengkritik penampilan ku yang selalu berganti warna setiap hari, yang selalu usil menjajal setiap kosmetik yang baru ku beli, yang selalu memperhatikan kondisi kesehatanku, yang selalu setia mendengar keluh kesahku dan...
Ahh Neny.. kenapa harus sepahit ini kenyataan yang ada..


Cileungsi, 20 Desember 2011

In memorian of Ayat-Ayat Cinta

Posted by Violet 09.39, under | No comments

Terik matahari siang itu semakin membakar kulit. Debu-debu jalanan beriak terbang seiring laju kendaraan yang tak kunjung berhenti disepanjang jalan raya .
Aku dan seorang teman baru saja turun dari sebuah kendaraan umum. Kami menyebrangi jalan menuju ke junction, salah satu pusat perbelanjaan dikawasan Cibubur. Beberapa saat kemudian kami tiba dipintu masuk junction dan agak tergesa-gesa kami masuk.
Saat menaiki eskalator, hanya satu yang ada dipikiran kami berdua; tiba dilantai 4 dan segera membeli tiket film yang telah kami nanti-nantikan sebelum habis terjual. Kami beruntung siang itu. untuk bisa memperoleh tiket film Ayat-Ayat cinta yang pada masa itu tengah marak dibicarakan orang-orang di Indonesia, kami tak perlu mengantri. pasalnya bioskop buka pukul 12.00, sedangkan aku dan temanku tiba disana pukul 13.00. ku beli 8 tiket sekaligus untuk kami berdua dan enam orang teman kami yang akan datang menyusul.

Waktu terus berlalu. ku tatap arlojiku, ternyata baru pukul 2.00 siang sementara film yang akan kami tonton akan diputar pukul 3.00 sore. Sambil menunggu teman yang lain datang, aku dan sahabat yang menemaniku, mikdad duduk dilobi timur bangunan itu. tenggorokan ku kering dan perutku lapar. begitu pula yang dirasakan mikdad. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke hypermarket yang ada dilantai dasar untuk sekedar membeli minum dan makanan pengganjal perut. waktu itu kami masih anak kelas 3 Aliyah dan tidak memiliki uang saku yang cukup untuk sekedar membeli makan di foodcourt. hihi!

Setelah menunggu sekitar satu setengah jam akhirnya ke enam teman yang akan nonton bersama kami pun datang. mereka antusias sekali dan nggak sabar untuk segera masuk ke bioskop.
Pukul 14.45 kami bergegas naik ke lantai atas. meski langkahku sedikit berat lantaran tasku dipenuhi berbagai snack untuk camilan selama menonton film, aku tetap yang paling bersemangat dan selalu jalan didepan. ketika hendak menaiki eskalator ke lantai 3, kami bertemu dengan ina dan ana. dua adik kelas kami yang kala itu mengaku sedang menghabiskan waktu luang mereka untuk sekedar berkeliling di pusat perbelanjaan tersebut. setelah berbincang sebentar kami pun bergegas naik ke atas karena film akan segera diputar.

***
Pagi yang cerah...
dalam pendar cahaya mentari pagi yang kian menghangatkan bumi, ku ayun langkah kaki dengan perasaan damai menuju madrasah tempat ku menimba ilmu.
Tiba diruang kelas ku sapa semua teman-teman yang telah datang lebih dulu. pelajaran baru akan dimulai setengah jam lagi. cukup bagiku dan teman lainnya untuk saling menceritakan kembali kesan dan alur film ayat-ayat cinta yang kami tonton di bioskop kemarin sore.
aku dan teman yang lain sedang begitu bersemangat dan saling berebut memberi komentar lalu menceritakan kembali film tersebut ketika tiba-tiba seseorang masuk keruang kelas dan membuat kami semua serentak diam terpaku.
"assalamu'alaikum semuanya! bagi nama-nama yang saya sebutkan harap segera keluar dan berkumpul dihalaman madrasah." ucap orang itu yang tidak lain adalah kak bejo, ketua kesantrian di pesantren tempatku bersekolah.
kelas menjadi hening...
"astria, aulia, kulsum, reni, syifa, hanifah, umi dan mikdad. semua nya keluar dari kelas!"
Deg! jantung ku berdebar hebat mendengar namaku yang paling pertama disebut.
tanpa banyak bicara kami keluar kelas dan betapa terkejutnya kami ketika menyadari ternyata ada banyak anak yang terpaksa keluar kelas yang kemudian semuanya berkumpul dihalaman.
kami berbaris rapi dihalaman madrasah layaknya seorang terdakwa yang tidak tahu alasan kenapa kami harus keluar dari kelas.
kak bejo berdiri dihadapan kami semua dan mulai membuka pidatonya.
"kalian tau nggak kenapa kalian saya suruh kumpul disini?" tanyanya dengan suara lantang. kami menggeleng.
"kalian itu anak-anak yang melanggar tata tertib di Al-fatah ini. anak-anak pesantren ko berani nonton ke bioskop....." ketua kesantrian itu diam sejenak dan menatap wajah kami satu persatu.
" ini lagi, anak kelas tiga aliyah bukannya kasih contoh yang baik buat adik-adik kelasnya malah ngasih contoh buruk. kalian itu kan mudabbir, bener-bener bikin malu". begitulah yang diucapkan kak bejo pada ku dan teman-teman yang lainnya yang merupakan anggota mudabbir atau biasa dikenal dengan osis.
dari mana dia bisa tahu kalau kemarin kami pergi nonton? dan bagaimana dia bisa tau jelas siapa saja yang kemarin pergi bersamaku sementara kami pergi beramai-ramai..? berbagai pertanyaan berkecamuk dikepalaku.
"kemarin saya sengaja ngutus dua siswi untuk ngawasin tempat-tempat yang ada bioskopnya. jadi kalian jangan salahkan Ina sama Ana karena memang saya yang nyuruh mereka mencatat nama-nama kalian".
Damn!
kami tertangkap basah. tak banyak yang bisa kami lakukan saat melihat kak bejo mengacungkan secarik kertas yang berisi nama-nama kami selain menggerutu kesal lantaran kami dimata-matai oleh dua orang anak yang jelas-jelas lebih berpengalaman dari kami dalam hal melakukan berbagai pelanggaran. mereka bahkan sempat mengatakan pada kami saat bertemu di junction kemarin kalau mereka sudah menonton film ayat-ayat cinta dan mereka bilang film itu sangat bagus.
kami pasrah bagai tahanan yang siap dihukum oleh mereka yang berkuasa.
"mulai detik ini juga, kalian akan dihukum. kalian saya jemur didepan kelas sampai jam 11 siang. " tegas kak bejo.
sontak kami kaget dan segera mengajukan protes. meminta hukuman yang sedikit lebih ringan karena hari itu benar-benar sangat cerah hingga panas matahari sudah terasa menyengat kulit padahal jam baru menunjukan pukul 7.30 pagi.
keberuntungan memang belum berpihak pada kami nampaknya. tak ada toleransi. tak ada tawar menawar hukuman.
dan pagi itu kami berdiri sekitar empat meter dari pintu madrasah. berjejer seperi pagar yang masing-masing tempat kami berdiri diberi jarak satu meter.
oh god! benar-benar memalukan. teman ku yang lain, adik-adik kelas dan bahkan guru-guru kami ramai-ramai menonton kami yang sedang dihukum. mentertawakan kami dari balik jendela kelas yang berjejer rapi.
aku mendesah kesal. satu teman yang pergi bersamaku kemarin sangat beruntung hari itu. Aulia tidak masuk sekolah karena suatu urusan dan kali ini dia lolos dari hukuman. sementara nasib satu-satunya teman lelaki yang kemarin turut bersamaku, mikdad, ia tidak disuruh berjemur didepan kelas seperti kami, melainkan harus menggali lubang sampah yang ada dibelakang madrasah.

Hari semakin siang. mikdad, yang saat itu telah selesai lebih dulu menjalani hukumannya diperbolehkan istirahat. kepalaku pusing. kaki luar biasa pegal rasanya karena terus-menerus berdiri tanpa boleh duduk sedetikpun sementara tatapan mata kian mengabur lantaran beradu dengan terik matahari selama beberapa jam.
melihat ku dan teman-teman lain kepayahan, mikdad berinisiatif membelikan kami minum.
menit-menit yang menyiksapun perlahan berlalu. waktu hukuman kami telah usai dan kami diperbolehkan masuk kembali kekelas.

***
Desember 2010....
ku tatap bangunan madrasah yang masih berdiri kokoh. tempat ku dulu menimba ilmu selama bertahun-tahun. tak ada yang berubah dari bangunan itu. masih tetap berfungsi sebagaimana dulu aku dan teman-temanku menggunakannya.
dan semua memori yang pernah aku lalui disana berkelebat menghujani ingatanku.
semoga bangunan itu akan tetap kokoh dan semakin terjaga.......

***


Dear my friend,
Aulia, kulsum, hanifah, mikdad, syifa, umi dan reni...
apapun yang pernah kita lalui selama berteman dan belajar bareng, ga akan pernah terlupakan.

Karena Sepucuk Surat

Posted by Violet 09.38, under | No comments

Perbincangan hangat itu masih jelas terdengar diteliga. ke empat teman ku yang tinggal bersama dalam satu asrama dan berasal dari daerah yang sama itu tengah heboh dengan adanya berita kalau pusat pesantren Al-fatah di cileungsi, lebih tepatnya tempat tinggal kami tengah kedatangan banyak santri baru yang mendaftar baik sebagai santri baru di madrasah tsanawiyah maupun madrasah aliyah.

waktu itu, setelah lulus dari madrasah tsanawiyah Al-fatah cileungsi, aku dan tiga orang teman ku memutuskan untuk melanjutkan sekolah dimadrasah Aliyah Al-fatah cilacap. tujuan kami sama, ingin punya pengalaman baru.
Fatmah, adik kelas yang sekaligus keponakan teman ku mengatakan kalau di cileungsi banyak santri baru yang masuk ke madrasah Aliyah. tentu hal itu membuat ku dan ketiga teman ku, Kulsum, Hanifah dan Yuni menjadi penarasan.
"katanya anak baru kelas satu aliyah yang cowonya pada ganteng-ganteng lho". jelas Fatmah yang mengaku mendapat informasi tersebut dari teman sekolahnya di Al-fatah Cileungsi.
"masa sih? emang berapa orang anak barunya? yang ganteng siapa namanya..?" tanya hanifah sambil senyam-senyum.
"ya banyak.. ada Suhendra, Munif, terus klo ga salah sih yang paling ganteng tu Fadil namanya".
"emang seganteng apa sih? sampe heboh gitu?" tanya teman yang lain menimpali.
" ya ganteng pokonya mah. Amah juga belum liat sih, tapi kata temen mah fadil tu ganteng, tinggi, manis banget. "
"iiiih.. jadi penasaran".

Begitulah perbicangan kecil diantara teman-teman yang sempat ku simak. jujur aku tak begitu tertarik. bagiku tampan itu kan relatif. jika mereka bilang anak itu tampan, buatku belum tentu. lagi pula bagaimanapun aku tak akan kenal dengan anak-anak baru itu karena meskipun sama-sama sekolah di Al-fatah tapi kami beda tempat, aku dan tiga teman ku di Cilacap sementara anak-anak baru itu di Cileungsi.

enam bulan sejak mondok di Cilacap, aku terpaksa harus kembali pindah ke Al-fatah Cileungsi dan melanjutkan semester dua di sana karena suatu urusan. Alhasil, begitu surat kepindahan ku telah selesai diurus, jadilah aku anak baru didaerah tempat tinggal ku sendiri.
Masuk keruang kelas baru memang sedikit asing bagiku, tapi tidak dengan murid-murid yang menghuni kelas tersebut. beberapa dari mereka adalah teman-teman ku semasa di tsanawiyah dulu. Mereka menyambut hangat ke datanganku. aku diperkenalkan dengan beberapa wajah baru yang sebelumnya tidak pernah ku kenal. pastilah mereka anak baru disini. begitu pikirku.
Saat pertama kali menginjakkan kaki diruang kelas baru, aku sedikit kaget melihat kondisi ruang kelas yang belum pernah aku jumpai sebelumnya. ruang kelas itu di sekat dengan pemisah yang dibuat dari papan teriplek, yang memisahkan antara meja belajar santri putra dan putri. sedangkan meja guru dan papan tulis terletak persis didepan dinding pembatas.
tiba tiba aku ingat percakapan kecil yang pernah ku dengar di asrama saat masih mondok dicilacap. Fatmah bilang kalau anak baru di kelas satu aliyah  ini tampan-tampan. Bener gak sih? Meski masih malu-malu karena merasa anak baru, ingatan ku pada ucapan Fatmah sangat menggelitik dan memaksaku memberanikan diri untuk bertanya.
dari beberapa teman lamaku, aku mencoba mengorek keterangan dari Nurjanah dan Umi. dua santri yang sudah ku kenal sejak kami sama-sama sekolah di madrasah tsanawiyah Al-fatah Cileungsi.
"eh nur, anak baru nya banyak ga sih?" tanyaku pada Nurjanah.
" ya lumayan, tapi banyak juga yang baru masuk udah keluar lagi". jelas Nur sambil tersenyum.
" ko kelasnya disekat gini yah.... ga bisa ngobrol sama anak cowo donk..." bisikku pada Nur dan teman lainnya. kami tertawa.
"iya sih, tapi.. ah gak ada bedanya ko. klo istirahat kita masih bisa ngobrol rame-rame" jelas Umi.

waktu istirahat tiba. sementara para siswi masih duduk santai dikursi, para siswa justru berebut keluar kelas dengan suara gaduh yang tentu saja mengganggu ketenangan para siswi karena untuk keluar masuk kelas mereka harus melintas didepan kawasan kami. diam-diam ku perhatikan wajah anak-anak cowok yang melintas.
ih, katanya ganteng-ganteng? kayanya biasa aja. batinku.
" nah itu namanya Suhendra, biasa dipanggil suhe. yang itu tuh, yang barusan lari namanya Hendra, klo ini nih, Munif. orangnya suka usil. " terang Syifa, teman baruku.
beberapa saat kemudian seseorang muncul dari balik dinding pembatas. santri putra yang tidak aku kenal.
"mi, itu syapa?" bisikku pada Umi.
"mana? itu yang barusan lewat? klo itu Fadil"
Oh god, jadi itu anak baru yang menurut adik-adik kelasku paling tampan dikelas satu aliyah?
Spechless... karena bagiku, Munif, yang postur tubuhnya lebih tegap dan kulitnya putih bersih lebih tampan dari pada Fadil meski ku akui dia punya senyum yang manis penuh karisma.

---***---

Hari demi hari berlalu begitu cepat. suasana hangat yang tercipta dari keakraban ku dengan teman teman dimadrasah semakin kental ku rasakan. aku bahagia bisa menjadi bagian dari mereka yang begitu mudah menerimaku. Bukan hanya dengan santri putri yang kurasa semakin akrab, tapi juga dengan santri putranya. mereka semua menyenangkan. banyak waktu luang yang kami habiskan untuk sekedar bercanda ria, berbagi masalah, dan bertukar pikiran. semakin lama, karakteristik dari masing-masing temanku telah aku kenal dengan baik. dari mulai Syifa, yang sangat menyukai film dan lagu-lagu india, Aulia, yang senang bercerita tentang teman-teman barunya didunia maya, Munif, yang terkenal badung, suka jahil dan senang menggoda santri putri, hingga Fadil, yang sedikit pendiam namun senang bercanda.
Memasuki tahun kedua di madrasah aliyah, kebahagiaan ku semakin lengkap ketika dua orang temanku yang dulu sekolah di Cilacap bersamaku yaitu Hanifah dan Kulsum turut pindah ke Al-fatah cileungsi dengan alasan tidak betah dan ingin sekolah didaerah tempat tinggal mereka saja. jadi hanya setahun mereka mondok di sana.

---***---

memasuki kelas dua aliyah....
Beberapa malam terakhir aku sering tidur larut malam. menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekedar sms-an dengan orang-orang baru yang belum pernah ku kenal dan tak jarang pula berlama-lama menerima telepon dari mereka yang mengaku senang berkenalan dengan ku.
Bagai anak ABG yang tengah kasmaran, aku sering bercerita dengan teman-teman dikelas bagaimana aku bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang tak dikenal dan bertukar pikiran dengan mereka.
" masa dia bilang dia suka sama gue sum.. kan gue bingung.. gimana dong?" tanya ku pada Kulsum tentang salah satu teman baru bernama Agustiar yang baru sekali ku temui.
"ya terserah lo... lo nya suka nggak ma dia... klo suka ya terima aja. kan dah lama ngejomblo." jawab Kulsum ringan.
aku menarik nafas panjang. meski ku yakin dia orang baik, tapi entah kenapa hatiku memilih untuk menolaknya karena aku merasa ada orang lain yang telah lebih dulu menempati ruang hatiku.

Ke esokan paginya, Syifa menyerahkan sepucuk surat padaku. Saat ku tanya siapa pengirimnya, Syifa tak memberi tahu. Dia hanya menyuruhku untuk segera membacanya. Perlahan ku buka lembaran kertas itu dan mulai membacanya.
------------------------------------------
" meski kau terus sakiti aku.. cinta ini akan selalu mema'afkan. dan aku percaya nanti engkau mengerti bila cintaku tak kan mati......" (ramaband)

dear Astria putriatun,
Sejak pertama kali saya melihat kamu, saya tau ada perasaan yang beda dihati saya. saya sangat suka lihat kamu yang pendiam, alim, ramah, manis dan murah senyum.
tapi belakangan ini saya kecewa sama kamu. sejak kamu punya hp, kamu berubah. kamu bukan lagi akhwat yang saya kenal dulu. kamu tidak sependiam yang dulu. sekarang dikelas saja kamu lebih sering membicarakan tentang laki-laki yang sedang dekat sama kamu. bahkan saat jam pelajaran berlangsung saja kamu lebih sering ngobrol soal laki-laki yang baru kamu kenal itu dari pada memperhatikan guru yang sedang menerangkan. kamu berubah dan saya sangat kecewa. saya lebih suka kamu yang dulu.

Asal kamu tahu, sejak pertama kali kenal, aku tulus mencintaimu dari hatiku yang paling dalam.

ttd,

Fadil

----------------------------------------------------


Aku terpaku beberapa saat setelah membaca surat itu.  Airmata perlahan menetes.  Kenapa aku tak pernah menyadarinya?  kenapa aku tak pernah tahu bahwa ada orang yang selama ini diam-diam suka padaku?
Sebelum membaca surat itu, aku tidak pernah mengerti kenapa Fadil sering malu-malu saat berpapasan dengan ku, sering menundukan pandangan saat kedua mata kami tanpa sengaja saling beradu. sebelum membaca surat itu juga aku tak mengerti kenapa Fadil menatapku penuh amarah ketika aku bercerita tentang cowok yang menyatakan cintanya padaku tepat saat dia duduk tak jauh dari tempatku.
dan pagi itu, ku temui semua jawaban atas pertanyaanku tentang Fadil yang diam-diam telah lama mengisi ruang hatiku.

---***---




My Music