Hari-hari ditempat kerja yang cenderung jauh dari kesibukan membuatku lebih banyak menghabiskan waktu kerja hanya untuk berjelajah didunia maya. Entah itu chatting, browsing, blogging atau sekedar facebook-an.
Aku bekerja sebagai admin gudang disebuah perusahaan keramik yang cukup besar di daerah Cileungsi. Job desk ku tak banyak, dan biasanya tugas utama yang diberikan oleh atasanku dapat terselesaikan hanya dalam waktu satu atau dua jam saja.
Suatu siang, seusai makan siang dikantin pabrik aku kembali kemeja kerja. kembali ku tatap layar komputer yang setengah jam lalu ku tinggalkan. Ku arahkan kursor pada kolom home dan mulai mengetik www.facebook.com. Enter.
Saat sedang asyik menjelajahi facebook, satu notification muncul dilayar. ku buka, seorang teman baru saja menulis satu postingan di salah satu group. Informasi lowongan kerja rupanya.
'Lowongan kerja untuk admin di PT Multistrada Arah Sarana Tbk. Syarat: Wanita, Lulusan Bogor Educare. Fasilitas berupa Gaji pokok, makan dan uang transport. Yang berminat bisa datang langsung tgl 19 September bertemu dengan ibu dian. info lebih lanjut hubungi Sri prahastuti, 0812xxxxxx'
Hmm.. cukup menarik. Belakangan ini aku memang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan baru. Alasannya karna upah yang ku peroleh ditempat kerja saat ini tak bisa memenuhi kebutuhan hidupku sehari-hari dan keluargaku. Aku mengenali contact person yang tertera dipengumuman tersebut.
Sri prahastuti atau yang biasa dipanggil riri kebetulan adalah salah satu temanku sewaktu kuliah di Bogor Educare (BEC). Maka begitu mendapat informasi tersebut aku langsung menghubunginya.
19 September 2011
Senin pagi Aku sudah siap berangkat ke perusahaan yang akan ku lamar. Dengan membawa berkas lamaran kerja yang sudah disiapkan dua hari sebelumnya, aku berangkat bareng riri. Perusahaan tempat riri kerja yaitu PT Multistrada Arah Sarana Tbk atau yang biasa disingkat dengan MASA berlokasi di Lemah Abang, Cikarang sedangkan aku tinggal di Cileungsi. biar nggak telat tiba disana, aku menginap di kosan riri yang letaknya tak jauh dari lokasi pabrik.
Dari beberapa keterangan yang Riri ceritakan, di perusahaan itu aku bisa memperoleh gaji dua kali lipat dari gaji yang kuperoleh ditempat ku kerja saat ini. ditambah lagi tunjangan-tunjangan lainnya. Jadilah aku semakin bersemangat.
Hari ini untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki diperusahaan yang memproduksi ban tersebut.
"Lo jangan heran ya as, di tempat kerja gue gak ada nama PT nya loh didepannya." terang riri saat kami berada dalam bus yang mengantar kami ke tempat tujuan. "masa sih, Ri? Pabrik besar kaya gitu gak ada namanya? aneh bener..." komentar ku.
Kalau saja aku tak datang bersama Riri, mungkin aku akan kesasar sebab seperti apa yang Riri bilang, meski ini pabrik besar, aku tak menemukan ada plang atau apapun yang bertuliskan nama perusahaan tersebut didepannya.
Saat memasuki area pabrik, aku sempat tertahan di pos satpam selama beberapa saat. Mereka meminta ku untuk meninggalkan kartu identitas disana, entah itu KTP, SIM atau kartu identitas lainnya namun aku tak memiliki semuanya. KTP ku hilang beberapa waktu lalu bersama dompet yang membawanya didalam sebuah bus. sedangkan SIM, aku memang tak punya kendaraan pribadi, jadilah aku dan Riri kebingungan. Lama aku membujuk satpam penjaga agar mengizinkan ku masuk untuk mengikuti tes recruitment disana hingga akhirnya mereka mengizinkan ku masuk setelah menelepon sesorang, mungkin bagian personalia. Entahlah.
"Good Luck ya As!" Riri tersenyum memberi semangat.
"iya. Thanks ya Ri dah bantuin gue." ucapku sambil menjabat tangan Riri dan kami pun berpisah karena Riri harus bergegas ke ruang kerjanya.
***
Aku memasuki sebuah gedung berwarna biru. Disana seorang receptionist memberi tahu dimana aku harus menunggu. Aku naik ke lantai tiga, dan ketika menemukan ruangan yang dimaksud, aku segera masuk dan membaur bersama puluhan calon karyawan yang juga akan mengikuti tes hari itu. Aku dan calon karyawan lainnya langsung menjalani tes recruitment berupa psikotes dan tes komputer.
Menjelang sore, semua tes telah selesai dan aku kembali ke Cileungsi.
Dua hari sejak mengikuti tes recruitment, pihak MASA menghubungiku. Melalui pesan singkat yang dikirim ke ponselku, Aku diminta datang kembali untuk mengikuti wawancara kerja. Aku sangat gembira menerima kabar tersebut dan rasa optimis dalam diripun kian tinggi. Setiap usai melaksanakan shalat ku panjatkan do'a pada Allah agar semua proses yang akan ku jalani dapat berjalan lancar sehingga aku bisa diterima bekerja disana dengan harapan kondisi ekonomi keluargaku akan jauh lebih baik. Dan demi memaksimalkan semua usaha ku, aku bahkan harus bolos kerja berkali-kali untuk memenuhi panggilan recruitment pihak MASA.
23 September 2011
Hari ini aku bolos kerja lagi sebab harus datang untuk wawancara di MASA. Untung saja kemarin Aku sudah meminta izin pada atasanku dengan menceritakan keadaan yang sebenarnya dan beliau mengizinkan.
Bismilah... Sebelum melangkahkan kaki keluar rumah, tak lupa Ku cium tangan ibu sambil minta di do'akan agar aku diberi kemudahan. Ibu tersenyum meyemangati. Pukul 7 pagi aku berangkat dari cileungsi menuju Lemahabang. Setelah perjalanan selama dua jam, sampai juga aku di MASA. Sambil tergesa-gesa lantaran waktu sudah menunjukan pukul 9.30, aku bergegas memasuki gedung utama. Aku sudah telat setengah jam. Setibanya dilantai dua, Aku langsung bergabung dengan sekelompok calon karyawati yang juga akan menjalani wawancara kerja. Aku menarik nafas lega. Saat ku tanyakan pada seorang calon karyawati, dia bilang wawancara belum dimulai, jadi aku belum terlambat.
Satu persatu dari kami dipanggil ke ruangan yang telah ditentukan. Selama menunggu giliran, aku banyak berbincang-bincang dengan teman seperjuangan yang duduk disamping kanan kiriku. Kami semua berjumlah 12 orang. Ada yang datang dari Karawang, Bekasi, Cibitung, bahkan adapula yang datang dari surabaya. Hmm.. Luar biasa semangatnya.
Dua jam berlalu terasa sangat lama dan aku masih menunggu hingga hari semakin mendekati waktu shalat jum'at. enam orang telah selesai diwawancara, masih tersisa enam orang lagi termasuk aku. Akhirnya aku dan lima orang yang tersisa memutuskan untuk mencari makan siang disekitar pabrik setelah kami diberi tahu oleh pihak HRD bahwa sesi wawancara akan dilanjutkan ba'da shalat jum'at dan kami diminta berkumpul kembali pukul satu siang.
Awalnya aku ragu membeli makan siang karna uang yang ku punya hanya tersisa untuk ongkos pulang. Tapi kondisi badanku yang terasa lemas karena tadi pagi tak sempat sarapan membuat ku nekat. Aku harus makan, dan soal ongkos pulang nanti bisa dipikirkan belakangan.
Seusai makan siang ku tunaikan shalat zuhur dimushala yang ada didalam gedung utama. Tak lupa kupanjatkan do'a agar Allah memudahkan segala urusanku.
Waktu terus berjalan dan sesi wawancarapun berlanjut. Seorang teman yang bernama Tyas beruntung karena menjadi yang pertama dipanggil diantara kami berenam. Sekitar lima belas menit kemudian Tyas keluar dari ruangan dan memberi tahu kami siapa yang selanjutnya diwawancara. Anehnya, seusai wawancara Tyas tak langsung pulang.
"gimana tadi wawancaranya? susah nggak pertanyaannya? ada itung-itungan nggak?" beberapa teman yang duduk bareng kami membanjiri Tyas dengan beraneka pertanyaan. "nggak, biasa aja kok. gitu-gitu doang pertanyaanya." Tyas menjawab santai.
"eh, tapi bu Dian bilang aku disuruh nunggu lagi disini. gak tau deh mau ngapain. mau ngapain ya..." Tyas diam sesaat tampak berfikir.
Bukan hanya Tyas, kami yang lain pun keheranan. Masalahnya kondisi ini berbeda dengan teman-teman yang sudah wawancara duluan, begitu selesai wanwancara mereka langsung pulang. Katanya pihak MASA bakal menghubungi mereka dalam beberapa hari kedepan jika mereka memang dinyatakan lolos.
Satu persatu dari kami telah selesai di wawancara dan semuanya diminta menunggu lagi termasuk aku yang paling terakhir dipanggil. Kami berenam menunggu lagi dengan harap-harap cemas.
Perasaan ku benar-benar tak karuan saat itu. Satu sisi ada perasaan lega dalam hati karna saat wawancara tadi aku bisa mengontrol diri agar tak gugup hingga bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Namun disisi lain ada perasaan takut yang menghantui. Aku sudah melewati tahap wawancara, dan itu artinya, ini adalah wawancara recruitment yang ketiga kalinya dalam empat bulan terakhir yang pernah ku lalui setelah dua kegagalan yang ku alami sebelumnya. dulu Aku gagal diterima bekerja disebuah perusaan kabel dan beberapa waktu kemudian aku gagal lagi diterima diperusahaan elektronik. keduanya gagal pada sesi wawancara.
Hari mendekati sore, semua peserta yang tersisa dikumpulkan dalam ruangan tempat kami melakukan wawancara tadi. diruangan inilah seorang staff HRD memberi pengarahan pada kami. Kami diberi tahu oleh beliau bahwa kami berenam ini adalah para peserta yang telah lolos seleksi pada sesi wawancara dan hanya tinggal menjalani satu tahap lagi sebelum dinyatakan bisa diterima bekerja disana. Kami harus melakukan MCU (Medical chekup). Tahap ini membuatku tak kalah waswas. Aku pernah menjalani MCU sekitar 1,5 tahun yang lalu, tepatnya saat melamar ditempat ku bekerja saat ini. Meski hasilnya bagus, tentu saja itu tak bisa menjamin apakah kesehatanku sekarang masih sama dengan yang dulu. Meski begitu aku tetap optimis dan yakin kalau Allah pasti akan memberiku yang terbaik.
Setelah mendapat surat pengantar untuk chek up dirumah sakit yang telah ditentukan, aku dan lima orang lainnya kembali ke tempat masing-masing.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu... Ya Allah, uangku tak cukup untuk ongkos pulang.
Ku lirik arloji yang melingkar ditangan, sudah pukul 16.30. Aku termenung beberapa saat, bingung. ku telusuri isi tas yang kubawa sambil berharap ada uang yang terselip, ternyata tak ada. Perasaanku semakin tak karuan. ku periksa satu persatu saku celana dan.. Alhamdulillah, aku gembira luar biasa karena menemukan uang sepuluh ribu rupiah disaku belakang celanaku.
24 September 2011
Hari ini aku mandi pagi-pagi sekali. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, Pukul 8 pagi aku harus sudah tiba di RS Harapan Keluarga yang berlokasi di kawasan jababeka, Cikarang untuk melakukan medical chekup. Dan itu artinya, aku harus bolos kerja lagi. Ya, karna ini hari sabtu sedangkan aku bekerja selama enam hari dalam seminggu.
Tiba dirumah sakit, aku bertemu dan berkumpul dengan teman lainnya, Tyas, Dian, Asri, Heny dan Fatma. Setelah melakukan konfirmasi dengan petugas RS, kami pun duduk ditempat yang disediakan untuk menunggu giliran.
Hari sejak dilakukannya medical chekup menjadi hari yang paling mendebarkan sepanjang sejarah hidupku dalam hal mencari pekerjaan. selama 24 jam sehari ponselku tak pernah sekali pun tidak aktif. Harapanku hanya satu, suatu saat pihak MASA akan menghubungiku kembali untuk memberi tahu bahwa aku dinyatakan lolos MCU dan bisa diterima bekerja disana.
Ponselku berbunyi, satu pesan masuk.
'Mba, gimana, udah ada kabar? diterima gak?'
SMS dari Heny, salah satu teman yang turut melamar bersamaku.
'Belum ni mba, kok lama ya.. udah hampir dua minggu. mba sendiri gimana? udah dikabarin?'
'Belum juga. aku sms ke temen2 yang lain juga katanya belum pada dikabarin. yadah, kita sabar.'
hhh... aku menarik nafas dalam-dalam. Always positif thinking, Astria!
Dalam harapan panjangku, aku tetap berusaha untuk berprasangka baik pada Allah. Allah pasti akan mengabulkan do'aku.
29 Oktober 2011
Ku rebahkan tubuh diatas kasur yang ada disudut kamar kos, mencoba melepas lelah yang menyelimuti tubuh. Harusnya aku sudah bisa pulang sejak siang tadi karena jam kerja dihari sabtu hanya setengah hari. Tapi berhubung masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, aku baru pulang pukul enam sore.
Dering lagu Friend or Foe nya Tatu terdengar nyaring di ponselku. Ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo" Sapaku pada si penelepon.
"Selamat sore! bisa bicara dengan mbak Astria?" sebuah suara ramah seorang pria terdengar dari sebrang.
"ya saya sendiri. ada apa ya?"
"Saya Rio, dari PT Multistrada Arah Sarana Tbk."
Jantungku tiba-tiba berdebar kencang, "oh pak Rio. ya ada apa pak?"
"begini mba, setelah kami menerima hasil medical chekup dari pihak RS, ternyata kami menemukan ada masalah pada kesehatan mba astria."
"Oh.., gitu ya pak. " Aku lemas.
"iya, tapi pihak kami masih memberi kesempatan mba untuk melakukan tes darah ulang. dan hasilnya kami tunggu sampai hari jum'at depan."
"hmm... tes darah aja ya pak? yang lainnya nggak perlu?"
"ya mbak. tes darah saja. tapi tes darah lengkap ya. mulai sekarang diusahakan banyak mengkonsumsi zat penambah darah. tes nya bisa dilakukan di RS yang kemarin, RS harapan Keluarga. Tapi mohon maaf, untuk chekup kali ini tidak dibiayai oleh perusahaan melainkan dari mbak sendiri." Pak Rio menjelaskan panjang lebar.
"klo tes nya di RS yang deket-deket sini boleh nggak pak?"
"ya boleh-boleh saja. Yang penting jangan lupa, hasilnya diserahkan hari jum'at depan tanggal 4 November. "
Oke pak. terimakasih banyak"
"ya sama-sama. selamat sore!"
Aku menarik nafas panjang. meski kabar yang ku terima barusan sedikit mengecewakan, tapi aku juga tak kalah senang. mereka masih memberi kesempatan padaku untuk melakukan tes darah ulang. itu artinya aku masih punya kesempatan.
3 November 2011
Sehari sebelum berangkat ke cikarang untuk menyerahkan hasil tes darah, aku masih diliputi kebingungan. Hari ini juga aku harus pergi ke RS, tapi bagaimana bisa berangkat kalau sekarang saja aku tak punya uang sama sekali untuk biaya tes darahnya yang aku sendiri belum tau berapa biaya yang harus ku keluarkan?
aku terus memutar otak. Berpikir harus kemana mencari pinjaman. pagi-pagi aku sudah menelepon teman-teman terdekat agar bisa meminjamkan ku uang tapi hasilnya nihil. Aku tak bisa menyerah begitu saja. ku coba meminjam ke beberapa teman kerja dan akhirnya aku berhasil. setelah mendapat pinjaman uang, aku segera meminta izin pada atasanku untuk keluar pabrik selama kurang lebih dua jam. Dan lagi-lagi bos ku yang baik hati mengizinkan.
***
Keesokan harinya aku menyerahkan hasil tes darah yang kemarin ku lakukan di RS MH Thamrin yang letaknya kebetulan tak jauh dari tempat tinggalku. Kembali berbekal pengharapan yang begitu besar, aku berangkat ke Lemahabang.
Setelah menyerahkan hasil tes darah ke MASA, hari-hari yang ku lalui menjadi hari yang kembali dipenuhi dengan do'a dan harapan.
'Ya Allah, aku telah berusaha semaksimal mungkin. Dan apapun keputusannya, ku pasrahkan segalanya pada kuasa-Mu, Rabb. Sesungguhnya Engkau lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Mu ini'
Sebenarnya kata-kata seperti ini yang harusnya ku ucapkan saat berdo'a pada Allah.. tapi tidak. Aku ingin kepastian.
"Ya Allah, telah banyak pengorbanan yang ku lakukan agar bisa memperoleh penghasilan yang lebih baik. aku mohon pada-Mu ya Allah, jangan kau sia-siakan segala upayaku ini. Aku mohon! Setelah berkali-kali aku gagal diterima bekerja diperusahaan yang menurutku lebih baik, aku harap kali ini Engkau lebih bermurah hati. Berilah aku kesempatan bekerja di MASA.. aku ingin melunasi hutang-hutangku dan ibuku, ingin bisa membahagiakan keluargaku, aku mohon ya Allah..."
Sambil berlinang air mata pengharapan, kata-kata ini selalu terucap disetiap bait do'a yang kupanjatkan pada Allah. Demi terkabulnya do'aku, tak lupa ku tunaikan shalat tahajud. Memohon dan memohon. Aku juga sering shalat hajat dan memperbanyak shalat-shalat sunnah lainnya. Tak putus-putusnya lisan ini memohon pada Allah agar aku diterima bekerja setidaknya diperusahaan yang menurutku lebih baik dari tempat ku bekerja saat ini. Aku berharap ini akan menjadi jawaban atas segala kesulitan ekonomi yang melilit ku dan keluargaku. Setidaknya mungkin dengan penghasilan yang lebih baik aku dapat sedikit demi sedikit membayar hutang yang tak ada habisnya.
***
Aku mungkin punya tuhan. Ya, aku punya tuhan, tapi sayang dia tuli. Dia bahkan tak bisa mendengar do'a yang selama ini ku panjatkan setiap saat. Setelah penantian yang sangat menyiksa akhirnya aku mendapat kabar kalau aku gagal diterima bekerja di MASA. Alasannya; Aku menderita Anemia.
"Apa salahku ya tuhaaaaaaaaan.... " aku menangis sejadi-jadinya. Semua memory perjuangan yang telah ku lakukan saling berebut memenuhi otakku, membentuk sebuah atom amarah yang kian meledak-ledak didada. Aku marah pada tuhan.
Aku yang harus berkali-kali bolos kerja demi memenuhi setiap panggilan, aku bahkan harus rela dipotong gaji atas tindakan mangkir dari pekerjaan, padahal gaji ku setiap bulan sendiri tak pernah bisa menutupi kebutuhan hidup keluargaku. Aku juga harus menelan omongan pahit dari teman-teman kerja yang selalu mengejek, mencela, atau memarahi karena kelakuan ku yang sering bolos. Alih-alih demi memperoleh penghasilan yang lebih baik aku malah harus berkali-kali meminjam uang pada teman agar usahaku bisa berjalan lancar, menambah deret panjang catatan hutang yang harus ku bayar setiap bulannya.
Aku marah pada tuhan yang mentakdirkan aku seperti ini. Mungkin tuhan memang tak pernah ada. Karena jika dia ada, dia tentu sudah mengabulkan do'aku.
Lantas untuk apa semua ibadah yang telah aku lakukan selama ini? Shalat wajib yang tak lagi ku tinggalkan, shalat tahajud, shalat duha, shalat hajat dan shalat-shalat sunah lainnya. untuk apa?!
Jika dia memang ada, seharusnya dia tak membiarkan hambanya ini kesusahan. kalau begitu kata-kata tuhan yang ditulis di kitabnya itu tak terbukti, yang mengatakan kalau tuhan itu menguji hambanya sebatas kemampuan. nyatanya, demi memenuhi kebutuhan ku dan keluargaku, aku harus luntang-lantung mencari pinjaman lantaran penghasilkan ku selalu tak mencukupi. Dan setidaknya setiap bulan aku harus selalu dipusingkan dengan tagihan hutang-hutang yang terus menumpuk hingga mencapai angka tiga kali lipat dari gajiku setiap bulannya. itu artinya, jika memang tuhan itu ada, dia tidak adil karena menguji hidupku melebihi batas kemampuan. Penghasilan pas-pasan, biaya hidup yang selalu meninggi, ditambah hutang yang kian menumpuk. Harusnya dia membantuku. kesimpulannya, jika memang tuhan itu ada, sudah pasti dia itu pembohong besar .
"kamu tau nggak, klo aja tuhan itu ada, manusia itu gak ada yang hidup susah, kan katanya tuhan maha kaya. Kalaupun dia emang ada, berarti dia itu kejam banget. buktinya, dia ciptakan manusia tapi hidupnya dibikin susah. Hampir di seluruh belahan dunia ada banyak manusia yang mati kelaparan. cuma orang-orang bego yang setiap saat minta sama sesuatu yang sebenarnya gak ada. " Pak Dar, seorang teman kerja yang sangat akrab denganku terus menghujani pikiranku yang kalut. Dan sejak saat itu pula aku jadi tahu kalau dia seorang atheis.
Sementara aku yang diajak bicara tak mampu melontarkan kata-kata penolakan karna sedikit demi sedikit nalarku mulai mencerna apa yang baru saja diucapkannya. Pak Dar menatapku tajam. Mungkin dia benar....
"coba kamu pikir, orang yang hidupnya cuma berdo'a dan berdo'a tanpa usaha pasti gak bakalan sukses. tapi orang yang selalu berusaha meraih kesuksesan, meskipun dia gak pernah berdo'a, dia pasti bisa sukses. Itu artinya, peran tuhan itu gak pernah ada. semua ya tergantung manusianya itu sendiri. mau seperti apa hidupnya. Saya liat kamu sholatnya rajin, apa tuhan kamu itu denger semua permintaan kamu? nggak kan?! sekarang saya tanya, kamu percaya nggak klo hidup setelah mati itu ada?"
aku mengangguk pelan.
"hhh.. Kamu bodoh!" Pak Dar menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum sinis ke wajahku.
"Manusia kalo udah mati ya mati aja. dikubur, selesai!. Kalaupun ada yang bilang setelah mati itu ada kehidupan lagi, itu sih cuma karangan orang-orang jaman dulu aja. kita sekarang cuma nerima cerita-cerita dari orang-orang terdahulu yang kita sendiri gak pernah bisa ngebuktiin kalau itu nyata apa nggak."
Sungguh, naluri kecilku ingin sekali marah pada pak Dar yang mengatakan kalau tuhan itu tak ada. tapi sayangnya kemarahan ku pada tuhan jauh lebih besar...
***
Dulu aku bersyukur sekali pada Allah yang telah memberi kemudahan bagiku dalam mendapatkan pekerjaan seperti yang sekarang masih ku jalani ini. Dulu di pabrik keramik ini aku hanya anak magang dari sebuah yayasan pendidikan gratis bernama Bogor Educare, tapi kemudian seorang manager dari departemen warehouse menawari ku pekerjaan untuk menjadi adminnya, dan tentu saja kesempatan itu tak ku sia-siakan. Setelah masa magang selesai, aku mengirimkan lamaran. Selama sebulan ku jalani tahapan recruitment hingga akhirnya aku diterima dan menandatangani surat kontrak kerja.
Awal bulan februari 2010 Aku mulai bekerja sebagai admin dengan upah UMR perbulannya dan berstatus karyawan kontrak. Bulan-bulan pertama bekerja semuanya masih berjalan normal. Aku sangat menikmati pekerjaan yang belum lama ku jalani. Berada diruang kerja yang nyaman, job desk yang tidak banyak, ditambah adanya fasilitas internet membuatku betah dimeja kerja. Dan selain itu semua karyawan disini begitu baik dan bersahabat.
Seiring waktu yang terus bergerak, aku mulai merasakan kondisi ekonomi yang kian menghimpit. Aku mulai sadar, pengeluaranku untuk menutupi kebutuhan hidup ternyata jauh lebih besar dari gajiku. Aku memutuskan untuk mencari pekerjaan lain yang bisa membayarku lebih besar. paling tidak aku bisa memperoleh pendapatan yang sesuai dengan besar kebutuhanku dan keluargaku. Keinginan untuk mencari pekerjaan baru sempat ku utarakan pada pak Anton, managerku. Beliau tidak melarang, bahkan cenderung mendukung karena di tempat ku bekerja, sangat kecil sekali kemungkinan bagiku yang hanya lulusan SMA bisa diangkat menjadi karyawan tetap.
Proses pencarian dimulai. Aku menyaring beberapa informasi lowongan kerja dari berbagai sumber; dari teman-teman terdekat, dari teman-teman di facebook, dari internet dan banyak lagi. Temanku merekomendasikan beberapa perusahaan yang sedang membuka lowongan kerja, dan aku mulai mengirimkan surat lamaran. Kebanyakan surat lamaran ku kirim melalui e-mail, tapi ada beberapa juga yang ku kirim melalui kantor pos atau menitipkan pada orang yang bekerja diperusahaan yang membuka lowongan tersebut.
Dulu ketika baru pertama kali mengalami kegagalan saat melamar kerja aku masih bisa ikhlas dan sabar. mungkin itu memang bukan yang terbaik bagiku dan aku yakin, selama aku terus berusaha dan selalu berdo'a, Allah pasti akan menjawab do'aku. Dan begitu pula setelahnya. Di beberapa kegagalan selanjutnya Aku juga tak terlalu kecewa karena saat melamar kerja statusku masih seorang karyawan. Namun seiring berjalannya waktu, semakin besar tanggung jawab ku terhadap keluarga, semakin giat aku mencari pekerjaan yang kurasa lebih baik, semakin banyak pula penolakan yang kuterima. Aku mulai putus asa.
Aku hanya manusia biasa, tak selamanya tegar, namun tak selalu dirundung putus asa. Semangat dan rasa optimis tertinggi ku miliki saat aku mencoba melamar di MASA. Dan semua harapan yang kupunya luluh lantak saat aku ditolak. Ya, Kondisi emosional ku berputar 180 derajat. Aku merasakan kekecewaan yang teramat besar karena dititik inilah aku melakukan pengorbanan yang tidak sedikit.
***
Ku lipat rapi sajadah dan mukena yang biasa ku pakai shalat dan menyimpannya dilemari. aku tak akan mengeluarkannya lagi. Sungguh! Bahkan Al-Qur'an yang selalu ku simpan di deretan paling depan dari buku-buku yang tersusun rapi di rak ku pindahkan ke deretan paling belakang agar tak lagi terlihat oleh mataku.
"hhh... benda tak berguna." aku tersenyum getir. Seusai merapikan kamar, Ku rebahkan tubuh diatas kasur dan kembali menerawang pada titik-titik kekosongan jiwa yang kian memenuhi ruang kehidupan ini.
"Ko gue perhatiin lo gak pernah shalat lagi sih teh?" komentar Ismail, adikku yang ke dua.
"hah, Shalat?? ,hahaha.. ngapain gue shalat?! gue udah gak percaya sama tuhan." Jawabku sekenanya dan kembali mengalihkan pandangan pada buku yang sedang ku baca. Mail bengong.
"dih parah banget sih lo, teh. gue aja ni ya, yang istilahnya masih jauh banget sama tuhan, gue masih percaya klo tuhan tuh ada. eh teh, tuhan itu ada. dia deket. ada dihati setiap manusia. cuma manusianya aja yang gak sadar."
"alah brisik. badan lo bau. sana mandi." Ku lempar handuk merah yang ada dikasur kearah Mail. Dia memang langsung pergi ke kamar mandi, tapi sambil melontarkan sederet protesnya atas pernyataanku yang bilang kalau tuhan itu tak ada.
"hhh... benda tak berguna." aku tersenyum getir. Seusai merapikan kamar, Ku rebahkan tubuh diatas kasur dan kembali menerawang pada titik-titik kekosongan jiwa yang kian memenuhi ruang kehidupan ini.
"Ko gue perhatiin lo gak pernah shalat lagi sih teh?" komentar Ismail, adikku yang ke dua.
"hah, Shalat?? ,hahaha.. ngapain gue shalat?! gue udah gak percaya sama tuhan." Jawabku sekenanya dan kembali mengalihkan pandangan pada buku yang sedang ku baca. Mail bengong.
"dih parah banget sih lo, teh. gue aja ni ya, yang istilahnya masih jauh banget sama tuhan, gue masih percaya klo tuhan tuh ada. eh teh, tuhan itu ada. dia deket. ada dihati setiap manusia. cuma manusianya aja yang gak sadar."
"alah brisik. badan lo bau. sana mandi." Ku lempar handuk merah yang ada dikasur kearah Mail. Dia memang langsung pergi ke kamar mandi, tapi sambil melontarkan sederet protesnya atas pernyataanku yang bilang kalau tuhan itu tak ada.
***
Aku duduk kembali menatap layar. Chatting dengan teman-teman.
Ghamuna: assalamo'alaikom. Hi Astria. :)
Astria_90: Wa'alaikumsalam. Hi Omar, How are you?
Omar, seorang teman didunia maya yang mengaku berasal dari pakistan selalu menyapaku setiap kami sama-sama online.
Ghamuna: I am fine. n you?
Astria_90: I'm not fine. :((
Ghamuna: Why? what happen? could you tell me....?
Astria_90: I'm so sad, angry and hopeless.
Ghamuna: what happened Astria? do you have a problem? tell me please. maybe I can help you dear.
Aku menarik nafas dalam-dalam. sejak mengenal Omar, kami memang sering bertukar cerita. entah itu pengalaman yang kami lalui atau apapun. Kadang melalui chatting, telepon atau SMS. Omar menjadi teman curhat yang menyenangkan meski kami belum pernah sekalipun bertemu.
Astria_90: Omar, may I ask you?
Ghamuna: yes of course.
Astria_90: do you believe in god?, is he real?
Ghamuna: Yes Astria. God is real. Allah is our god. why? I hope averything is okay.
Astria_90: I don't believe in god, Omar. There's no god in my life. do you know? I always try to get a new job but always failed. God never heard my prayers. He let me live in misery.
Kata-kata itu ku ketik begitu saja, seiring bulir bening yang mulai membasahi pipi. beberapa saat kemudian ponselku berbunyi. Omar menelepon tapi segera ku reject.
Astria_90: don't call me please. I just wanna chatt with you.
Ghamuna: Okay. I'm sorry. Astria, don't be sad. Allah always do the best for us. Never loose hope, Ast.
Astria_90: I really don't know what should I do now...
Ghamuna: Astria, I know you're a stronger. Always be patient and never leave shalat, Ast. Allah is with those who steadfastly persevere.
Astria_90: Exactly, Omar. One side I don't wanna be a looser, but I'm so angry with god because I have done everything but I got nothing.
Omar tak langsung membalas perkataanku barusan. Aku pikir dia kehabisan kata-kata dan ternyata setelah menunggu beberapa saat, ia muncul lagi.
Ghamuna: Astria, sorry I'm going off now.
Astria_90: hhhmm.. oke, never mind. we can chatt on the next time.
Satu menit kemudian.....
Ghamuna: Hey wait.. I read something.
Astria_90: what is that, Omar?
Ghamuna: Wait... I'll copy it for you.
-Allah answers prayers in three ways. 1.Allah says yes and gives you what you want, 2.Allah says no and gives you better, 3.Allah says wait and gives you the best in his own time. :) Read it by your eyes and your heart, Ast! :)
Ku baca dengan seksama kata-kata yang Omar tulis.
Allah menjawab do'a dengan tiga cara; 1. Allah bilang 'ya' dan memberikan apa yang kita mau. 2. Allah bilang 'tidak' dan memberi yang lebih baik. 3. Allah bilang 'tunggu' dan mengabulkan do'a kita pada waktu yang tepat.
kubaca lagi, kubaca lagi dan...
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang teramat berat menghantam kesadaran. Memecahkan semua kekosongan yang memenuhi ruang hati, menjadikannya buih-buih yang kecil yang perlahan terbang menjauh dan menyisakan bulir-bulir bening yang berkejaran menganak sungai dipipi. Allah.. Apa yang terjadi padaku...? Maafkan aku ya Rabb.....
***
Aku bersimpuh sujud ke hadapan-Nya. Memohon ampun atas semua khilaf yang selama ini memenuhi ruang hati dan pikiran. Aku tak tahu Omar itu seperti apa, aku juga tak tahu dari mana dia mendapat kata-kata penyejuk jiwa yang begitu indah itu. Yang aku tahu, Omar telah mengembalikan kesadaranku akan adanya Allah, membuatku mengerti arti sabar yang sesungguhnya, membuatku kembali menemukan semangat yang redup. Sekarang aku yakin, Allah pasti punya rencana yang lebih baik. Allah bukan tak mengabulkan do'aku, tapi menggantinya dengan yang lebih baik atau menundanya hingga waktunya tiba. Subahanallah....
Aku meraih mushaf yang telah lama ku abaikan. Ku baca kembali ayat-ayat Al-qur'an dan mencoba untuk lebih mendalami artinya.
Malam itu, seusai shalat magrib ku baca surah Arrahman.
"fabi ayyi ala i robbikuma tukadzibaan: Ni'mat tuhan yang mana lagi yang kamu dustakan...?"
Ayat ini membuka mataku dan menyadarkan betapa aku begitu angkuh selama ini. Aku yang jarang bersyukur atas semua karunia yang telah Allah berikan padaku.
Seharusnya aku lebih banyak bersyukur; bersyukur karena aku telah diberi pekerjaan dan memiliki penghasilan setiap bulannya sementara masih banyak orang diluar sana yang berjuang susah payah untuk memdapatkan pekerjaan, bersyukur karena aku memiliki atasan serta rekan-rekan kerja yang sangat baik, yang membuat hari-hari kerja yang ku jalani jadi menyenangkan. Selain itu, Jika bukan karena hasil tes darah yang ku lakukan kemarin, mungkin seterusnya aku tidak akan perduli pada kesehatan.
***
Dipagi yang cerah ini, ku buka jendela kantor yang menghadap ke taman kecil disamping bangunan. Angin segar bertiup lembut diudara, menerpa wajah, mengantarkan sejuk pada rerimbun pepohonan yang berjajar angkuh, membawa alam pikiran ku menerawang jauh kemasa lalu.
Waktu kecil, saat ditanya ingin jadi apa jika sudah besar nanti, dengan antusias aku menjawab, 'ingin jadi dokter'. Namun memasuki usia remaja, aku justru bercita-cita ingin menjadi seorang penulis. Keinginan itu tertanam sejak aku mengenal dan membaca buku-buku karya penulis terkenal seperti Asma nadia, Gola Gong, Pipiet Senja, dan banyak lainnya. Dan tentu saja, harapanku adalah aku bisa menjadi penulis terkenal seperti mereka. Aku teringat pada buku berjudul Langit Jingga Dihatiku karya Pipiet Senja yang pernah kubaca. Dalam buku itu Pipet Senja mengatakan 'usia sebuah buku bisa lebih panjang dari pada usia penulisnya itu sendiri'. Luar biasa!
Lalu kenapa aku harus marah pada tuhan saat berkali-kali aku ditolak diterima bekerja diperusahaan yang ku lamar? cita-citaku menjadi penulis, inilah yang harus ku perjuangkan. Bahkan seorang penulis hebat sekalipun pasti pernah merasakan jatuh bangun dalam meraih cita-cita mereka hingga nama mereka jadi besar dan bisa melekat dihati para pecinta buku.
Maafkan aku ya Rabb... Engkau pasti punya rencana yang lebih baik bagi hamba-Mu ini... Aku yakin. Someday, my dreams will come true....
Cileungsi, 11 Januari 2012
2 komentar:
Buat mba Astria,,,,,perkenalkan nama saya Kan Rudy,,boleh di panggil Rudy,,,,saya membaca cerita Mba sampai begitu terharu,,sama ketika saya melamar di PT,MULTISTRADA ARAHSARANA Tbk,,,,,,benar" penuh perjuangan ,,,,,
salam kenal rudy. :)
makasih udah mampir.
Posting Komentar