Memberi saat Lapang Maupun Sempit

Posted by Violet 12.25, under | No comments



Dua hari yang lalu, saat perjalanan ke cileungsi, aku melihat seorang bocah laki-laki ngamen dipintu angkot yang ku tumpangi. Aku duduk dibelakang bersandar pada kaca mobil sementara bocah itu duduk dipintu angkot menghadap ke jalan sambil menyanyikan lagu yang suaranya tak begitu jelas terdengar.
Aku yang saat itu hanya membawa ongkos pas-pasan, berpikir bagaimana bisa memberi uang pada anak itu. Akhirnya ku ambil uang lima ribuan disaku jaketku. Tapi kemudian aku berpikiri lagi. Jika ku berikan lima ribuan yang ku punya, bisa dipastikan aku bakal kekurangan ongkos untuk bisa sampai ke cileungsi. Aku mulai ragu-ragu. Dan ketika bocah itu selesai bernyanyi, uluran tangannya tidak sampai ke arahku. Akhirnya uang itu masih dalam genggamanku saat bocah itu beranjak pergi. Ada rasa sesal dihati saat ku tahu dari lima orang penumpang didalam angkot tak ada satupun yang memberinya uang.
Aku tak bisa melupakan peristiwa kecil itu. Membuatku seakan merasa berhutang janji pada Allah akan memberi pada orang lain. 

Siang tadi, saat jam istirahat kantor, aku makan siang dimeja yang letaknya didepan jendela kantor yang menghadap teras. Saat sedang menikmati makan siangku, tiba-tiba ku lihat nenek tua yang dijuluki nenek salam datang menghampiri. Dibantu sebuah tongkat kayu yang selalu dibawanya kemana-mana, nenek itu mendekat seraya mengucap salam dan melepas sendalnya. Seperti biasanya, nenek  tua itu membawa kantong plastik besar yang berisi aneka ragam dagangannya; kerupuk dan snack lainnya.  Awalnya nenek tua itu menawarkan dagangannya pada teman-teman yang sedang duduk-duduk santai diruang depan. Tapi dengan halus mereka menolak membeli dagangan sang nenek. Akhirnya nenek itu perlahan berjalan hendak meninggalkan teras. Tapi kemudian sebelum pergi ia menoleh ke belakang.  Tatapannya kini tertuju padaku yang duduk dibalik jendela. Ia urungkan niatnya untuk pergi dan perlahan menghampiriku. Dari jendela yang sengaja dibuka, nenek itu menawarkan dagangannya padaku. “neng, kerupuk nya, neng…” ujarnya pelan.
Aku menolaknya secara halus. Tapi nenek itu masih terus saja menjajakan dagangan yang dibawanya. lagi-lagi aku menolaknya dengan halus agar tidak menyakiti perasaan si nenek. Mendengar penolakanku sejenak nenek salam terdiam dan melihat mangkuk yang ada didepanku. “lagi makan ya neng?” Tanya nya. Aku mengangguk dan tersenyum. “iya, makan siang nek. Kan jam istirahat”. Jawabku. Dengan gerakan tubuh yang sangat lambat, nenek salam lalu membungkukkan badannya untuk mengambil sesuatu dari kresek besar yang diletakkannya dilantai. Dan tanpa ku duga iya menyodorkan plastik kecil berisi kerupuk dagangannya. “ini neng, nenek ngasih buat makan”. Ujarnya sambil meletakkan bungkus kecil itu di meja. Aku yang sedikit kaget langsung menolak pemberiannya. “duh, jangan nek. Gak usah”.
Jika saja dari awal aku berminat, tentu sudah ku beli dagangannya. Tak perlu menunggu nenek salam memberi secara Cuma-Cuma padaku. Tapi penolakanku ternyata sia-sia. “gak apa-apa neng, buat makan”. Ujarnya lagi sambil kembali mengangkat kresek besarnya hendak meninggalkan teras kantor. Akhirnya aku tak bisa menolaknya lagi. Ku ucapkan terimakasih dengan perasaan haru. Setelah nenek salam pergi, ku hentikan aktifitas makan siang ku sejenak dan memperhatikan bungkusan kecil berisi kerupuk itu. Mataku berkaca-kaca.  Ada perasaan haru dan juga malu. Terharu pada nenek tua itu yang meski ia tak memiliki banyak harta, ia masih mau menyisihkan miliknya untuk diberikan padaku. Yang jelas-jelas itu adalah makanan yang sejak awal ia tawarkan padaku. Aku malu pada Allah. Sebab yang dilakukan nenek salam seakan menegurku atas peristiwa kecil diangkot tentang bocah pengamen itu. Ketika aku ragu untuk memberi hanya karna aku takut kehabisan ongkos. Ya Allah… semoga ku bisa terus mengingat peristiwa-peristiwa kecil ini, untuk ku jadikan sebagai pelajaran hidup yang begitu besar manfaatnya.

 Bogor, 4 Juli 2013

0 komentar:

Posting Komentar

My Music