Neny

Posted by Violet 09.40, under | No comments

Aku mengenal Neny sekitar 9 bulan yang lalu. ketika gadis berusia 15 tahun itu bekerja sebagai pelayan koperasi diperusahaan tempat ku bekerja. Saat pertama kali berkenalan dengannya, gadis yang tidak pernah lulus SD itu ku kira lugu dan tak banyak bicara. tapi waktu yang terus berjalan membuat pandangan ku tentangnya menjadi berbeda. Neny gadis yang ceria. Dia tak pernah mengeluh saat harus melayani puluhan karyawan yang datang silih berganti minta dibuatkan kopi, teh manis, mie instan atau apapun. bahkan ketika dia harus bekerja sendirian karna Rosita, gadis sebayanya yang dulu bekerja bersama nya harus dikeluarkan dari pekerjaannya karna dianggap berprilaku kurang baik.


Neny tetap gadis baik, yang seiring dengan waktu dia menjadi satu-satunya teman curhatku lantaran tempatku bekerja didominasi hampir 90% kaum pria.
Setiap pagi, sebelum memulai aktifitas bekerja aku selalu mampir ke koperasi karyawan yang kebetulan letaknya berada tak jauh dari kantor ku. Biasanya dari kejauhan neny senyam-senyum melihat kedatanganku. seperti biasa juga, ucapan yang pertama terlontar darinya adalah kritikan mengenai penampilanku hari itu yang dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan, "hari ini mau sarapan apa kita?"
Hampir setiap pagi kami sarapan bersama dikoperasi. kadang kami makan ketoprak yang sengaja ku beli di penjual yang mangkal didepan gerbang pabrik, atau sarapan nasi uduk yang dijual dikoperasi.
Neny gadis yang murah hati. Pun ketika aku kebingungan mencari pinjaman uang untuk membayar sewa kosku. Neny yang upah perbulannya hanya separuh dari gajiku dengan sukarela meminjamkan ku uang meski saat dia menyerahkannya diiringi kata-kata yang mengejekku. "ih kamu mah, abis gajian ko malah pinjem uang.."
atau "aku pinjemin tapi ada syaratnya ya, sore ini pulang kerja anterin aku belanja trus uang pinjemannya dibalikin pas aku mau pulang kampung, Oke?"
Begitulah Neny, baik hati, sedikit bawel namun sangat menyenangkan untuk dijadikan teman curhat.

***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan hubungan ku dengan Neny kian bertambah akrab dari waktu ke waktu. Neny juga pernah mengajakku mengunjungi kontrakkannya dan disana aku diperlakukan sangat baik oleh Neny dan keluarganya. Segalanya masih berjalan normal hingga suatu kejadian merubah segala keakraban yang terjadi antara aku dan Neny, kenyataan pahit yang menyisakan jurang terdalam pada hubungan persahabatan kami.

Rabu, 7 Desember 2011

Siang itu aku tengah disibukkan dengan tugas kantor yang harus ku setorkan pada atasanku ketika seorang satpam datang keruanganku.
"permisi bu astria." sapanya sopan seraya menghampiri meja kerjaku.
"ya ada apa pak?"
"maaf bu, tadi sesorang menelepon saya, meminta saya untuk menjemput ibu".
"loh, kemana?" tanyaku heran.
"ke kantor PUK bu. ibu sudah ditunggu disana."
kantor PUK? kantor organisasi di perusahaan ini? ada apa?
Masih diliputi keheranan yang teramat besar ketika akhirnya aku beranjak dari tempat duduk dan mengikuti langkah satpam yang hendak mengantarku ke tempat yang dituju. dalam hati aku terus menebak-nebak, apa karna beberapa kali aku tidak masuk kerja sehingga harus menghadap PUK dan terancam di keluarkan? atau kinerja ku yang kurang baik selama bekerja disini? aku tak tahu.

ku ketuk pintu ruangan tempat orang-orang menungguku. mas Irwan, salah satu anggota PUK yang kebetulan satu departemen denganku membuka pintu dan mempersilahkan ku masuk. tiba-tiba perasaan yang sangat tak enak menyergap saat ku lihat ternyata diruangan itu ada beberapa orang yang tak kukenal dengan mimik wajah menyeramkan yang semuanya menatapku tajam. pastilah mereka para anggota PUK yang tidak pernah ku kenal. begitu pikirku. namun yang membuatku mulai khawatir adalah, diruangan itu ada pak Kodir yang menjabat sebagai pimpinan koperasi karyawan, ada juga pak Muji yang sering turut menangani urusan koperasi dan yang paling membuat ku syok adalah keberadaan Neny yang duduk persis ditengah kerumunan orang-orang ini. Neny dengan wajahnya yang merah padam duduk disofa yang disebelah kirinya duduk seorang pria yang akhirnya ku ketahui beliau adalah ketua PUK diperusahaan ini, pak Gatot.

"kamu tahu nggak kenapa kamu dipanggil kesini?" pak Kodir bertanya lembut seraya menatapku beberapa saat setelah aku duduk disebelahnya. aku menggeleng.
"tuh, Neny, dia yang selama ini malingin duit koperasi". pak Kodir menekan suaranya dan berkata dengan nada keras sambil mengarahkan telunjuknya tepat kewajah Neny yang duduk berhadapan denganku.
Aku tersentak. "Neny?"
"Nih lihat, ini uang yang dia ambil hari ini. 1.600.000 rupiah. belum lagi yang kemarin-kemarinnya."
Tangan pak Kodir beralih ke beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang tergeletak diatas meja sofa yang berada ditengah kami semua. matanya menyiratkan kebencian yang luar biasa pada sosok Neny. Sementara aku mematung tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Untuk beberapa saat dengan susah payah ku serap kembali kesadaran diri yang terasa mengabur bersama suara-suara yang kian meyakinkan nalarku bahwa yang terjadi diruangan itu bukanlah mimpi.

Pak Kodir menjelaskan, Neny telah berhasil masuk perangkap yang dibuat oleh nya dan rekan lainnya untuk menjebak si pencuri uang koperasi yang selama ini tak pernah diketahui siapa pelakunya. Hari itu pak Kodir telah menyiapkan sejumlah uang yang telah diberi tanda dan akan diletakkan dilaci tempat mereka biasa menyimpan uang.
Ruang koperasi terdiri dari tiga bagian; ruang utama yang berisi rak-rak tempat segala macam barang yang dijual koperasi, meja kerja mbak tuti selaku admin sekaligus penanggung jawab keuangan dan juga terdapat lemari besi tempat menyimpan barang-barang penting termasuk uang yang diletakkan persis dibelakang meja kerja mbak tuti. Ruang kedua bisa juga disebut dapur koprasi. diruangan inilah Neny bertugas, melayani karyawan yang minta dibuatkan aneka macam minuman. Dan ruangan ketiga adalah gudang koperasi.
Dari cerita pak Kodir, ketika 'uang jebakan' telah diletakkan di lemari, mbak Tuti pergi keluar ruangan dan mengatakan pada Neny kalau dia akan pergi belanja. ketika itulah Neny beraksi. mengetahui tak ada seorangpun didalam ruang utama koperasi, Neny mengambil uang dilaci yang memang sengaja tidak dikunci.

Dan siang itu semuanya terungkap. Rasa kaget bercampur sedih mengalahkan segala keletihan yang mendera tubuhku yang belum istirahat sama sekali sejak tadi pagi lantaran baru tiba dari kota Purbalingga menjenguk adikku yang mengalami kecelakaan. Aku masih termenung tak percaya ketika pak Gatot, selaku ketua PUK bertanya padaku.
"astria, apa bener kamu pernah dipinjamkan uang sama nNeny?"
Aku tak lantas menjawab. aku teringat pesan singkat yang Neny kirim ke ponselku beberapa saat sebelum satpam menggiringku keruangan ini.

'say, nanti klo ada yang tanya kamu pinjem uang ke aku apa enggak, bilang aja nggak ya.'
ku balas sms Neny, 'sip. emang kenapa say? ada yang mau minjem uang ke kamu ya?'
'nggak. pokonya bilang aja gitu. lagi ada masalah nie.'
'masalah apa?'

'uang'
Aku tak membalas lagi pesan terakhir Neny karena harus fokus ke komputer untuk menyelesaikan tugas.

pak kodir mengulangi pertanyaan yang diucapkan pak Gatot sambil menatapku dalam dari balik kacamatanya. "apa bener kamu pernah pinjam uang sama Neny?"
"iya pernah. tapi udah dibayar itu mah pak." suara Neny lantang menjawab pertanyaan yang dilontarkan pak Kodir padaku.
"Diam kamu!" sentak pak Kodir penuh amarah.
"ya pak, aku pernah pinjam uang sama Neny. tapi sudah lama dan itupun sudah ku bayar." aku menjawab setenang mungkin meski nurani ku penuh dengan gejolak penyesalan karna yang ku sampaikan tidak sesuai fakta yang ada. aku memang sudah dua kali meminjam uang pada Neny, pertama sekitar sebulan yang lalu dan sudah ku kembalikan sesuai perjanjian. sedangkan yang kedua kalinya yaitu empat hari yang lalu. ketika aku mendapat kabar dari kakak ku di Purbalingga bahwa adikku yang tinggal bersamanya baru saja mengalami kecelakaan sedangkan aku tak memiliki uang sama sekali untuk melihat kondisinya. Neny yang kala itu ku ceritakan kesulitan yang kuhadapi meminjamkan ku uang hingga aku bisa berangkat menjenguk adikku. Tentu saja aku belum mengembalikan pinjaman yang terakhir tadi karna aku baru dapat mengembalikannya akhir bulan.
Beberapa saat ku tatap wajah Neny dalam-dalam. gadis baik yang selama ini ku kenal ternyata tak lain adalah seorang pencuri. Ya Allah..

Begitu banyak keganjilan yang kurasakan terhadap Neny selama ini namun aku selalu berusaha untuk tak berprasangka buruk. tapi kenyataannya?
Sekarang aku jadi mengerti kenapa Neny sering kali mengajakku berbelanja di mall dan menghabiskan ratusan ribu rupiah padahal tanggal-tanggal gajian masih lama.
Neny juga belakangan ini tampil lebih mewah dengan seperangkat perhiasan emas yang dikenakannya. Kalung, cincin, gelang dan juga anting. Entah aku yang terlalu naif atau memang segala kebaikan Neny yang membutakan mataku. Ironisnya, ketika di gali lebih dalam, semua kehilangan yang di alami koprasi mencapai hampir 50 juta rupiah. Jumlah yang membuat kami semua yang hadir disana terbelalak tak percaya. Dari pengakuan Neny juga diketahui bahwa Rosita, kerabat yang dulu pernah bekerja bersamanya pernah menggelapkan uang koprasi sebelum dia dikeluarkan.
satu fakta yang tidak ku mengerti adalah, selama bekerja dikoprasi Neny telah berkali-kali melakukan tindakan pencurian yang menyebabkan koperasi mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah, tapi kenapa baru sekarang ini para pengurus koperasi berani mengambil tindakan? bukankah kejahatan juga dapat timbul karena adanya kesempatan? seandainya sejak kehilangan pertama atau kedua kalinya mereka dapat mengambil langkah serupa lebih awal tentu tindakan tak terpuji Neny dapat dihentikan lebih dini, tepatnya sebelum Neny 'ketagihan' mencuri dan koperasi belum mengalami kerugian yang begitu besar.
Masih diruangan PUK, pak Kodir mendesak Neny untuk mengakui semua kejahatannya. Pak Kodir yang mengintrogasi dengan penuh emosi sementara Neny yang membantah mati-matian semua tuduhan dengan suara lantang dan sorot mata berkilat-kilat, membuatku tak percaya kalau gadis itu adalah sosok Neny yang pernah ku kenal. Sungguh, dadaku sesak menahan kekecewaan yang teramat dalam namun aku berusaha keras untuk tak menitikkan air mata dan bersikap setenang mungkin didepan orang-orang yang sedang mengadili Neny.

Jam-jam berikutnya aku diminta menemani Pak kodir dan mbak Tuti menjemput Rosita kerumahnya. Kami didampingi seorang satpam dan seorang OB yang menjadi penunjuk jalan menuju ke kediaman rosita. Jarak tempuh yang lumayan menguras waktu kami.

Ketika diperjalanan menuju rumah Rosita, aku menyempatkan diri mengirim sms untuk Neny,
'Neny, aku kecewa banget. tapi gimanapun juga kamu sabahat terbaik aku selama aku kerja disana. aku sayang sama kamu. aku gak mau kamu ditahan diruangan itu selama berjam-jam apalagi sampe dipenjara. kamu jujur aja ya, biar semuanya cepet selesai'
Sent.
Tak lama Neny membalas, 'iya'.

Dan ketika kami kembali ke kantor PUK dengan membawa Rosita beserta bapaknya, pak Gatot memberi tahu kami bahwa Neny telah mengakui semua kejahatannya.

Pukul 9.00 malam aku baru bisa pulang kerumah setelah selama berjam-jam berkutat dengan kasus Neny. Dan pelaku sindikat pencurian uang koperasi pun sudah berkumpul semua. ada Neny dan bapaknya juga Rosita dan bapaknya.

***
Selanjutnya, Aku tak tahu lagi bagaimana nasib mereka. entah mengganti semua uang yang sudah mereka ambil, atau masuk bui. entahlah..
yang aku tahu, sejak hari itu aku telah kehilangan Neny. Hari-hariku selanjutnya pun berubah drastis. Tak ada lagi sosok Neny yang selalu menyambut kedatanganku setiap pagi. Yang selalu mengkritik penampilan ku yang selalu berganti warna setiap hari, yang selalu usil menjajal setiap kosmetik yang baru ku beli, yang selalu memperhatikan kondisi kesehatanku, yang selalu setia mendengar keluh kesahku dan...
Ahh Neny.. kenapa harus sepahit ini kenyataan yang ada..


Cileungsi, 20 Desember 2011

0 komentar:

Posting Komentar

My Music