Bisa berada dipuncak gunung merupakan hal yang tidak pernah ku pikirkan sebelumnya. Bahkan dulu, setiap kali sahabatku, Aulia bercerta tentang pengalamannya saat hiking, aku tak pernah tertarik menyimaknya. Bagiku mendaki gunung yang tingginya ribuan kaki itu hanyalah suatu kegiatan yang tidak menarik, hanya menguras tenaga dan buang waktu.
“ngapain ya
cape-cape naek gunung, mendingan tidur dirumah.” Ujarku pada kulsum saat ia
bercerita tentang aulia yang akan melakukan pendakian ke gunung Gede. Kulsum sependapat
denganku. Menurutnya mendaki gunung hanya buang-buang waktu dan tenaga.
Suatu hari, aulia bilang padaku kalau salah
satu teman kerjanya akan melakukan pendakian ke gunung merbabu bersama tim nya,
dan aulia akan ikut. Saat itu, entah kenapa aku tiba-tiba tertarik untuk ikut. Mungkin
karna buku 5cm yang kubaca hingga aku mulai ingin mencoba untuk naik gunung. Antusiasme yang kurasakan semakin bertambah
ketika sahabatku, kulsum ingin ikut juga. Maka mulailah kami melakukan
persiapan-persiapan yang dianggap perlu sebelum melakukan pendakian. Untuk
aulia, mendaki gunung merbabu akan
menjadi pengalaman ke 4 nya mendaki gunung setelah sebelumnya ia mendaki gunung
salak dan gunung gede sebanyak dua kali. Tapi bagiku dan kulsum, ini akan
menjadi pengalaman hiking perdana kami.
“sampe sekarang
gue gak akan lupa sama kata-kata lu berdua. ‘Mendingan tidur dari pada
cape-cape naek gunung’. Nanti lu bakal ngerasain sendiri gimana serunya naek
gunung.” Aulia berkata sambil mengacung-acungkan telunjuknya ke arahku dan
kulsum. kami bertatapan sesaat lalu cengar-cengir.
Tanggal 5 april
2013 aku pergi ke cikarang untuk mengikuti kongres yang diadakan tim Nandjak
Adventure untuk membicarakan rencana ke merbabu yang akan dilaksanakan pada
tanggal 8 Mei 2013.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas
seluk beluk track yang akan dilalui saat mendaki nanti dan apa saja yang harus
dipersiapkan dalam melakukan kegiatan ini. Mengenai persiapan fisik, seorang
teman memberi saran agar aku sering melakukan jogging untuk melatih pernapasan.
Tapi karena aku enggan keliling komplek sendirian, akupun berinisiatif
melakukan olah raga dikamar kos saja. :D
Seminggu sebelum hari H aku
bangun pagi-pagi untuk senam aerobic. Dari mulai senam biasa, push up, skot
jump hingga loncat-loncat, semua ku lakukan pagi itu. Aku tak menyadari kalau
kegiatan pagi itu justru membuat kedua kakiku mengalami ‘kaget’ karna
sebelumnya jarang olah raga. Alhasil, saat hendak berangkat kerja tiba-tiba kurasakan
kedua kaki ku sulit berjalan. Sakit luar biasa ku rasakan dari pangkal paha
hingga mata kaki. Aku berjalan terpincang-pincang menuju kantor tempatku
bekerja. Ditambah lagi beban berat dari tasku membuatku semakin kepayahan. Aku
belum pernah merasakan kedua kakiku sesakit ini.
Hingga dua hari kemudian sakit
dikakiku belum juga sembuh. Aku mulai
hawatir. Hiking tinggal beberapa hari lagi. Aku ragu apakah akan tetap ikut
dengan kondisi kakiku yang seperti ini, yang bahkan berjalan pelan saja sakit
luar biasa, atau membatalkannya begitu saja sementara semua alat yang harus ada
dan dibawa sudah lengkap ku siapkan. Ku ceritakan kondisiku pada aulia dan
kulsum. awalnya mereka juga meragukan kondisiku, tapi mereka tetap menyemangati
hingga akhirnya tekadku bulat lagi, bahwa aku akan tetap ikut dengan harapan
tuhan akan segera menyembuhkan kakiku.
Ketika hari semakin mendekati,
aulia malah mengalami cedera dikaki juga, ia diserempet motor disisi jalan raya
dekat tempat kerjanya. Ternyata cedera dikakinya cukup serius hingga akhirnya
ia tidak bisa ikut hiking bersama kami. Kami semua tentu menyayangkan hal ini,
apalagi ini akan menjadi pengalaman pertama dalam persahabatan kami melakukan
hiking bersama-sama. tapi kesehatan kaki aulia tentu lebih penting.
Hari rabu pagi tanggal 8 Mei aku berangkat ke cikarang dengan membawa semua perlengkapan hiking yang ku pinjam dari teman-temanku. Kepergian ku kali ini terbilang nekat. Selain kaki ku yang belum sembuh total, aku juga belum mendapat izin dari ibu ataupun atasanku dikantor. Jika ku bilang pada ibu tentang rencana hiking ini, sudah pasti ibu tak member izin, aku sangat yakin itu. Sementara atasanku, padanya aku terang-terangan meminta izin tidak masuk kantor selama dua hari untuk ikut kegiatan ini tapi dia tak memberiku izin.
Aku dan kulsum bertemu diterminal
cikarang.
Sekitar jam 10 pagi kami berdua tiba di kos-kosan aulia untuk re-packing perlengkapan kami. Dan jam 1
siang kami tiba di base camp nandjak adventure yang letaknya cukup jauh dari
tempat kos aulia. Rencana awal yang akan berangkat hiking sebanyak 13 orang,
tapi karna 3 orang tidak bisa ikut, termasuk aulia, regu kami tinggal 10 orang.

Kami berangkat menggunakan mobil
travel lantaran tidak kebagian tiket untuk naik kereta api. Ini adalah gambar
yang diambil sesaat sebelum kami berangkat. Sekitar pukul 2.30 siang perjalanan
ke kota magelang pun dimulai.
Didalam mobil travel yang membawa
kami, kami dimanjakan dengan fasilitas karaoke. Membuat perjalanan terasa
begitu menyenangkan dalam keriangan yang tercipta diantara kami semua.
**********************************************
Hari kamis, 9 Mei 2013.
Sekitar pukul delapan pagi kami
tiba di kota magelang. Setelah sarapan disalah satu pasar yang kami lewati,
kamipun bergegas menuju lokasi tempat kami akan memulai pendakian, jalur wekas.
Setibanya di pos wekas kami
istirahat sebentar sambil menata ulang barang bawaan kami. Setelah dirasa
segalanya siap, kami pun berdo’a bersama untuk mengawali kegiatan kami. Dan
pendakianpun dimulai.
Dimenit-menit
awal pendakian kami disuguhkan pemandangan indah dari perkebunan sayur-mayur
milik warga yang berada disekitar jalur pendakian. Bahkan jalan
yang kami lalui menggunakan paving block yang mungkin sengaja dipasang warga
untuk memudahkan akses mereka merawat kebun.
Baru
sekitar 10 menit berjalan, aku sesak nafas dan pegal dikedua kaki sudah mulai
terasa. Akupun diam sejenak untuk mengatur nafas dan mengurangi pegal dikaki.
Setelah dirasa semua aman kembali, aku berjalan lagi. Hal seperti ini terus
terjadi di menit-menit berikutnya. Meski begitu, aku selalu berada di posisi
depan dibanding dengan teman-teman pria yang membawa carier-carier besar.
Diujung
kebun sayuran yang kami lewati, terdapat sebuah bangunan mirip rumah kecil yang
baru ku ketahui dari ketua regu kami bahwa itu adalah sebuah makam. Diteras
bangunan itu kami semua istirahat sejenak sambil menunggu teman yang lain tiba.
Dan beberap menit kemudian pendakian dilanjutkan.
Selama diperjalanan menuju pos dua,
kami mendaki bersama dengan sebuah keluarga dengan sepasang putra putri mereka
yang berusia SD. Meski jalur pendakian cukup sulit, dua anak ini terlihat
begitu antusias. Tak nampak ada rasa lelah diraut wajah mereka.
Bang Riki dan istrinya memimpin pendakian sudah jauh didepan
kami. Aku, kulsum dan yayan menyusul dibelakangnya. Sementara kelima teman kami
yang lainnya masih tertinggal jauh dibawah. Sambil kembali menunggu teman-teman
yang lain, aku dan dua teman yang bersamaku istirahat sejenak untuk mengurangi
lelah. Pemandangan sekeliling begitu indah. memberi ketenangan bagi siapapun
yang melihatnya. Ada banyak monyet-monyet kecil bergelantungan dari satu pohon
ke pohon lainnya yang suaranya meramaikan alam siang itu.
“as,
buruan kesini. Biar percaya kalo kita udah ada diatas.” Bang Riki yang berada
lebih atas memanggil ku. Ku percepat langkah untuk melihat apa yang ingin
diperlihatkan padaku. Begitu sampai, aku melihat kesekeliling dan betapa
takjubnya saat ku lihat gumpalan awan putih yang ada dibawah.
“sum,
ayo semangaaaat. Kita udah diatas awan (hehehe….)” aku berteriak menyemangati
kulsum yang masih dibawah.
Sekitar pukul dua siang kami
tiba di pos dua. Kabut semakin tebal membuat kemampuan jarang pandang kurang
dari 10 meter dan udara semakin terasa dingin menusuk kulit. Dilokasi pos dua sudah
ada beberapa tenda yang dibangun para pendaki lainnya.
Ketika semua regu kami sudah lengkap
berkumpul, para pria membangun tenda karena gerimis mulai turun. Setelah hujan
reda dan kabut mulai menipis, mereka memasang playsit untuk bernaung saat
memasak makanan untuk makan siang.
Kami
berada di pos dua kurang lebih selama satu jam. Seusai makan siang, semua
kembali merapihkan barang bawaan masing-masing. Kami kembali melanjutkan
pendakian dan berencana akan bermalam di pos selanjutnya, pos helipet.
Kami
mulai berjalan di jalur yang setingkat lebih sulit dari sebelumnya. Jalan yang
kami lalui adalah jalan sempit tempat air mengalir yang nyaris ditutupi
tumbuh-tumbuhan dan ranting pepohonan yang membuat kami agak kesulitan
berjalan. Ditambah lagi tekstur tanahnya yang padat namun licin saat dilalui.
Sudah
sekitar satu jam lebih kami mendaki tapi pos yang dituju belum juga terlihat. Hari
semakin gelap. Semua mulai memasang head lamp untuk menerangi jalan. Kami
berjalan sudah sangat jauh dari pos dua. Di tengah perjalanan kami istirahat
sejenak dan melihat ada cahaya yang berasal dari sebuah tenda yang dipasang di
dataran sempit yang letaknya lebih rendah dari tempat kami berada. Bang Riki
berteriak ke arah para penghuni tenda tersebut untuk menanyakan lokasi pos
helipet. Ternyata para pendaki itu juga tidak mengetahuinya.
Setelah
waktu istirahat dirasa cukup, kami melanjutkan pendakian kembali. Kami mulai
melewati jalanan berbatu tapi tidak terlalu curam dan masih mudah dilalui. Kami
terus berjalan dan berjalan. Hingga kami tiba disuatu dataran dimana awalnya
kami kira itu yang disebut pos helipet, ternyata bukan. Disana terdapat sebuah
plang yang bertuliskan pos helipet sekitar 200 meter dari tempat kami berada. Kami
sempat kebingungan disana. Harus ke arah mana kami berjalan untuk bisa mencapai
pos helipet sebab tanda yang ada kurang jelas. Sambil berpikir, para pria
mencari sumber air mengingat persedian air yang kami bawa sudah habis semua.
Disana
kami hanya melihat satu jalur yang memungkinkan untuk dilalui. Akhirnya kami sepakat
berjalan lagi mengikuti jalur tersebut yang kami yakini bisa mengantar kami ke
pos helipet sebab kami sudah sangat kelelahan dan ingin segera bermalam. Tapi
sepertinya dugaan kami semua salah. Kami berjalan sudah lebih dari 200 meter
namun tak kunjung tiba ditempat yang dituju. Malam semakin larut. Kami berjalan
semakin jauh ke atas. Melewati jalanan berbatu yang semakin menyempit dan lebih
curam lagi.
Pada
titik ini aku merasakan perjuangan yang lebih besar lagi dari sebelumnya. Ketika
tenaga sudah benar-benar melemah. Ketika setiap kakiku melangkah harus
perpegangan pada bebatuan yang tertancap kokoh ditanah atau pada akar-akar
pepohonan yang terjulur anggun. Dan ketika aku berjuang melawan rasa perih
dihidungku setiap kali dingin menyerang tubuh. Namun karna besarnya semangat
yang ku punya, aku masih bisa terus melangkah naik ke atas. Bersama dengan teh
Elis kami memimpin pendakian malam itu. Menit berganti jam, dan kami terus
bergerak naik ke atas. Meski kami yakin tidak akan bermalam di pos helipet
sesuai yang direncanakan. Akhirnya kami tiba didataran yang agak luas. Kami
berhenti lagi untuk istirahat. Sementara bang Riki ditemani seorang rekan
melanjutkan pendakian untuk mencari tahu apa yang harus kami perbuat setelah
ini. Beberapa lama kemudian bang Riki kembali dan mengatakan bahwa posisi kami
saat itu sudah hampir mendekati salah satu puncak merbabu. Meski begitu, kami
tak mungkin melanjutkan perjalanan lagi, hawatir tak ada sumber air disana.
Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, kami putuskan untuk membangun tenda dan
akan bermalam ditempat itu juga. Teman-teman pria membangun tiga buah tenda
dimana satu tenda untuk wanita dan dua lainnya untuk para pria yang jumlahnya 7
orang. Dua orang teman kami turun lagi kebawah untuk mengambil air yang akan
kami gunakan untuk minum dan masak. Ini pengalaman pertamaku minum air mentah
yang kental dengan aroma belerang. tak ada pilihan lain sebab semua persediaan
air mineral yang kami bawa sudah habis.
Aku
begitu bersyukur bisa berada disana malam itu. Hari kamis malam tanggal 9 mei
2013 dimana untuk pertama kalinya aku tidur didalam tenda diatas gunung. Ada
rasa haru menyelinap ketika ku tatap keindahan alam dikaki gunung dan ketika ku
pandang langit malam kala itu yang begitu cerah bermandikan cahaya rembulan dan
gemerlapnya bintang. Semua terasa membius pandangan mata, membuatku merasa
semakin dekat dengan tuhan. Alhamdulillah…
Jum’at pagi, 10 Mei 2013
Hari
itu cuaca begitu bersahabat. Langit yang cerah dan pemandangan alam yang begitu
memukau membuat kami begitu bersemangat berfoto ria. :D
Tempat
kami nge-camp adalah jalur untuk para
pendaki, maka tidak heran jika sejak semalam kami memasang tenda hingga pagi
hari begitu banyak para pendaki yang berlalu lalang baik yang baru turun dari
puncak maupun yang naik.
Sekitar
jam 10 pagi, seusai sarapan kami berkemas untuk melanjutkan pendakian ke puncak
merbabu. Dua tenda kami dibongkar sementara satu tenda kami gunakan untuk
menyimpan barang-barang kami yang sengaja tidak dibawa. Kami hanya membawa
peralatan yang memang benar-benar akan diperlukan nanti.
Jalur
menuju puncak ternyata lebih sulit lagi. Kami banyak melalui jalur sempit
berbatu yang cukup curam. Tapi sungguh, semuanya terasa begitu indah.
solidaritas yang terjalin diantara kami semua membuat perjalanan yang tampak
sulit ternyata menyenangkan saat dilakukan.
Kami
bergerak menuju salah satu puncak merbabu yang paling terkenal, puncak kenteng
songo. Dan akhirnya sekitar pukul 1 siang kami tiba dipuncak. Puji syukur ku
panjatkan pada Allah yang memberiku kesempatan menginjakkan kaki di puncak
gunung ciptaan-Nya.
Beberapa
saat setelah kami tiba dipuncak, gerimis mulai turun. Kami pun berkumpul di
bawah playsit yang baru saja dipasang. Ada beberapa pendaki yang baru tiba
dipuncak. Karna cuaca sedang hujan, mereka pun bergabung dengan tim kami. Setelah
hujan reda, cuaca kembali cerah dan keindahan gunung merbabu semakin terlihat.
Setelah puas menikmati keindahan puncak kenteng songo, akhirnya sekitar pukul tiga sore kami memutuskan untuk turun. Kami targetkan malam harinya sudah tiba di pos awal kami berangkat, pos wekas. Perjalanan turun dari puncak belum begitu melelahkan saat itu. Hal itu tentu saja karna aku tak membawa tas.
Sekitar pukul lima sore kami tiba di dataran
tempat semalam kami bermalam. Sambil
istirahat sejenak kami merapikan semua barang bawaan masing-masing. Perjalanan
malam hari mungkin akan lebih beresiko, tapi kami semua yakin kami bisa.
Sebelum perjalanan dilanjutkan, kami berdo’a bersama. Dan perjalanan pun
dilanjutkan.
Dimenit-menit awal perjalanan semua masih terasa baik-baik saja. Beratnya beban tas yang ku bawa belum begitu berpengaruh meski aku cukup kewalahan. Dijalur yang basah dan licin, aku kerap kali terpeleset hingga celana yang ku pakai kotor sejadi-jadinya. Hal seperti ini terus terjadi setiap kali ku lalui jalur yang licin. Hari mulai gelap dan semua kembali menggunakan head lamp untuk keamanan.
Jam
7 malam kami sudah tiba dipos dua. Disana banyak tenda-tenda yang didirikan
para pendaki yang hendak bermalam. Kami berhenti disana untuk istirahat sambil
membuat makan malam. Playsit kembali dipasang. Malam itu, diantara semua
kelelahan yang dirasa, dinginnya cuaca malam yang terasa semakin menusuk, aku
berada pada titik yang membuatku takut luar biasa. Malam itu aku merasakan
kedinginan yang lebih parah dari sebelum-sebelumnya. Dibawah playsit, aku duduk
diantara teman-teman yang kelelahan. Tubuhku gemetar hebat menahan cuaca
dingin. Malam itu, tiba-tiba saja aku teringat dengan berita yang ku lihat di
salah satu stasiun tv yang mengabarkan bahwa ada seorang pendaki yang meninggal
karena kedinginan saat berada di atas gunung.
Allah…
ku perbanyak istighfar untuk menenangkan diri yang semakin ketakutan. Aku
teringat ibu, adik-adikku, kakak-kakakku, semuanya. “tuhan, ku mohon beri aku
kesempatan untuk meminta maaf pada ibu karna tidak izin padanya untuk melakukan
pendakian ini.. beri aku kesempatan ya Allah…” aku terus memohon dalam hati.
Berharap ini bukan malam terakhir aku melihat dunia.
Untuk
mengurangi kedinginan ditubuhku, seorang teman memberiku segelas susu hangat. Gelas
yang ku pegang bergetar hebat, bahkan untuk meletakkannya dibibirpun cukup
sulit.
Akhirnya
setelah selesai makan mie instan yang dimasak oleh para teman lelaki, kami
segera bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Aku menggunakan jaket tebal
dilapisi jas hujan demi mengurangi suhu dingin ditubuh. Begitupun dengan sarung
tangan. Aku memakai dua sekaligus karna tanganku terasa semakin mati rasa.
Waktu menunjukkan pukul 8.30 malam…
Perjalanan
pun dilanjutkan. Jalur yang dilalui setelah pos dua memang terbilang lebih
tidak berbahaya sebab yang dilalui bukan jalur berbatu yang curam, melainkan
jalur biasa yang tekstur tanahnya mudah dilalui. Selama perjalanan turun kami
banyak berjumpa dengan para pendaki yang tengah naik. Pada tahap ini kami
justru lebih sering istirahat sejenak. Awalnya ku pikir jalur menurun tentu
lebih baik daripada saat naik. Ternyata aku salah. Pada kondisi seperti ini,
dimana aku membawa tas yang cukup berat, aku kerap kali takut tergelincir dan
hilang kontrol saat melangkah turun. Demi menghindari hal tersebut, sebisa
mungkin ku manfaatkan benda disekeliling untuk memudahkan ku melangkah. Sekitar
satu jam kemudian Kedua lututku mulai terasa sakit. Begitu juga dengan
ujung-ujung jari kaki. Biasanya jika
sakitnya sudah sangat parah aku minta untuk istirahat sejenak dulu. Begitu juga
dengan yang lain. Betisku kananku yang agak bengkok cukup memperparah ketakutanku. Takut kalau tulang betisku patah karna tidak mampu menopang beban.Malam semakin larut dan akhirnya setelah menempuh perjalanan yang begitu melelahkan, kami bisa tiba di pos wekas sekitar pukul 11.30 malam.
Subhanallah.... perjalanan mendaki gunung merbabu ini tidak akan pernah ku lupakan.

0 komentar:
Posting Komentar