In memorian of Ayat-Ayat Cinta

Posted by Violet 09.39, under | No comments

Terik matahari siang itu semakin membakar kulit. Debu-debu jalanan beriak terbang seiring laju kendaraan yang tak kunjung berhenti disepanjang jalan raya .
Aku dan seorang teman baru saja turun dari sebuah kendaraan umum. Kami menyebrangi jalan menuju ke junction, salah satu pusat perbelanjaan dikawasan Cibubur. Beberapa saat kemudian kami tiba dipintu masuk junction dan agak tergesa-gesa kami masuk.
Saat menaiki eskalator, hanya satu yang ada dipikiran kami berdua; tiba dilantai 4 dan segera membeli tiket film yang telah kami nanti-nantikan sebelum habis terjual. Kami beruntung siang itu. untuk bisa memperoleh tiket film Ayat-Ayat cinta yang pada masa itu tengah marak dibicarakan orang-orang di Indonesia, kami tak perlu mengantri. pasalnya bioskop buka pukul 12.00, sedangkan aku dan temanku tiba disana pukul 13.00. ku beli 8 tiket sekaligus untuk kami berdua dan enam orang teman kami yang akan datang menyusul.

Waktu terus berlalu. ku tatap arlojiku, ternyata baru pukul 2.00 siang sementara film yang akan kami tonton akan diputar pukul 3.00 sore. Sambil menunggu teman yang lain datang, aku dan sahabat yang menemaniku, mikdad duduk dilobi timur bangunan itu. tenggorokan ku kering dan perutku lapar. begitu pula yang dirasakan mikdad. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke hypermarket yang ada dilantai dasar untuk sekedar membeli minum dan makanan pengganjal perut. waktu itu kami masih anak kelas 3 Aliyah dan tidak memiliki uang saku yang cukup untuk sekedar membeli makan di foodcourt. hihi!

Setelah menunggu sekitar satu setengah jam akhirnya ke enam teman yang akan nonton bersama kami pun datang. mereka antusias sekali dan nggak sabar untuk segera masuk ke bioskop.
Pukul 14.45 kami bergegas naik ke lantai atas. meski langkahku sedikit berat lantaran tasku dipenuhi berbagai snack untuk camilan selama menonton film, aku tetap yang paling bersemangat dan selalu jalan didepan. ketika hendak menaiki eskalator ke lantai 3, kami bertemu dengan ina dan ana. dua adik kelas kami yang kala itu mengaku sedang menghabiskan waktu luang mereka untuk sekedar berkeliling di pusat perbelanjaan tersebut. setelah berbincang sebentar kami pun bergegas naik ke atas karena film akan segera diputar.

***
Pagi yang cerah...
dalam pendar cahaya mentari pagi yang kian menghangatkan bumi, ku ayun langkah kaki dengan perasaan damai menuju madrasah tempat ku menimba ilmu.
Tiba diruang kelas ku sapa semua teman-teman yang telah datang lebih dulu. pelajaran baru akan dimulai setengah jam lagi. cukup bagiku dan teman lainnya untuk saling menceritakan kembali kesan dan alur film ayat-ayat cinta yang kami tonton di bioskop kemarin sore.
aku dan teman yang lain sedang begitu bersemangat dan saling berebut memberi komentar lalu menceritakan kembali film tersebut ketika tiba-tiba seseorang masuk keruang kelas dan membuat kami semua serentak diam terpaku.
"assalamu'alaikum semuanya! bagi nama-nama yang saya sebutkan harap segera keluar dan berkumpul dihalaman madrasah." ucap orang itu yang tidak lain adalah kak bejo, ketua kesantrian di pesantren tempatku bersekolah.
kelas menjadi hening...
"astria, aulia, kulsum, reni, syifa, hanifah, umi dan mikdad. semua nya keluar dari kelas!"
Deg! jantung ku berdebar hebat mendengar namaku yang paling pertama disebut.
tanpa banyak bicara kami keluar kelas dan betapa terkejutnya kami ketika menyadari ternyata ada banyak anak yang terpaksa keluar kelas yang kemudian semuanya berkumpul dihalaman.
kami berbaris rapi dihalaman madrasah layaknya seorang terdakwa yang tidak tahu alasan kenapa kami harus keluar dari kelas.
kak bejo berdiri dihadapan kami semua dan mulai membuka pidatonya.
"kalian tau nggak kenapa kalian saya suruh kumpul disini?" tanyanya dengan suara lantang. kami menggeleng.
"kalian itu anak-anak yang melanggar tata tertib di Al-fatah ini. anak-anak pesantren ko berani nonton ke bioskop....." ketua kesantrian itu diam sejenak dan menatap wajah kami satu persatu.
" ini lagi, anak kelas tiga aliyah bukannya kasih contoh yang baik buat adik-adik kelasnya malah ngasih contoh buruk. kalian itu kan mudabbir, bener-bener bikin malu". begitulah yang diucapkan kak bejo pada ku dan teman-teman yang lainnya yang merupakan anggota mudabbir atau biasa dikenal dengan osis.
dari mana dia bisa tahu kalau kemarin kami pergi nonton? dan bagaimana dia bisa tau jelas siapa saja yang kemarin pergi bersamaku sementara kami pergi beramai-ramai..? berbagai pertanyaan berkecamuk dikepalaku.
"kemarin saya sengaja ngutus dua siswi untuk ngawasin tempat-tempat yang ada bioskopnya. jadi kalian jangan salahkan Ina sama Ana karena memang saya yang nyuruh mereka mencatat nama-nama kalian".
Damn!
kami tertangkap basah. tak banyak yang bisa kami lakukan saat melihat kak bejo mengacungkan secarik kertas yang berisi nama-nama kami selain menggerutu kesal lantaran kami dimata-matai oleh dua orang anak yang jelas-jelas lebih berpengalaman dari kami dalam hal melakukan berbagai pelanggaran. mereka bahkan sempat mengatakan pada kami saat bertemu di junction kemarin kalau mereka sudah menonton film ayat-ayat cinta dan mereka bilang film itu sangat bagus.
kami pasrah bagai tahanan yang siap dihukum oleh mereka yang berkuasa.
"mulai detik ini juga, kalian akan dihukum. kalian saya jemur didepan kelas sampai jam 11 siang. " tegas kak bejo.
sontak kami kaget dan segera mengajukan protes. meminta hukuman yang sedikit lebih ringan karena hari itu benar-benar sangat cerah hingga panas matahari sudah terasa menyengat kulit padahal jam baru menunjukan pukul 7.30 pagi.
keberuntungan memang belum berpihak pada kami nampaknya. tak ada toleransi. tak ada tawar menawar hukuman.
dan pagi itu kami berdiri sekitar empat meter dari pintu madrasah. berjejer seperi pagar yang masing-masing tempat kami berdiri diberi jarak satu meter.
oh god! benar-benar memalukan. teman ku yang lain, adik-adik kelas dan bahkan guru-guru kami ramai-ramai menonton kami yang sedang dihukum. mentertawakan kami dari balik jendela kelas yang berjejer rapi.
aku mendesah kesal. satu teman yang pergi bersamaku kemarin sangat beruntung hari itu. Aulia tidak masuk sekolah karena suatu urusan dan kali ini dia lolos dari hukuman. sementara nasib satu-satunya teman lelaki yang kemarin turut bersamaku, mikdad, ia tidak disuruh berjemur didepan kelas seperti kami, melainkan harus menggali lubang sampah yang ada dibelakang madrasah.

Hari semakin siang. mikdad, yang saat itu telah selesai lebih dulu menjalani hukumannya diperbolehkan istirahat. kepalaku pusing. kaki luar biasa pegal rasanya karena terus-menerus berdiri tanpa boleh duduk sedetikpun sementara tatapan mata kian mengabur lantaran beradu dengan terik matahari selama beberapa jam.
melihat ku dan teman-teman lain kepayahan, mikdad berinisiatif membelikan kami minum.
menit-menit yang menyiksapun perlahan berlalu. waktu hukuman kami telah usai dan kami diperbolehkan masuk kembali kekelas.

***
Desember 2010....
ku tatap bangunan madrasah yang masih berdiri kokoh. tempat ku dulu menimba ilmu selama bertahun-tahun. tak ada yang berubah dari bangunan itu. masih tetap berfungsi sebagaimana dulu aku dan teman-temanku menggunakannya.
dan semua memori yang pernah aku lalui disana berkelebat menghujani ingatanku.
semoga bangunan itu akan tetap kokoh dan semakin terjaga.......

***


Dear my friend,
Aulia, kulsum, hanifah, mikdad, syifa, umi dan reni...
apapun yang pernah kita lalui selama berteman dan belajar bareng, ga akan pernah terlupakan.

0 komentar:

Posting Komentar

My Music