Tentang Dia

Posted by Violet 16.24, under | No comments

Dia lelaki sederhana. Tidak tampan, jauh dari kesan fashionable. Meski demikian dia lelaki yang punya tempat istimewa dihatiku. Kami saling mengenal sejak akhir tahun 2011. Akun facebook yang mempertemukan kami. Meski kami belum terlalu saling mengenal satu sama lain, tapi komunikasi antara kami berjalan baik meski intensitasnya tidak banyak mengingat dulu aku masih berstatus sebagai kekasih orang. :)
Saat berkomunikasi dengan nya pun yang dibicarakan tidak keluar dari jalur yang semestinya. Ia banyak mengajakku berdiskusi tentang agama. Kesan pertamaku saat mengenalnya: ia seorang yang religius. Pikirian kritis nya tentang banyak hal mengenai agama islam membuatku kadang berselisih pendapat dengannya. Meski begitu, kami tetap berteman baik. Hingga saat hubungan ku dengan pacarku harus berakhir ditengah jalan, intensitas komunikasi antara kami semakin meningkat.

Waktu terus berlalu. sudah hampir setahun lebih kami saling mengenal tapi tak sekalipun kami pernah bertatap muka. Waktu itu aku tengah bekerja disubang, sementara dia tinggal dibogor. ketika aku berniat datang ke bogor untuk mengikuti kegiatan yang diadakan teman-teman semasa kuliah di BogorEducare dulu, aku memberitahukan niat ku itu kepadanya. Maka tanggal 13 Januari 2013 tuhan mempertemukan kami. Ia juga mengantarku ke kampus BEC untuk bertemu dengan teman-teman yang sudah berkumpul disana. 

 Seminggu kemudian, karna masalah yang timbul ditempat kerja, aku memutuskan untuk pindah ke cileungsi, tinggal dirumah kakak pertamaku dan mencari pekerjaan disana. Selama berada di cileungsi dan belum mendapat pekerjaan baru, dia sering datang mengunjungiku. Jarak dari tempat tinggalnya ke tempatku yang memakan waktu hampir dua jam untuk ditempuh dengan sepeda motor tidak pernah ia permasalahkan. 

Ada satu hal menarik dari nya yang membuatku senang bisa mengenalnya. Seperti yang ku katakan sebelumnya, dia termasuk pria yang religius. maka dengan kereligiusan nya itu ia banyak mengingatkan dan mengajarkan ku do'a-do'a harian yang telah banyak ku lupakan. Ia selalu mengingatkanku untuk tidak lupa membaca dzikir pagi dan petang. 

Suatu hari ia mengajakku untuk sama-sama menghafal QS.As-sajadah. Mungkin awalnya ajakan itu hanya sebatas kata-kata untuk membuktikan apakah aku sanggup melakukannya atau tidak. Tapi bagiku ajakan itu adalah sebuah tantangan. dan aku menyanggupi nya. Ada waktu satu minggu untuk kami menghafal sebelum kami bertemu lagi. 
kakakku dan suaminya terheran-heran melihatku yang kala itu mendadak jadi rajin membuka kitab Al-Qur'an. Maka ku jelaskan pada mereka kalau aku sedang menghafal Surat As-sajadah. Mereka mentertawaiku. Tapi aku tak perduli. hehe.... 

Seminggu kemudian dia kembali datang menemuiku. kami lalu pergi ketempat kami biasa menghabiskan waktu bersama-di tepi danau perumahan kota wisata cibubur. Ku setorkan hafalan surat As-sajadah ku padanya yang sudah ku hafal meski masih banyak kesalahan. Meski tidak lancar setidaknya aku sudah berusaha. 

Ayunk, begitu aku memanggilnya. lelaki yang hadir tepat saat aku kehilangan semangat hidup karna baru saja ditinggal pergi kekasihku. Dia membawa cahaya baru bagi ku. Membantu ku bangkit dan perlahan mengikis kesedihanku. Dalam waktu singkat, telah begitu banyak kenangan yang berhasil ia torehkan dalam sejarah hidupku. 

Teringat kembali saat kami jalan bergandengan tangan, saling mencurahkan isi hati dan perasaan masing-masing. dan aku juga tak akan pernah melupakan hari di mana kami sama-sama basah kuyup karna nekat menembus derasnya hujan untuk bisa tiba dirumahnya.
Ya, aku pernah datang kerumahnya.

Waktu itu aku ada jadwal interview dengan perusahaan yang ku lamar. Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa konsultan yang lokasinya di villa bogor indah. Dia menjemputku ke cileungsi. Karna interview dijadwalkan pukul dua siang dia lantas mengajakku ke counternya. kami juga melakukan shalat zuhur di masjid yang letaknya tidak jauh dari counter. setelah selesai, kami bergegas menuju vila bogor indah.

Selama proses interview berlangsung, dia dengan setia menunggu ku. Dan setelah selesai, kami bergegas menuju rumahnya.Diperjalanan menuju rumahnya hujan mulai turun. Tapi kami memutuskan untuk tidak berteduh agar segera sampai ditempat tujuan. Alhasil, kami basah kuyup karna hujan saat itu sangat deras.

itu hanya sepenggal cerita yang mungkin tidak akan kulupakan. betapapun terkadang dia begitu menyebalkan dengan segala kata-katanya yang sengaja memancing emosiku, aku selalu merasa nyaman setiap kali berada disisinya.

dia, menjadi laki-laki pertama yang mengatakan padaku, 'Uhibbuki fillah', Aku mencintaimu karna Allah.
Meski aku tak pernah mengerti sepenuhnya makna dibalik satu kalimat itu mengingat tak banyak hal baik yang ada padaku, tapi aku menyukai itu.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintainya. tapi ketika suatu hari dia bilang kalau dia ingin memiliki istri yang memakai cadar, aku mulai melakukan koreksi dan instrospeksi terhadap diriku sendiri. Aku bukan kriteria sesungguhnya yang dia harapkan. Kesimpulan itu terlalu menyakitkan bagiku. tapi itu membuatku mulai mengontrol hati dan perasaan ku terhadapnya. Ku lakukan berbagai cara agar aku tak mencintainya terlalu berlebihan seperti aku mencintai pacarku dulu. Tujuannya hanya untuk mengurangi resiko sakit hati yang berlebihan pula jika kelak kami tak ditakdirkan untuk bersatu.

Cinta, semoga kita bisa selalu istiqomah di jalan-Nya....

Aku sayang kamu. :)



Novel Running for Hope

Posted by Violet 14.49, under | 2 comments

Running for Hope merupakan novel pertama yang ditulis oleh mbak Dona Sikoembang. Sebelum novel ini terbit, kami sempat bertemu dalam sebuah jamuan makan malam yang diadakan oleh pak Mario Teguh di Gandaria City.
dimana kami berdua termasuk dalam daftar 20 orang yang malam itu menjadi tamu undangan. Pada kesempatan kali itu, aku sempat mendengar mba dona menyampaikan keinginannya untuk menjadikan pak Mario teguh sebagai figur yang memberi kata sambutan dalam novelnya perdananya. Tapi ternyata itu bukan hal yang mudah.

Beberapa bulan kemudian, aku dapat berita kalau novel perdana mbak dona sudah terbit. Beberapa rekan yang hadir dalam dinner malam itu pun sudah membaca novel karya mbak dona ini.
Tak mau ketinggalan, ku lakukan kebiasaan lama, berbelanja buku di toko online untuk mendapatkan novel yang ku mau tanpa harus pusing mencari di toko buku. Ternyata novel running for hope belum ada di toko buku online langgananku. Akhirnya aku berinisiatif untuk membeli buku tersebut langsung dari penulisnya agar buku tersebut bisa dibubuhi tandatangan sang penulis.

Ku kirim sebuah message facebook untuk mba dona. ku tulis disana bahwa sesuai dengan hobi ku yang mengoleksi buku-buku bertandatangan penulisnya, aku meminta agar mbak dona bisa mengirimkan ku novel perdananya yang sudah diberi tandatangan. Awalnya mba dona sedikit keberatan mengingat akan ada biaya ongkos kirim yang mesti aku tanggung nantinya. Selain itu, mbak dona juga belum pernah secara langsung menjual buku nya sendiri.Tapi akhirnya mba dona setuju dan mau memenuhi permintaanku.
Mengenai biaya gantinya, mbak dona memberiku alternatif lain, yaitu barter buku. aku tak perlu mentransfer uang untuk mengganti biaya pembelian novel running hope. tapi aku bisa mengirimkan buku untuk mba dona sebagai penggantinya.


Awalnya buku yang mbak dona inginkan adalah buku berjudul 'and the mountains enchoded' yang katanya baru akan launching tanggal 21 juli mendatang, tapi sayangnya aku kesulitan menemukan toko online yang bisa menyediakan buku tersebut meski pre order. akhirnya mbak dona mengusulkan buku lain. Yaitu sebuah novel karya Marah Rusli yang berjudul 'memang jodoh'. Ternyata tak butuh waktu lama berjelajah di dunia maya untuk menemukan buku tersebut. Aku membeli nya di toko online mizan.com yang pengiriman bukunya nanti akan langsung ditujukan ke alamat mbak dona di bukit tinggi.

Well, novel 'running for hope' mbak dona kini sudah ada ditanganku. let's reading.. :)

************************

Bogor, 18 Juli 2013

My First Hiking Experience : Merbabu

Posted by Violet 12.52, under | No comments


Bisa berada dipuncak gunung merupakan hal yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Bahkan dulu, setiap kali sahabatku, Aulia bercerta tentang pengalamannya saat hiking, aku tak pernah tertarik menyimaknya. Bagiku mendaki gunung yang tingginya ribuan kaki itu hanyalah suatu kegiatan yang tidak menarik, hanya menguras tenaga dan buang waktu.

“ngapain ya cape-cape naek gunung, mendingan tidur dirumah.” Ujarku pada kulsum saat ia bercerita tentang aulia yang akan melakukan pendakian ke gunung Gede. Kulsum sependapat denganku. Menurutnya mendaki gunung hanya buang-buang waktu dan tenaga.
 Suatu hari, aulia bilang padaku kalau salah satu teman kerjanya akan melakukan pendakian ke gunung merbabu bersama tim nya, dan aulia akan ikut. Saat itu, entah kenapa aku tiba-tiba tertarik untuk ikut. Mungkin karna buku 5cm yang kubaca hingga aku mulai ingin mencoba untuk naik gunung. Antusiasme yang kurasakan semakin bertambah ketika sahabatku, kulsum ingin ikut juga. Maka mulailah kami melakukan persiapan-persiapan yang dianggap perlu sebelum melakukan pendakian. Untuk aulia, mendaki gunung merbabu  akan menjadi pengalaman ke 4 nya mendaki gunung setelah sebelumnya ia mendaki gunung salak dan gunung gede sebanyak dua kali. Tapi bagiku dan kulsum, ini akan menjadi pengalaman hiking perdana kami. 
“sampe sekarang gue gak akan lupa sama kata-kata lu berdua. ‘Mendingan tidur dari pada cape-cape naek gunung’. Nanti lu bakal ngerasain sendiri gimana serunya naek gunung.” Aulia berkata sambil mengacung-acungkan telunjuknya ke arahku dan kulsum. kami bertatapan sesaat lalu cengar-cengir.
Tanggal 5 april 2013 aku pergi ke cikarang untuk mengikuti kongres yang diadakan tim Nandjak Adventure untuk membicarakan rencana ke merbabu yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2013.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas seluk beluk track yang akan dilalui saat mendaki nanti dan apa saja yang harus dipersiapkan dalam melakukan kegiatan ini. Mengenai persiapan fisik, seorang teman memberi saran agar aku sering melakukan jogging untuk melatih pernapasan. Tapi karena aku enggan keliling komplek sendirian, akupun berinisiatif melakukan olah raga dikamar kos saja. :D
Seminggu sebelum hari H aku bangun pagi-pagi untuk senam aerobic. Dari mulai senam biasa, push up, skot jump hingga loncat-loncat, semua ku lakukan pagi itu. Aku tak menyadari kalau kegiatan pagi itu justru membuat kedua kakiku mengalami ‘kaget’ karna sebelumnya jarang olah raga. Alhasil, saat hendak berangkat kerja tiba-tiba kurasakan kedua kaki ku sulit berjalan. Sakit luar biasa ku rasakan dari pangkal paha hingga mata kaki. Aku berjalan terpincang-pincang menuju kantor tempatku bekerja. Ditambah lagi beban berat dari tasku membuatku semakin kepayahan. Aku belum pernah merasakan kedua kakiku sesakit ini.
Hingga dua hari kemudian sakit dikakiku belum juga sembuh.  Aku mulai hawatir. Hiking tinggal beberapa hari lagi. Aku ragu apakah akan tetap ikut dengan kondisi kakiku yang seperti ini, yang bahkan berjalan pelan saja sakit luar biasa, atau membatalkannya begitu saja sementara semua alat yang harus ada dan dibawa sudah lengkap ku siapkan. Ku ceritakan kondisiku pada aulia dan kulsum. awalnya mereka juga meragukan kondisiku, tapi mereka tetap menyemangati hingga akhirnya tekadku bulat lagi, bahwa aku akan tetap ikut dengan harapan tuhan akan segera menyembuhkan kakiku.
Ketika hari semakin mendekati, aulia malah mengalami cedera dikaki juga, ia diserempet motor disisi jalan raya dekat tempat kerjanya. Ternyata cedera dikakinya cukup serius hingga akhirnya ia tidak bisa ikut hiking bersama kami. Kami semua tentu menyayangkan hal ini, apalagi ini akan menjadi pengalaman pertama dalam persahabatan kami melakukan hiking bersama-sama. tapi kesehatan kaki aulia tentu lebih penting.

Hari rabu pagi tanggal 8 Mei aku berangkat ke cikarang dengan membawa semua perlengkapan hiking yang ku pinjam dari teman-temanku. Kepergian ku kali ini terbilang nekat. Selain kaki ku yang belum sembuh total, aku juga belum mendapat izin dari ibu ataupun atasanku dikantor. Jika ku bilang pada ibu tentang rencana hiking ini, sudah pasti ibu tak member izin, aku sangat yakin itu. Sementara atasanku, padanya aku terang-terangan meminta izin tidak masuk kantor selama dua hari untuk ikut kegiatan ini tapi dia tak memberiku izin.
Aku dan kulsum bertemu diterminal cikarang.   Sekitar jam 10 pagi kami berdua tiba di kos-kosan aulia untuk re-packing perlengkapan kami. Dan jam 1 siang kami tiba di base camp nandjak adventure yang letaknya cukup jauh dari tempat kos aulia. Rencana awal yang akan berangkat hiking sebanyak 13 orang, tapi karna 3 orang tidak bisa ikut, termasuk aulia, regu kami tinggal 10 orang.
Kami berangkat menggunakan mobil travel lantaran tidak kebagian tiket untuk naik kereta api. Ini adalah gambar yang diambil sesaat sebelum kami berangkat. Sekitar pukul 2.30 siang perjalanan ke kota magelang pun dimulai.
Didalam mobil travel yang membawa kami, kami dimanjakan dengan fasilitas karaoke. Membuat perjalanan terasa begitu menyenangkan dalam keriangan yang tercipta diantara kami semua.

**********************************************
Hari kamis, 9 Mei 2013.
Sekitar pukul delapan pagi kami tiba di kota magelang. Setelah sarapan disalah satu pasar yang kami lewati, kamipun bergegas menuju lokasi tempat kami akan memulai pendakian, jalur wekas.
Setibanya di pos wekas kami istirahat sebentar sambil menata ulang barang bawaan kami. Setelah dirasa segalanya siap, kami pun berdo’a bersama untuk mengawali kegiatan kami. Dan pendakianpun dimulai.
Dimenit-menit awal pendakian kami disuguhkan pemandangan indah dari perkebunan sayur-mayur milik warga yang berada disekitar jalur pendakian.  Bahkan jalan yang kami lalui menggunakan paving block yang mungkin sengaja dipasang warga untuk memudahkan akses mereka merawat kebun.
Baru sekitar 10 menit berjalan, aku sesak nafas dan pegal dikedua kaki sudah mulai terasa. Akupun diam sejenak untuk mengatur nafas dan mengurangi pegal dikaki. Setelah dirasa semua aman kembali, aku berjalan lagi. Hal seperti ini terus terjadi di menit-menit berikutnya. Meski begitu, aku selalu berada di posisi depan dibanding dengan teman-teman pria yang membawa carier-carier besar.
Diujung kebun sayuran yang kami lewati, terdapat sebuah bangunan mirip rumah kecil yang baru ku ketahui dari ketua regu kami bahwa itu adalah sebuah makam. Diteras bangunan itu kami semua istirahat sejenak sambil menunggu teman yang lain tiba. Dan beberap menit kemudian pendakian dilanjutkan.
Selama diperjalanan menuju pos dua, kami mendaki bersama dengan sebuah keluarga dengan sepasang putra putri mereka yang berusia SD. Meski jalur pendakian cukup sulit, dua anak ini terlihat begitu antusias. Tak nampak ada rasa lelah diraut wajah mereka.
Bang Riki dan istrinya memimpin pendakian sudah jauh didepan kami. Aku, kulsum dan yayan menyusul dibelakangnya. Sementara kelima teman kami yang lainnya masih tertinggal jauh dibawah. Sambil kembali menunggu teman-teman yang lain, aku dan dua teman yang bersamaku istirahat sejenak untuk mengurangi lelah. Pemandangan sekeliling begitu indah. memberi ketenangan bagi siapapun yang melihatnya. Ada banyak monyet-monyet kecil bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya yang suaranya meramaikan alam siang itu.
“as, buruan kesini. Biar percaya kalo kita udah ada diatas.” Bang Riki yang berada lebih atas memanggil ku. Ku percepat langkah untuk melihat apa yang ingin diperlihatkan padaku. Begitu sampai, aku melihat kesekeliling dan betapa takjubnya saat ku lihat gumpalan awan putih yang ada dibawah.
“sum, ayo semangaaaat. Kita udah diatas awan (hehehe….)” aku berteriak menyemangati kulsum yang masih dibawah.
Sekitar pukul dua siang kami tiba di pos dua. Kabut semakin tebal membuat kemampuan jarang pandang kurang dari 10 meter dan udara semakin terasa dingin menusuk kulit. Dilokasi pos dua sudah ada beberapa tenda yang dibangun para pendaki lainnya.
Ketika semua regu kami sudah lengkap berkumpul, para pria membangun tenda karena gerimis mulai turun. Setelah hujan reda dan kabut mulai menipis, mereka memasang playsit untuk bernaung saat memasak makanan untuk makan siang.
Kami berada di pos dua kurang lebih selama satu jam. Seusai makan siang, semua kembali merapihkan barang bawaan masing-masing. Kami kembali melanjutkan pendakian dan berencana akan bermalam di pos selanjutnya, pos helipet.
Kami mulai berjalan di jalur yang setingkat lebih sulit dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui adalah jalan sempit tempat air mengalir yang nyaris ditutupi tumbuh-tumbuhan dan ranting pepohonan yang membuat kami agak kesulitan berjalan. Ditambah lagi tekstur tanahnya yang padat namun licin saat dilalui.
Sudah sekitar satu jam lebih kami mendaki tapi pos yang dituju belum juga terlihat. Hari semakin gelap. Semua mulai memasang head lamp untuk menerangi jalan. Kami berjalan sudah sangat jauh dari pos dua. Di tengah perjalanan kami istirahat sejenak dan melihat ada cahaya yang berasal dari sebuah tenda yang dipasang di dataran sempit yang letaknya lebih rendah dari tempat kami berada. Bang Riki berteriak ke arah para penghuni tenda tersebut untuk menanyakan lokasi pos helipet. Ternyata para pendaki itu juga tidak mengetahuinya.
Setelah waktu istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan pendakian kembali. Kami mulai melewati jalanan berbatu tapi tidak terlalu curam dan masih mudah dilalui. Kami terus berjalan dan berjalan. Hingga kami tiba disuatu dataran dimana awalnya kami kira itu yang disebut pos helipet, ternyata bukan. Disana terdapat sebuah plang yang bertuliskan pos helipet sekitar 200 meter dari tempat kami berada. Kami sempat kebingungan disana. Harus ke arah mana kami berjalan untuk bisa mencapai pos helipet sebab tanda yang ada kurang jelas. Sambil berpikir, para pria mencari sumber air mengingat persedian air yang kami bawa sudah habis semua. 
Disana kami hanya melihat satu jalur yang memungkinkan untuk dilalui. Akhirnya kami sepakat berjalan lagi mengikuti jalur tersebut yang kami yakini bisa mengantar kami ke pos helipet sebab kami sudah sangat kelelahan dan ingin segera bermalam. Tapi sepertinya dugaan kami semua salah. Kami berjalan sudah lebih dari 200 meter namun tak kunjung tiba ditempat yang dituju. Malam semakin larut. Kami berjalan semakin jauh ke atas. Melewati jalanan berbatu yang semakin menyempit dan lebih curam lagi.
Pada titik ini aku merasakan perjuangan yang lebih besar lagi dari sebelumnya. Ketika tenaga sudah benar-benar melemah. Ketika setiap kakiku melangkah harus perpegangan pada bebatuan yang tertancap kokoh ditanah atau pada akar-akar pepohonan yang terjulur anggun. Dan ketika aku berjuang melawan rasa perih dihidungku setiap kali dingin menyerang tubuh. Namun karna besarnya semangat yang ku punya, aku masih bisa terus melangkah naik ke atas. Bersama dengan teh Elis kami memimpin pendakian malam itu. Menit berganti jam, dan kami terus bergerak naik ke atas. Meski kami yakin tidak akan bermalam di pos helipet sesuai yang direncanakan. Akhirnya kami tiba didataran yang agak luas. Kami berhenti lagi untuk istirahat. Sementara bang Riki ditemani seorang rekan melanjutkan pendakian untuk mencari tahu apa yang harus kami perbuat setelah ini. Beberapa lama kemudian bang Riki kembali dan mengatakan bahwa posisi kami saat itu sudah hampir mendekati salah satu puncak merbabu. Meski begitu, kami tak mungkin melanjutkan perjalanan lagi, hawatir tak ada sumber air disana. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami putuskan untuk membangun tenda dan akan bermalam ditempat itu juga. Teman-teman pria membangun tiga buah tenda dimana satu tenda untuk wanita dan dua lainnya untuk para pria yang jumlahnya 7 orang. Dua orang teman kami turun lagi kebawah untuk mengambil air yang akan kami gunakan untuk minum dan masak. Ini pengalaman pertamaku minum air mentah yang kental dengan aroma belerang. tak ada pilihan lain sebab semua persediaan air mineral yang kami bawa sudah habis.
Aku begitu bersyukur bisa berada disana malam itu. Hari kamis malam tanggal 9 mei 2013 dimana untuk pertama kalinya aku tidur didalam tenda diatas gunung. Ada rasa haru menyelinap ketika ku tatap keindahan alam dikaki gunung dan ketika ku pandang langit malam kala itu yang begitu cerah bermandikan cahaya rembulan dan gemerlapnya bintang. Semua terasa membius pandangan mata, membuatku merasa semakin dekat dengan tuhan. Alhamdulillah… 
Jum’at pagi, 10 Mei 2013
Hari itu cuaca begitu bersahabat. Langit yang cerah dan pemandangan alam yang begitu memukau membuat kami begitu bersemangat berfoto ria. :D
Tempat kami nge-camp adalah jalur untuk para pendaki, maka tidak heran jika sejak semalam kami memasang tenda hingga pagi hari begitu banyak para pendaki yang berlalu lalang baik yang baru turun dari puncak maupun yang naik.
Sekitar jam 10 pagi, seusai sarapan kami berkemas untuk melanjutkan pendakian ke puncak merbabu. Dua tenda kami dibongkar sementara satu tenda kami gunakan untuk menyimpan barang-barang kami yang sengaja tidak dibawa. Kami hanya membawa peralatan yang memang benar-benar akan diperlukan nanti.
Jalur menuju puncak ternyata lebih sulit lagi. Kami banyak melalui jalur sempit berbatu yang cukup curam. Tapi sungguh, semuanya terasa begitu indah. solidaritas yang terjalin diantara kami semua membuat perjalanan yang tampak sulit ternyata menyenangkan saat dilakukan.
Kami bergerak menuju salah satu puncak merbabu yang paling terkenal, puncak kenteng songo. Dan akhirnya sekitar pukul 1 siang kami tiba dipuncak. Puji syukur ku panjatkan pada Allah yang memberiku kesempatan menginjakkan kaki di puncak gunung ciptaan-Nya.
Beberapa saat setelah kami tiba dipuncak, gerimis mulai turun. Kami pun berkumpul di bawah playsit yang baru saja dipasang. Ada beberapa pendaki yang baru tiba dipuncak. Karna cuaca sedang hujan, mereka pun bergabung dengan tim kami. Setelah hujan reda, cuaca kembali cerah dan keindahan gunung merbabu semakin terlihat.

Setelah puas menikmati keindahan puncak kenteng songo, akhirnya sekitar pukul tiga sore kami memutuskan untuk turun. Kami targetkan malam harinya sudah tiba di pos awal kami berangkat, pos wekas. Perjalanan turun dari puncak belum begitu melelahkan saat itu. Hal itu tentu saja karna aku tak membawa tas.
 Sekitar pukul lima sore kami tiba di dataran tempat semalam kami  bermalam. Sambil istirahat sejenak kami merapikan semua barang bawaan masing-masing. Perjalanan malam hari mungkin akan lebih beresiko, tapi kami semua yakin kami bisa. Sebelum perjalanan dilanjutkan, kami berdo’a bersama. Dan perjalanan pun dilanjutkan.

Dimenit-menit awal perjalanan semua masih terasa baik-baik saja. Beratnya beban tas yang ku bawa belum begitu berpengaruh meski aku cukup kewalahan. Dijalur yang basah dan licin, aku kerap kali terpeleset hingga celana yang ku pakai kotor sejadi-jadinya. Hal seperti ini terus terjadi setiap kali ku lalui jalur yang licin. Hari mulai gelap dan semua kembali menggunakan head lamp untuk keamanan.
Jam 7 malam kami sudah tiba dipos dua. Disana banyak tenda-tenda yang didirikan para pendaki yang hendak bermalam. Kami berhenti disana untuk istirahat sambil membuat makan malam. Playsit kembali dipasang. Malam itu, diantara semua kelelahan yang dirasa, dinginnya cuaca malam yang terasa semakin menusuk, aku berada pada titik yang membuatku takut luar biasa. Malam itu aku merasakan kedinginan yang lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Dibawah playsit, aku duduk diantara teman-teman yang kelelahan. Tubuhku gemetar hebat menahan cuaca dingin. Malam itu, tiba-tiba saja aku teringat dengan berita yang ku lihat di salah satu stasiun tv yang mengabarkan bahwa ada seorang pendaki yang meninggal karena kedinginan saat berada di atas gunung.
Allah… ku perbanyak istighfar untuk menenangkan diri yang semakin ketakutan. Aku teringat ibu, adik-adikku, kakak-kakakku, semuanya. “tuhan, ku mohon beri aku kesempatan untuk meminta maaf pada ibu karna tidak izin padanya untuk melakukan pendakian ini.. beri aku kesempatan ya Allah…” aku terus memohon dalam hati. Berharap ini bukan malam terakhir aku melihat dunia.
Untuk mengurangi kedinginan ditubuhku, seorang teman memberiku segelas susu hangat. Gelas yang ku pegang bergetar hebat, bahkan untuk meletakkannya dibibirpun cukup sulit.
Akhirnya setelah selesai makan mie instan yang dimasak oleh para teman lelaki, kami segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Aku menggunakan jaket tebal dilapisi jas hujan demi mengurangi suhu dingin ditubuh. Begitupun dengan sarung tangan. Aku memakai dua sekaligus karna tanganku terasa semakin mati rasa.

Waktu menunjukkan pukul 8.30 malam…
Perjalanan pun dilanjutkan. Jalur yang dilalui setelah pos dua memang terbilang lebih tidak berbahaya sebab yang dilalui bukan jalur berbatu yang curam, melainkan jalur biasa yang tekstur tanahnya mudah dilalui. Selama perjalanan turun kami banyak berjumpa dengan para pendaki yang tengah naik. Pada tahap ini kami justru lebih sering istirahat sejenak. Awalnya ku pikir jalur menurun tentu lebih baik daripada saat naik. Ternyata aku salah. Pada kondisi seperti ini, dimana aku membawa tas yang cukup berat, aku kerap kali takut tergelincir dan hilang kontrol saat melangkah turun. Demi menghindari hal tersebut, sebisa mungkin ku manfaatkan benda disekeliling untuk memudahkan ku melangkah. Sekitar satu jam kemudian Kedua lututku mulai terasa sakit. Begitu juga dengan ujung-ujung jari kaki.  Biasanya jika sakitnya sudah sangat parah aku minta untuk istirahat sejenak dulu. Begitu juga dengan yang lain. Betisku kananku yang agak bengkok cukup memperparah ketakutanku. Takut kalau tulang betisku patah karna tidak mampu menopang beban.Malam semakin larut dan akhirnya setelah menempuh perjalanan yang begitu melelahkan, kami bisa tiba di pos wekas sekitar pukul 11.30 malam.


Subhanallah.... perjalanan mendaki gunung merbabu ini tidak akan pernah ku lupakan.





               

My Music