Karena Sepucuk Surat

Posted by Violet 09.38, under | No comments

Perbincangan hangat itu masih jelas terdengar diteliga. ke empat teman ku yang tinggal bersama dalam satu asrama dan berasal dari daerah yang sama itu tengah heboh dengan adanya berita kalau pusat pesantren Al-fatah di cileungsi, lebih tepatnya tempat tinggal kami tengah kedatangan banyak santri baru yang mendaftar baik sebagai santri baru di madrasah tsanawiyah maupun madrasah aliyah.

waktu itu, setelah lulus dari madrasah tsanawiyah Al-fatah cileungsi, aku dan tiga orang teman ku memutuskan untuk melanjutkan sekolah dimadrasah Aliyah Al-fatah cilacap. tujuan kami sama, ingin punya pengalaman baru.
Fatmah, adik kelas yang sekaligus keponakan teman ku mengatakan kalau di cileungsi banyak santri baru yang masuk ke madrasah Aliyah. tentu hal itu membuat ku dan ketiga teman ku, Kulsum, Hanifah dan Yuni menjadi penarasan.
"katanya anak baru kelas satu aliyah yang cowonya pada ganteng-ganteng lho". jelas Fatmah yang mengaku mendapat informasi tersebut dari teman sekolahnya di Al-fatah Cileungsi.
"masa sih? emang berapa orang anak barunya? yang ganteng siapa namanya..?" tanya hanifah sambil senyam-senyum.
"ya banyak.. ada Suhendra, Munif, terus klo ga salah sih yang paling ganteng tu Fadil namanya".
"emang seganteng apa sih? sampe heboh gitu?" tanya teman yang lain menimpali.
" ya ganteng pokonya mah. Amah juga belum liat sih, tapi kata temen mah fadil tu ganteng, tinggi, manis banget. "
"iiiih.. jadi penasaran".

Begitulah perbicangan kecil diantara teman-teman yang sempat ku simak. jujur aku tak begitu tertarik. bagiku tampan itu kan relatif. jika mereka bilang anak itu tampan, buatku belum tentu. lagi pula bagaimanapun aku tak akan kenal dengan anak-anak baru itu karena meskipun sama-sama sekolah di Al-fatah tapi kami beda tempat, aku dan tiga teman ku di Cilacap sementara anak-anak baru itu di Cileungsi.

enam bulan sejak mondok di Cilacap, aku terpaksa harus kembali pindah ke Al-fatah Cileungsi dan melanjutkan semester dua di sana karena suatu urusan. Alhasil, begitu surat kepindahan ku telah selesai diurus, jadilah aku anak baru didaerah tempat tinggal ku sendiri.
Masuk keruang kelas baru memang sedikit asing bagiku, tapi tidak dengan murid-murid yang menghuni kelas tersebut. beberapa dari mereka adalah teman-teman ku semasa di tsanawiyah dulu. Mereka menyambut hangat ke datanganku. aku diperkenalkan dengan beberapa wajah baru yang sebelumnya tidak pernah ku kenal. pastilah mereka anak baru disini. begitu pikirku.
Saat pertama kali menginjakkan kaki diruang kelas baru, aku sedikit kaget melihat kondisi ruang kelas yang belum pernah aku jumpai sebelumnya. ruang kelas itu di sekat dengan pemisah yang dibuat dari papan teriplek, yang memisahkan antara meja belajar santri putra dan putri. sedangkan meja guru dan papan tulis terletak persis didepan dinding pembatas.
tiba tiba aku ingat percakapan kecil yang pernah ku dengar di asrama saat masih mondok dicilacap. Fatmah bilang kalau anak baru di kelas satu aliyah  ini tampan-tampan. Bener gak sih? Meski masih malu-malu karena merasa anak baru, ingatan ku pada ucapan Fatmah sangat menggelitik dan memaksaku memberanikan diri untuk bertanya.
dari beberapa teman lamaku, aku mencoba mengorek keterangan dari Nurjanah dan Umi. dua santri yang sudah ku kenal sejak kami sama-sama sekolah di madrasah tsanawiyah Al-fatah Cileungsi.
"eh nur, anak baru nya banyak ga sih?" tanyaku pada Nurjanah.
" ya lumayan, tapi banyak juga yang baru masuk udah keluar lagi". jelas Nur sambil tersenyum.
" ko kelasnya disekat gini yah.... ga bisa ngobrol sama anak cowo donk..." bisikku pada Nur dan teman lainnya. kami tertawa.
"iya sih, tapi.. ah gak ada bedanya ko. klo istirahat kita masih bisa ngobrol rame-rame" jelas Umi.

waktu istirahat tiba. sementara para siswi masih duduk santai dikursi, para siswa justru berebut keluar kelas dengan suara gaduh yang tentu saja mengganggu ketenangan para siswi karena untuk keluar masuk kelas mereka harus melintas didepan kawasan kami. diam-diam ku perhatikan wajah anak-anak cowok yang melintas.
ih, katanya ganteng-ganteng? kayanya biasa aja. batinku.
" nah itu namanya Suhendra, biasa dipanggil suhe. yang itu tuh, yang barusan lari namanya Hendra, klo ini nih, Munif. orangnya suka usil. " terang Syifa, teman baruku.
beberapa saat kemudian seseorang muncul dari balik dinding pembatas. santri putra yang tidak aku kenal.
"mi, itu syapa?" bisikku pada Umi.
"mana? itu yang barusan lewat? klo itu Fadil"
Oh god, jadi itu anak baru yang menurut adik-adik kelasku paling tampan dikelas satu aliyah?
Spechless... karena bagiku, Munif, yang postur tubuhnya lebih tegap dan kulitnya putih bersih lebih tampan dari pada Fadil meski ku akui dia punya senyum yang manis penuh karisma.

---***---

Hari demi hari berlalu begitu cepat. suasana hangat yang tercipta dari keakraban ku dengan teman teman dimadrasah semakin kental ku rasakan. aku bahagia bisa menjadi bagian dari mereka yang begitu mudah menerimaku. Bukan hanya dengan santri putri yang kurasa semakin akrab, tapi juga dengan santri putranya. mereka semua menyenangkan. banyak waktu luang yang kami habiskan untuk sekedar bercanda ria, berbagi masalah, dan bertukar pikiran. semakin lama, karakteristik dari masing-masing temanku telah aku kenal dengan baik. dari mulai Syifa, yang sangat menyukai film dan lagu-lagu india, Aulia, yang senang bercerita tentang teman-teman barunya didunia maya, Munif, yang terkenal badung, suka jahil dan senang menggoda santri putri, hingga Fadil, yang sedikit pendiam namun senang bercanda.
Memasuki tahun kedua di madrasah aliyah, kebahagiaan ku semakin lengkap ketika dua orang temanku yang dulu sekolah di Cilacap bersamaku yaitu Hanifah dan Kulsum turut pindah ke Al-fatah cileungsi dengan alasan tidak betah dan ingin sekolah didaerah tempat tinggal mereka saja. jadi hanya setahun mereka mondok di sana.

---***---

memasuki kelas dua aliyah....
Beberapa malam terakhir aku sering tidur larut malam. menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekedar sms-an dengan orang-orang baru yang belum pernah ku kenal dan tak jarang pula berlama-lama menerima telepon dari mereka yang mengaku senang berkenalan dengan ku.
Bagai anak ABG yang tengah kasmaran, aku sering bercerita dengan teman-teman dikelas bagaimana aku bisa menjalin komunikasi dengan banyak orang tak dikenal dan bertukar pikiran dengan mereka.
" masa dia bilang dia suka sama gue sum.. kan gue bingung.. gimana dong?" tanya ku pada Kulsum tentang salah satu teman baru bernama Agustiar yang baru sekali ku temui.
"ya terserah lo... lo nya suka nggak ma dia... klo suka ya terima aja. kan dah lama ngejomblo." jawab Kulsum ringan.
aku menarik nafas panjang. meski ku yakin dia orang baik, tapi entah kenapa hatiku memilih untuk menolaknya karena aku merasa ada orang lain yang telah lebih dulu menempati ruang hatiku.

Ke esokan paginya, Syifa menyerahkan sepucuk surat padaku. Saat ku tanya siapa pengirimnya, Syifa tak memberi tahu. Dia hanya menyuruhku untuk segera membacanya. Perlahan ku buka lembaran kertas itu dan mulai membacanya.
------------------------------------------
" meski kau terus sakiti aku.. cinta ini akan selalu mema'afkan. dan aku percaya nanti engkau mengerti bila cintaku tak kan mati......" (ramaband)

dear Astria putriatun,
Sejak pertama kali saya melihat kamu, saya tau ada perasaan yang beda dihati saya. saya sangat suka lihat kamu yang pendiam, alim, ramah, manis dan murah senyum.
tapi belakangan ini saya kecewa sama kamu. sejak kamu punya hp, kamu berubah. kamu bukan lagi akhwat yang saya kenal dulu. kamu tidak sependiam yang dulu. sekarang dikelas saja kamu lebih sering membicarakan tentang laki-laki yang sedang dekat sama kamu. bahkan saat jam pelajaran berlangsung saja kamu lebih sering ngobrol soal laki-laki yang baru kamu kenal itu dari pada memperhatikan guru yang sedang menerangkan. kamu berubah dan saya sangat kecewa. saya lebih suka kamu yang dulu.

Asal kamu tahu, sejak pertama kali kenal, aku tulus mencintaimu dari hatiku yang paling dalam.

ttd,

Fadil

----------------------------------------------------


Aku terpaku beberapa saat setelah membaca surat itu.  Airmata perlahan menetes.  Kenapa aku tak pernah menyadarinya?  kenapa aku tak pernah tahu bahwa ada orang yang selama ini diam-diam suka padaku?
Sebelum membaca surat itu, aku tidak pernah mengerti kenapa Fadil sering malu-malu saat berpapasan dengan ku, sering menundukan pandangan saat kedua mata kami tanpa sengaja saling beradu. sebelum membaca surat itu juga aku tak mengerti kenapa Fadil menatapku penuh amarah ketika aku bercerita tentang cowok yang menyatakan cintanya padaku tepat saat dia duduk tak jauh dari tempatku.
dan pagi itu, ku temui semua jawaban atas pertanyaanku tentang Fadil yang diam-diam telah lama mengisi ruang hatiku.

---***---




0 komentar:

Posting Komentar

My Music