Untuk ketiga kalinya aku menghabiskan libur akhir pekan di Purbalingga, dirumah kakakku. Rencananya minggu sore aku akan pulang ke cileungsi karena senin pagi sudah harus masuk kerja lagi, oleh karena itu minggu siang kak Agus, kakak iparku membelikan 1 tiket bus untukku di Bukateja, daerah yang agak jauh dari tempat tinggal kakakku. Seperti biasanya, aku menggunakan bus Sinar Jaya.
Saat menerima tiket dari kak Agus, ada rasa khawatir yang sedikit mengganggu. Dilembar tiket bus itu enggak tercantum nomor kursi untukku, itu artinya aku bisa pergi dengan bus tersebut dengan catatan aku hanya bisa duduk ditempat kosong yang enggak pasti letaknya. nah loh? Jangan-jangan kursi kosongnya ada di bagian paling belakang, atau disebelahnya nenek tua cerewet, atau disebelah bapak-bapak yang tidurnya ngorok atau disebelah cowok yang kentutnya bau? hadeeeuh..
Bus yang bakal ku tumpangi dijadwalkan berangkat pukul lima sore, jadi setengah jam sebelumnya aku berangkat ke Bukateja diantar kakakku serta suami dan anaknya. Kami pergi dengan sepeda motor. Aku dibonceng mbak Mimi, adik kandung kak Agus, sementara kak Agus membonceng kakakku dan putranya. Tiba di Bukateja, kulihat sudah banyak calon penumpang yang datang dengan bermacam bawaan mereka yang kelihatan baru pulang kampung. Aku duduk dikursi panjang yang ada didepan salah satu toko, membaur dengan orang-orang. Kami semua menunggu. Pukul setengah enam sore belum ada satu bus pun yang datang. orang-orang yang mengantarku mungkin lelah menunggu dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang sebelum melihatku naik ke dalam bus.
"gue balik dulu ya, dah sore. kasian anak gue. nanti klo ada apa-apa lu sms gue aja ya." Kakakku pamit pulang. "iya teh. ya udah sana. Jazakallah dah dianterin. " Aku menyalami mereka sebelum berpisah.
"lebak bulus, bulus, bulus...." Seorang agen berteriak dipintu bus yang berhenti tak jauh dari tempatku duduk.
"kali deres, deres,deres..." sambung yang lain dari bus sebelahnya. Oh God, Aku mulai bosan. Entah ini bus yang keberapa yang datang tapi lagi-lagi bukan jurusan Cileungsi. Berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, aku belum pernah menunggu selama itu. Semua penumpang sudah terangkut ke tujuan masing-masing, hingga yang tersisa hanya tinggal aku dan seorang cowok yang masih setia menunggu bus sinar jaya jurusan Cileungsi datang. Karena mulai khawatir, aku bertanya ke salah satu petugas disana, tapi dengan santainya dia cuma bilang "iya tunggu sebentar lagi ya mba. mungkin macet..." huffffh... harus nunggu berapa lama lagi ieu..
Sesekali aku dan si cowok yang sama-sama nunggu bus Cileungsi saling bertatapan. Kami harap-harap cemas pastinya. Kesel dan capek pula. Hingga pukul 7.30 malam bus yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Kakakku meminta agar aku pulang lagi saja kerumah dia dan keberangkatan minta diundur hingga besok. tapi aku menolak karena besok harus masuk kerja. Well, aku masih setia menunggu. Angin kencang bertiup beraturan. Membawa udara dingin yang seakan siap menurunkan curah hujan.
Seorang kenek bus segera turun dan membantu membawa barang bawaanku ke atas bus sebelum akhirnya dia meminta ku menunjukkan tiket. Pintu pun ditutup dan bus segera melaju kembali.
Karena dilembar tiket yang kupunya tak tercantum nomor tempat duduk, aku mulai menyisir semua kursi dari depan kebelakang sambil menenteng bawaanku yang cukup banyak. Ku lirik ke kanan dan kiri mencari tempat duduk yang kosong. Cowok yang bersamaku beruntung karena sudah lebih dulu mendapat tempat duduk. Setelah mencari-cari akhirnya aku dapat tempat duduk meski hampir dibelakang. Tapi... napasku mendadak sesak. Keberadaan bangku kosong ini tidak sama dengan yang ku bayangkan sebelumnya, tapi mungkin lebih buruk. Aku duduk dideretan dua bangku. Disebelah tempat dudukku sudah ada seorang cowok yang bertubuh sangat besar tengah melamun menatap keluar jendela.
Saking gendutnya orang ini, dia bahkan nyaris menghabiskan dua kursi untuk badannya. alamaaak.. Ini untuk pertama kalinya aku bersyukur memiliki badan yang sangat kurus. Saat duduk, cowok gendut itu sempat menoleh sesaat kearahku. Tapi dia tak sempat membalas senyumku karena langsung menatap keluar jendela lagi.
Hhh.. yasudahlah bung. aku tak memaksamu membalas senyumku.
Aku menata barang bawaanku yang ku letakkan dibawah tempat duduk. Ku atur posisi duduk diatas sedikit ruang yang disisakan si cowok gendut disebelah kiriku. Bismilah, Perjalanan dimulai.
Malam itu bus melaju dengan kecepatan sedang. Sejauh ini, selain sempitnya tempat duduk, aku tak memiliki keluhan apa-apa lagi selama cowok gemuk disebelah ku itu tidak terjaga dari tidurnya. Karena setiap kali membuka mata, cowok itu akan menggerakkan badannya untuk mendapat posisi duduk paling nyaman. Dan sialnya, setiap kali cowok itu bergerak, aku selalu terdorong keluar tempat duduk yang nyaris membuatku jatuh untuk kesekian kalinya. heeuh, sabar..sabar.
Satu jam berlalu. Hujan sudah reda sejak tadi ketika supir bus memasuki area pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Kesempatan ini dimanfaatkan betul oleh para pedangang asongan yang menjajakan dagangannya dimalam hari. Beberapa penjual makanan masuk kedalam bus. Sambil meneriaki dagangan mereka, dihampirinya satu persatu para penumpang. Ketika mendengar nama 'getuk goreng' dijajakan penjualnya, cowok gendut disebelahku langsung membuka mata dan mencari arah suara. Gayung bersambut. Membaca gelagat pria disebelahku, sipenjual langsung menghampiri.
"Harga nya berapa pak?"
"2000 sebungkus pak."
"klo gitu saya beli dua bungkus pak."
Sebuah transaksi kecil antara cowok gemuk disebelah kiriku dengan bapak-bapak penjual getuk terjadi didepan mataku. Biasa saja memang, tapi efek yang timbul dari transaksi ini membuatku ingin muntah. gimana enggak, saat hendak membayar makanan yang dibelinya, si cowok gendut mengulurkan tangan kanannya tinggi-tinggi hingga ketiak dari lengannya yang besar berada tepat didepan wajahku, lalu menyerahkan uang lima ribuan kearah si penjual yang berdiri disamping kananku. Aku merasa seluruh isi perutku berebut keluar hendak muntah saat dengan jelas hidungku menghirup aroma ketiaknya.
Emaaaaaaak.. ini bau ketek orang, ketek kebo apa bau sampah bantar gebang?? enggak perduli sama perasaan si cowok gendut, spontan aku menutup seluruh wajahku saat ketiaknya belum juga hilang dari peredaran mataku karena dia harus mengambil kembalian yang diserahkan penjual getuk. Sejak duduk disini aku memang seperti mencium bau yang sangat tak enak. dan ku pikir bau itu timbul dari luar bus yang masuk kedalam melalui jendela yang dibuka si cowok ini. Ternyata...
Pukul 11 malam bus tiba di Rumah makan khusus Sinar Jaya yaitu RM Panorama prupuk, Tegal. Hampir semua penumpang turun dari bus. Ada yang hendak solat, makan, ke toilet atau sekedar mencari udara segar diluar. Sementara aku memilih tetap ditempat untuk menjaga barang bawaanku. Aku beranjak dari kursi ketika cowok disebelahku hendak turun dari bus. ah senangnya.... moment tanpa cowok gendut disebelahku itu kumanfaatkan untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya dari jendela mobil.
Setengah jam berlalu.
Para penumpang kembali ke tempat duduk masing-masing. Setelah semuanya di cek oleh seorang petugas dan dianyatakan siap berangkat, bus pun kembali melanjutkan perjalanan. Udara yang sempat terasa panas selama beberapa jam tadi kini mulai terasa dingin.
Aku melihat kesekeliling, lampu-lampu dibagian atas penumpang dimatikan oleh supir bus dan semuanya menjadi gelap dan sunyi. Aroma tak enak dari tubuh cowok disamping kiriku itu masih tercium jelas. Membuatku sulit memejamkan mata meski sebenarnya aku sangat ngantuk dan ingin tidur. Ku serongkan tubuhku kekanan dengan harapan penciumanku tak lagi menangkap aroma bau badan dari si cowok gemuk, dan ternyata berhasil.
Aku mendekap erat tas yang ada dipangkuanku sebelum akhirnya aku tertidur pulas didalam bus.
Pukul 5.00 pagi bus memasuki area Pool Cibitung, tempat bus-bus Sinar Jaya menaikkan, menurunkan atau untuk transit penumpang. Bus berhenti dan para penumpang turun satu persatu. Termasuk aku.
Aku berjalan tertatih-tatih membawa barang bawaanku yang cukup banyak, mencari tempat untuk ku beristirahat sejenak. Didepan pos yang letaknya persis di dekat pintu gerbang masuk bus, aku duduk dikursi panjang yang ada disana bersama dua penumpang lain. Saat duduk itulah aku teringat sesuatu. Yup, aku belum mengabari kakaku kalau aku sudah tiba di Cibitung dengan selamat. Aku bermaksud hendak mengambil handphone yang ku simpan didalam tas saat aku menyadari ada sesuatu yang hilang. Dompet, dompetku tak ada didalam tas.Aku mencoba untuk tak terlihat panik saat tanganku terus merogoh isi tas berharap dompet kesayanganku masih ada disana, ternyata nihil. Aku benar-benar lemas saat itu. Bahkan niat untuk segara mengabari kakakku pun ku urungkan lantaran aku syok berat. Seorang petugas berpakaian hitam menghampiriku.
"mbak mau kemana?" Tanya nya lembut.
"saya mau ke cileungsi pak. Bus yang ke cileungsi udah dateng apa belum ya, pak?"
"waduh, bus nya udah dateng dari jam 4 tadi mbak. udah pergi lagi. wah mbak ini kesiangan." Petugas itu lalu mengarahkan pandangannya pada bus-bus yang berjajar di depan kami. "Nah, naik itu aja mbak, bus yang ke terminal bekasi.Nanti dari terminal baru naik angkutan biasa yang ke cileungsi." Aku mengangguk lalu tersenyum pada bapak petugas itu lalu beranjak menuju bus.
Aku berjalan menyusuri badan bus mencari tempat duduk yang kosong. Rupanya hanya ada sekitar sepuluh orang di bus tersebut yang sudah mengisi bagian depan kursi-kursi penumpang. Aku memilih duduk sendirian di deretan tiga bangku agar bisa bergerak bebas. Setelah duduk dan bus mulai melaju, aku membongkar satu persatu barang bawaanku.Pertama-tama aku membongkar tas besar yang berisi pakaianku. Dengan rapi ku keluarkan isinya sedikit demi sekdikit, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan dompet lalu menyimpannya. Tas pertama telah selesai dibongkar tapi dompet ku tak juga ditemukan. Aku beralih pada tas besar kedua yang berisi oleh-oleh dari Purbalingga. Harapan terakhirku ada pada tas ini. Tanganku masih terus mencari hingga air mata mengalir begitu saja saat ku tahu pencarianku sia-sia. Aku yakin sekali kalau dompetku telah dicuri orang.
Seingatku, terakhir kali aku membuka dompet dan mengambil uang yaitu saat masih di Bukateja. Waktu itu aku membeli air mineral dan tissue disalah satu toko yang ada disana menggunakan uang sepuluh ribu rupiah. Lalu dompet ku masukan kedalam tas dilenganku sedangkan uang kembalian yang hanya empat ribu rupiah ku masukkan kedalam saku baju.Kesimpulannya, saat aku masuk kedalam bus pertama dompetku masih ada didalam tas. Aku lalu mengingat kembali saat-saat yang ku lalui selama didalam bus Sinar Jaya pertama. Saat aku masih tersiksa karena bau badan cowok gendut disebalah kiriku, hingga saat aku tertidur pulas di bus.
Cowok gendut disebelah ku kah yang mengambilnya....? Sepertinya bukan.
Tiba-tiba aku diingatkan pada sesuatu. Saat di bus, demi menghindari bau badan si cowok gendut, aku duduk menyerong ke kanan. Kearah kursi berjajar tiga. Posisi tasku waktu itu masih dipangkuanku dengan resleting yang tertutup rapat dan talinya yang kuselempangkan ditangan kiri. Sebelum tertidur, beberapa kali mataku berpapasan dengan tatapan seorang pria yang duduk dideretan tiga bangku tak jauh dariku. Tatapan pria itu aneh, dan yang lebih aneh lagi adalah posisi duduknya yang justru menghadap ke barisan kursi belakang tempatku berada. Aku kesulitan mengenali wajah pria bertopi dan berjaket coklat tua itu karena saat itu bus dalam keadaan gelap. Tak mau ambil pusing dengan pria itu, aku memilih tidur.
Aku sempat bangun beberapa kali ketika bus melewati tikungan tajam. Saat itulah ku cek barang bawaanku untuk meyakinkan kalau semuanya masih lengkap. Aku sedikit kaget ketika melihat tas dipangkuanku terbuka. Tapi karena posisinya yang tak berubah, aku tak punya pikiran jelek apa-apa dan segera menutupnya kembali dan melanjutkan tidur.
Dengan perasaan sedih, Aku merapikan isi tas besar yang baru saja ku bongkar. Bagaimanapun dompetku sudah tak ada. meski begitu aku bersyukur karena sipencuri tak mengambil handphone yang diletakan bersama dompet. Aku segera menelepon kakakku di Purbalingga. Sambil tersedu-sedu, kuceritakan apa yang baru saja ku alami. Beberapa penumpang yang ada didepanku tampak menghujaniku dengan tatapan penuh tanya. Saat berbicara ditelepon, aku memang tak mampu lagi membendung emosi dan air mata. Perasan sedih, marah, bingung bercampur jadi satu. Terang saja aku sangat terpukul. Selain berisi uang simpananku untuk seminggu kedepan, didompet itu juga berisi uang yang dititipkan kakakku untuk diberikan pada ibu. Dan selain itu ada KTP, kartu ATM, Kartu Jamsostek dan beberapa lembaran penting yang ku susun rapi didalam dompet.
Aku berhenti menangis dan segera memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke cileungsi. Aku memeriksa saku baju dan celana. Hanya uang empat ribu rupiah yang kutemukan disaku kanan bajuku. Dan itu tak cukup sampai ke cileungsi. Bingung yang luar biasa membuat mataku kembali basah. Ya Allah..bagimana ini?
Ponselku berbunyi. Abangku yang tinggal dipondok gede menelepon.
"Assalamu'alaikum, Neng." Sapanya dengan suara yang terdengar agak panik.
"Wa'alaikumsalam. ya 'a?"
"Tadi Nina telepon aa, ngejelasin semuanya. sekarang kamu lagi dimana?"
"masih di bus Sinar Jaya yang ke terminal Bekasi,'a."
"Ya udah, nanti klo udah diterminal, kamu tunggu didepan kampusnya hadi ya. Kampus Politeknik Gunakarya. Nanti 'aa suruh Hary jemput kamu. Udah tenang aja. Jangan nangis lagi ya. "
Aku mengiyakan ucapan abangku sebelum pembicaraan kami ditutup dengan ucapan salam darinya.
Tiba diterminal Bekasi, aku berjalan menuju kampus tempat kuliah Hadi, putra pertama abangku. Sekitar pukul 6.00 pagi, aku melihat Hary, putra kedua abangku datang menghampiri dengan mengendarai motor satria. Kami berbincang beberapa saat sebelum akhirnya aku meminta Hary agar mengantarku ke kantor polisi untuk membuat surat keterangan. Lanjut dari sana, Hary mengantarku pulang ke Cileungsi.
"kali deres, deres,deres..." sambung yang lain dari bus sebelahnya. Oh God, Aku mulai bosan. Entah ini bus yang keberapa yang datang tapi lagi-lagi bukan jurusan Cileungsi. Berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, aku belum pernah menunggu selama itu. Semua penumpang sudah terangkut ke tujuan masing-masing, hingga yang tersisa hanya tinggal aku dan seorang cowok yang masih setia menunggu bus sinar jaya jurusan Cileungsi datang. Karena mulai khawatir, aku bertanya ke salah satu petugas disana, tapi dengan santainya dia cuma bilang "iya tunggu sebentar lagi ya mba. mungkin macet..." huffffh... harus nunggu berapa lama lagi ieu..
Sesekali aku dan si cowok yang sama-sama nunggu bus Cileungsi saling bertatapan. Kami harap-harap cemas pastinya. Kesel dan capek pula. Hingga pukul 7.30 malam bus yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Kakakku meminta agar aku pulang lagi saja kerumah dia dan keberangkatan minta diundur hingga besok. tapi aku menolak karena besok harus masuk kerja. Well, aku masih setia menunggu. Angin kencang bertiup beraturan. Membawa udara dingin yang seakan siap menurunkan curah hujan.
***
Pukul 20.00, gerimis mulai turun saat ku lihat sebuah bus datang memasuki area parkir. Semoga ini yang ditunggu-tunggu. Ternyata itu bukan bus yang ku harapkan. Seorang petugas menghampiriku dan cowok yang menunggu bersamaku, Petugas itu mengatakan kalau kami bisa naik bus tersebut dan nanti transit di Cibitung. Aku dan si cowok setuju. So, it's time to go. Seorang kenek bus segera turun dan membantu membawa barang bawaanku ke atas bus sebelum akhirnya dia meminta ku menunjukkan tiket. Pintu pun ditutup dan bus segera melaju kembali.
Karena dilembar tiket yang kupunya tak tercantum nomor tempat duduk, aku mulai menyisir semua kursi dari depan kebelakang sambil menenteng bawaanku yang cukup banyak. Ku lirik ke kanan dan kiri mencari tempat duduk yang kosong. Cowok yang bersamaku beruntung karena sudah lebih dulu mendapat tempat duduk. Setelah mencari-cari akhirnya aku dapat tempat duduk meski hampir dibelakang. Tapi... napasku mendadak sesak. Keberadaan bangku kosong ini tidak sama dengan yang ku bayangkan sebelumnya, tapi mungkin lebih buruk. Aku duduk dideretan dua bangku. Disebelah tempat dudukku sudah ada seorang cowok yang bertubuh sangat besar tengah melamun menatap keluar jendela.
Saking gendutnya orang ini, dia bahkan nyaris menghabiskan dua kursi untuk badannya. alamaaak.. Ini untuk pertama kalinya aku bersyukur memiliki badan yang sangat kurus. Saat duduk, cowok gendut itu sempat menoleh sesaat kearahku. Tapi dia tak sempat membalas senyumku karena langsung menatap keluar jendela lagi.
Hhh.. yasudahlah bung. aku tak memaksamu membalas senyumku.
Aku menata barang bawaanku yang ku letakkan dibawah tempat duduk. Ku atur posisi duduk diatas sedikit ruang yang disisakan si cowok gendut disebelah kiriku. Bismilah, Perjalanan dimulai.
***
Aku sangat menyukai perjalanan jauh dimalam hari. Selain lalu lintasnya yang jarang macet, polusi juga tak separah disiang hari. Apalagi perjalanan Purbalingga-Cileungsi bisa memakan waktu hingga sepuluh jam lebih. Waktu yang lama ini nggak bakal terasa karena semalaman kita bisa tidur dibus. Kenyamanan yang selalu ku dapat setiap kali bepergian dimalam hari sepertinya tak kurasakaan saat itu. Malam dimana aku berada didalam bus dan duduk berdampingan dengan cowok gemuk yang membuatku nyaris jatuh kelantai bus lantaran kehabisan tempat duduk. Huh... harusnya yang duduk dideket jendela itu aku, bukan dia. hiks... Malam itu bus melaju dengan kecepatan sedang. Sejauh ini, selain sempitnya tempat duduk, aku tak memiliki keluhan apa-apa lagi selama cowok gemuk disebelah ku itu tidak terjaga dari tidurnya. Karena setiap kali membuka mata, cowok itu akan menggerakkan badannya untuk mendapat posisi duduk paling nyaman. Dan sialnya, setiap kali cowok itu bergerak, aku selalu terdorong keluar tempat duduk yang nyaris membuatku jatuh untuk kesekian kalinya. heeuh, sabar..sabar.
Satu jam berlalu. Hujan sudah reda sejak tadi ketika supir bus memasuki area pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Kesempatan ini dimanfaatkan betul oleh para pedangang asongan yang menjajakan dagangannya dimalam hari. Beberapa penjual makanan masuk kedalam bus. Sambil meneriaki dagangan mereka, dihampirinya satu persatu para penumpang. Ketika mendengar nama 'getuk goreng' dijajakan penjualnya, cowok gendut disebelahku langsung membuka mata dan mencari arah suara. Gayung bersambut. Membaca gelagat pria disebelahku, sipenjual langsung menghampiri.
"Harga nya berapa pak?"
"2000 sebungkus pak."
"klo gitu saya beli dua bungkus pak."
Sebuah transaksi kecil antara cowok gemuk disebelah kiriku dengan bapak-bapak penjual getuk terjadi didepan mataku. Biasa saja memang, tapi efek yang timbul dari transaksi ini membuatku ingin muntah. gimana enggak, saat hendak membayar makanan yang dibelinya, si cowok gendut mengulurkan tangan kanannya tinggi-tinggi hingga ketiak dari lengannya yang besar berada tepat didepan wajahku, lalu menyerahkan uang lima ribuan kearah si penjual yang berdiri disamping kananku. Aku merasa seluruh isi perutku berebut keluar hendak muntah saat dengan jelas hidungku menghirup aroma ketiaknya.
Emaaaaaaak.. ini bau ketek orang, ketek kebo apa bau sampah bantar gebang?? enggak perduli sama perasaan si cowok gendut, spontan aku menutup seluruh wajahku saat ketiaknya belum juga hilang dari peredaran mataku karena dia harus mengambil kembalian yang diserahkan penjual getuk. Sejak duduk disini aku memang seperti mencium bau yang sangat tak enak. dan ku pikir bau itu timbul dari luar bus yang masuk kedalam melalui jendela yang dibuka si cowok ini. Ternyata...
Pukul 11 malam bus tiba di Rumah makan khusus Sinar Jaya yaitu RM Panorama prupuk, Tegal. Hampir semua penumpang turun dari bus. Ada yang hendak solat, makan, ke toilet atau sekedar mencari udara segar diluar. Sementara aku memilih tetap ditempat untuk menjaga barang bawaanku. Aku beranjak dari kursi ketika cowok disebelahku hendak turun dari bus. ah senangnya.... moment tanpa cowok gendut disebelahku itu kumanfaatkan untuk menghirup udara segar sebanyak-banyaknya dari jendela mobil.
Setengah jam berlalu.
Para penumpang kembali ke tempat duduk masing-masing. Setelah semuanya di cek oleh seorang petugas dan dianyatakan siap berangkat, bus pun kembali melanjutkan perjalanan. Udara yang sempat terasa panas selama beberapa jam tadi kini mulai terasa dingin.
Aku melihat kesekeliling, lampu-lampu dibagian atas penumpang dimatikan oleh supir bus dan semuanya menjadi gelap dan sunyi. Aroma tak enak dari tubuh cowok disamping kiriku itu masih tercium jelas. Membuatku sulit memejamkan mata meski sebenarnya aku sangat ngantuk dan ingin tidur. Ku serongkan tubuhku kekanan dengan harapan penciumanku tak lagi menangkap aroma bau badan dari si cowok gemuk, dan ternyata berhasil.
Aku mendekap erat tas yang ada dipangkuanku sebelum akhirnya aku tertidur pulas didalam bus.
***
Pukul 5.00 pagi bus memasuki area Pool Cibitung, tempat bus-bus Sinar Jaya menaikkan, menurunkan atau untuk transit penumpang. Bus berhenti dan para penumpang turun satu persatu. Termasuk aku.
Aku berjalan tertatih-tatih membawa barang bawaanku yang cukup banyak, mencari tempat untuk ku beristirahat sejenak. Didepan pos yang letaknya persis di dekat pintu gerbang masuk bus, aku duduk dikursi panjang yang ada disana bersama dua penumpang lain. Saat duduk itulah aku teringat sesuatu. Yup, aku belum mengabari kakaku kalau aku sudah tiba di Cibitung dengan selamat. Aku bermaksud hendak mengambil handphone yang ku simpan didalam tas saat aku menyadari ada sesuatu yang hilang. Dompet, dompetku tak ada didalam tas.Aku mencoba untuk tak terlihat panik saat tanganku terus merogoh isi tas berharap dompet kesayanganku masih ada disana, ternyata nihil. Aku benar-benar lemas saat itu. Bahkan niat untuk segara mengabari kakakku pun ku urungkan lantaran aku syok berat. Seorang petugas berpakaian hitam menghampiriku.
"mbak mau kemana?" Tanya nya lembut.
"saya mau ke cileungsi pak. Bus yang ke cileungsi udah dateng apa belum ya, pak?"
"waduh, bus nya udah dateng dari jam 4 tadi mbak. udah pergi lagi. wah mbak ini kesiangan." Petugas itu lalu mengarahkan pandangannya pada bus-bus yang berjajar di depan kami. "Nah, naik itu aja mbak, bus yang ke terminal bekasi.Nanti dari terminal baru naik angkutan biasa yang ke cileungsi." Aku mengangguk lalu tersenyum pada bapak petugas itu lalu beranjak menuju bus.
Aku berjalan menyusuri badan bus mencari tempat duduk yang kosong. Rupanya hanya ada sekitar sepuluh orang di bus tersebut yang sudah mengisi bagian depan kursi-kursi penumpang. Aku memilih duduk sendirian di deretan tiga bangku agar bisa bergerak bebas. Setelah duduk dan bus mulai melaju, aku membongkar satu persatu barang bawaanku.Pertama-tama aku membongkar tas besar yang berisi pakaianku. Dengan rapi ku keluarkan isinya sedikit demi sekdikit, sambil mengingat-ingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan dompet lalu menyimpannya. Tas pertama telah selesai dibongkar tapi dompet ku tak juga ditemukan. Aku beralih pada tas besar kedua yang berisi oleh-oleh dari Purbalingga. Harapan terakhirku ada pada tas ini. Tanganku masih terus mencari hingga air mata mengalir begitu saja saat ku tahu pencarianku sia-sia. Aku yakin sekali kalau dompetku telah dicuri orang.
Seingatku, terakhir kali aku membuka dompet dan mengambil uang yaitu saat masih di Bukateja. Waktu itu aku membeli air mineral dan tissue disalah satu toko yang ada disana menggunakan uang sepuluh ribu rupiah. Lalu dompet ku masukan kedalam tas dilenganku sedangkan uang kembalian yang hanya empat ribu rupiah ku masukkan kedalam saku baju.Kesimpulannya, saat aku masuk kedalam bus pertama dompetku masih ada didalam tas. Aku lalu mengingat kembali saat-saat yang ku lalui selama didalam bus Sinar Jaya pertama. Saat aku masih tersiksa karena bau badan cowok gendut disebalah kiriku, hingga saat aku tertidur pulas di bus.
Cowok gendut disebelah ku kah yang mengambilnya....? Sepertinya bukan.
Tiba-tiba aku diingatkan pada sesuatu. Saat di bus, demi menghindari bau badan si cowok gendut, aku duduk menyerong ke kanan. Kearah kursi berjajar tiga. Posisi tasku waktu itu masih dipangkuanku dengan resleting yang tertutup rapat dan talinya yang kuselempangkan ditangan kiri. Sebelum tertidur, beberapa kali mataku berpapasan dengan tatapan seorang pria yang duduk dideretan tiga bangku tak jauh dariku. Tatapan pria itu aneh, dan yang lebih aneh lagi adalah posisi duduknya yang justru menghadap ke barisan kursi belakang tempatku berada. Aku kesulitan mengenali wajah pria bertopi dan berjaket coklat tua itu karena saat itu bus dalam keadaan gelap. Tak mau ambil pusing dengan pria itu, aku memilih tidur.
Aku sempat bangun beberapa kali ketika bus melewati tikungan tajam. Saat itulah ku cek barang bawaanku untuk meyakinkan kalau semuanya masih lengkap. Aku sedikit kaget ketika melihat tas dipangkuanku terbuka. Tapi karena posisinya yang tak berubah, aku tak punya pikiran jelek apa-apa dan segera menutupnya kembali dan melanjutkan tidur.
***
Dengan perasaan sedih, Aku merapikan isi tas besar yang baru saja ku bongkar. Bagaimanapun dompetku sudah tak ada. meski begitu aku bersyukur karena sipencuri tak mengambil handphone yang diletakan bersama dompet. Aku segera menelepon kakakku di Purbalingga. Sambil tersedu-sedu, kuceritakan apa yang baru saja ku alami. Beberapa penumpang yang ada didepanku tampak menghujaniku dengan tatapan penuh tanya. Saat berbicara ditelepon, aku memang tak mampu lagi membendung emosi dan air mata. Perasan sedih, marah, bingung bercampur jadi satu. Terang saja aku sangat terpukul. Selain berisi uang simpananku untuk seminggu kedepan, didompet itu juga berisi uang yang dititipkan kakakku untuk diberikan pada ibu. Dan selain itu ada KTP, kartu ATM, Kartu Jamsostek dan beberapa lembaran penting yang ku susun rapi didalam dompet.
Aku berhenti menangis dan segera memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke cileungsi. Aku memeriksa saku baju dan celana. Hanya uang empat ribu rupiah yang kutemukan disaku kanan bajuku. Dan itu tak cukup sampai ke cileungsi. Bingung yang luar biasa membuat mataku kembali basah. Ya Allah..bagimana ini?
Ponselku berbunyi. Abangku yang tinggal dipondok gede menelepon.
"Assalamu'alaikum, Neng." Sapanya dengan suara yang terdengar agak panik.
"Wa'alaikumsalam. ya 'a?"
"Tadi Nina telepon aa, ngejelasin semuanya. sekarang kamu lagi dimana?"
"masih di bus Sinar Jaya yang ke terminal Bekasi,'a."
"Ya udah, nanti klo udah diterminal, kamu tunggu didepan kampusnya hadi ya. Kampus Politeknik Gunakarya. Nanti 'aa suruh Hary jemput kamu. Udah tenang aja. Jangan nangis lagi ya. "
Aku mengiyakan ucapan abangku sebelum pembicaraan kami ditutup dengan ucapan salam darinya.
Tiba diterminal Bekasi, aku berjalan menuju kampus tempat kuliah Hadi, putra pertama abangku. Sekitar pukul 6.00 pagi, aku melihat Hary, putra kedua abangku datang menghampiri dengan mengendarai motor satria. Kami berbincang beberapa saat sebelum akhirnya aku meminta Hary agar mengantarku ke kantor polisi untuk membuat surat keterangan. Lanjut dari sana, Hary mengantarku pulang ke Cileungsi.
***
Semua yang ku alami selama dalam perjalanan pulang dari Purbalingga membawa banyak pelajaran berharga untukku. Diantaranya mengingatkan aku agar lebih waspada dan berhati-hati dalam membawa barang bawaan.
Ini memang pengalaman yang tak menyenangkan. Tapi bukan berarti aku kapok pergi jauh-jauh dimalam hari. Karena beberapa bulan setelahnya aku kembali pergi ke Purbalingga dengan tujuan yang sama. Refreshing. Semoga selanjutnya pengalaman buruk itu tak pernah terulang lagi.
***
Cileungsi, 26 Januari 2012


