Dua hari yang lalu, saat perjalanan ke cileungsi, aku
melihat seorang bocah laki-laki ngamen dipintu angkot yang ku tumpangi. Aku
duduk dibelakang bersandar pada kaca mobil sementara bocah itu duduk dipintu
angkot menghadap ke jalan sambil menyanyikan lagu yang suaranya tak begitu
jelas terdengar.
Aku yang saat itu hanya membawa ongkos pas-pasan, berpikir
bagaimana bisa memberi uang pada anak itu. Akhirnya ku ambil uang lima ribuan
disaku jaketku. Tapi kemudian aku berpikiri lagi. Jika ku berikan lima ribuan
yang ku punya, bisa dipastikan aku bakal kekurangan ongkos untuk bisa sampai ke
cileungsi. Aku mulai ragu-ragu. Dan ketika bocah itu selesai bernyanyi, uluran
tangannya tidak sampai ke arahku. Akhirnya uang itu masih dalam genggamanku
saat bocah itu beranjak pergi. Ada rasa sesal dihati saat ku tahu dari lima
orang penumpang didalam angkot tak ada satupun yang memberinya uang.
Aku tak bisa melupakan peristiwa kecil itu. Membuatku seakan
merasa berhutang janji pada Allah akan memberi pada orang lain.
Siang tadi, saat jam istirahat kantor, aku makan siang
dimeja yang letaknya didepan jendela kantor yang menghadap teras. Saat sedang
menikmati makan siangku, tiba-tiba ku lihat nenek tua yang dijuluki nenek salam
datang menghampiri. Dibantu sebuah tongkat kayu yang selalu dibawanya
kemana-mana, nenek itu mendekat seraya mengucap salam dan melepas sendalnya.
Seperti biasanya, nenek tua itu membawa
kantong plastik besar yang berisi aneka ragam dagangannya; kerupuk dan snack
lainnya. Awalnya nenek tua itu menawarkan
dagangannya pada teman-teman yang sedang duduk-duduk santai diruang depan. Tapi
dengan halus mereka menolak membeli dagangan sang nenek. Akhirnya nenek itu
perlahan berjalan hendak meninggalkan teras. Tapi kemudian sebelum pergi ia
menoleh ke belakang. Tatapannya kini
tertuju padaku yang duduk dibalik jendela. Ia urungkan niatnya untuk pergi dan
perlahan menghampiriku. Dari jendela yang sengaja dibuka, nenek itu menawarkan
dagangannya padaku. “neng, kerupuk nya, neng…” ujarnya pelan.
Aku menolaknya secara halus. Tapi nenek itu masih terus saja
menjajakan dagangan yang dibawanya. lagi-lagi aku menolaknya dengan halus agar
tidak menyakiti perasaan si nenek. Mendengar penolakanku sejenak nenek salam
terdiam dan melihat mangkuk yang ada didepanku. “lagi makan ya neng?” Tanya
nya. Aku mengangguk dan tersenyum. “iya, makan siang nek. Kan jam istirahat”.
Jawabku. Dengan gerakan tubuh yang sangat lambat, nenek salam lalu
membungkukkan badannya untuk mengambil sesuatu dari kresek besar yang
diletakkannya dilantai. Dan tanpa ku duga iya menyodorkan plastik kecil berisi
kerupuk dagangannya. “ini neng, nenek ngasih buat makan”. Ujarnya sambil
meletakkan bungkus kecil itu di meja. Aku yang sedikit kaget langsung menolak
pemberiannya. “duh, jangan nek. Gak usah”.
Jika saja dari awal aku berminat, tentu sudah ku beli
dagangannya. Tak perlu menunggu nenek salam memberi secara Cuma-Cuma padaku.
Tapi penolakanku ternyata sia-sia. “gak apa-apa neng, buat makan”. Ujarnya lagi
sambil kembali mengangkat kresek besarnya hendak meninggalkan teras kantor.
Akhirnya aku tak bisa menolaknya lagi. Ku ucapkan terimakasih dengan perasaan
haru. Setelah nenek salam pergi, ku hentikan aktifitas makan siang ku sejenak
dan memperhatikan bungkusan kecil berisi kerupuk itu. Mataku berkaca-kaca. Ada perasaan haru dan juga malu. Terharu pada
nenek tua itu yang meski ia tak memiliki banyak harta, ia masih mau menyisihkan
miliknya untuk diberikan padaku. Yang jelas-jelas itu adalah makanan yang sejak
awal ia tawarkan padaku. Aku malu pada Allah. Sebab yang dilakukan nenek salam
seakan menegurku atas peristiwa kecil diangkot tentang bocah pengamen itu.
Ketika aku ragu untuk memberi hanya karna aku takut kehabisan ongkos. Ya Allah…
semoga ku bisa terus mengingat peristiwa-peristiwa kecil ini, untuk ku jadikan
sebagai pelajaran hidup yang begitu besar manfaatnya.
Bogor, 4 Juli 2013
0 komentar:
Posting Komentar