Dia lelaki sederhana. Tidak tampan, jauh dari kesan fashionable. Meski demikian dia lelaki yang punya tempat istimewa dihatiku. Kami saling mengenal sejak akhir tahun 2011. Akun facebook yang mempertemukan kami. Meski kami belum terlalu saling mengenal satu sama lain, tapi komunikasi antara kami berjalan baik meski intensitasnya tidak banyak mengingat dulu aku masih berstatus sebagai kekasih orang. :)
Saat berkomunikasi dengan nya pun yang dibicarakan tidak keluar dari jalur yang semestinya. Ia banyak mengajakku berdiskusi tentang agama. Kesan pertamaku saat mengenalnya: ia seorang yang religius. Pikirian kritis nya tentang banyak hal mengenai agama islam membuatku kadang berselisih pendapat dengannya. Meski begitu, kami tetap berteman baik. Hingga saat hubungan ku dengan pacarku harus berakhir ditengah jalan, intensitas komunikasi antara kami semakin meningkat.
Waktu terus berlalu. sudah hampir setahun lebih kami saling mengenal tapi tak sekalipun kami pernah bertatap muka. Waktu itu aku tengah bekerja disubang, sementara dia tinggal dibogor. ketika aku berniat datang ke bogor untuk mengikuti kegiatan yang diadakan teman-teman semasa kuliah di BogorEducare dulu, aku memberitahukan niat ku itu kepadanya. Maka tanggal 13 Januari 2013 tuhan mempertemukan kami. Ia juga mengantarku ke kampus BEC untuk bertemu dengan teman-teman yang sudah berkumpul disana.
Seminggu kemudian, karna masalah yang timbul ditempat kerja, aku memutuskan untuk pindah ke cileungsi, tinggal dirumah kakak pertamaku dan mencari pekerjaan disana. Selama berada di cileungsi dan belum mendapat pekerjaan baru, dia sering datang mengunjungiku. Jarak dari tempat tinggalnya ke tempatku yang memakan waktu hampir dua jam untuk ditempuh dengan sepeda motor tidak pernah ia permasalahkan.
Ada satu hal menarik dari nya yang membuatku senang bisa mengenalnya. Seperti yang ku katakan sebelumnya, dia termasuk pria yang religius. maka dengan kereligiusan nya itu ia banyak mengingatkan dan mengajarkan ku do'a-do'a harian yang telah banyak ku lupakan. Ia selalu mengingatkanku untuk tidak lupa membaca dzikir pagi dan petang.
Suatu hari ia mengajakku untuk sama-sama menghafal QS.As-sajadah. Mungkin awalnya ajakan itu hanya sebatas kata-kata untuk membuktikan apakah aku sanggup melakukannya atau tidak. Tapi bagiku ajakan itu adalah sebuah tantangan. dan aku menyanggupi nya. Ada waktu satu minggu untuk kami menghafal sebelum kami bertemu lagi.
kakakku dan suaminya terheran-heran melihatku yang kala itu mendadak jadi rajin membuka kitab Al-Qur'an. Maka ku jelaskan pada mereka kalau aku sedang menghafal Surat As-sajadah. Mereka mentertawaiku. Tapi aku tak perduli. hehe....
Seminggu kemudian dia kembali datang menemuiku. kami lalu pergi ketempat kami biasa menghabiskan waktu bersama-di tepi danau perumahan kota wisata cibubur. Ku setorkan hafalan surat As-sajadah ku padanya yang sudah ku hafal meski masih banyak kesalahan. Meski tidak lancar setidaknya aku sudah berusaha.
Ayunk, begitu aku memanggilnya. lelaki yang hadir tepat saat aku kehilangan semangat hidup karna baru saja ditinggal pergi kekasihku. Dia membawa cahaya baru bagi ku. Membantu ku bangkit dan perlahan mengikis kesedihanku. Dalam waktu singkat, telah begitu banyak kenangan yang berhasil ia torehkan dalam sejarah hidupku.
Teringat kembali saat kami jalan bergandengan tangan, saling mencurahkan isi hati dan perasaan masing-masing. dan aku juga tak akan pernah melupakan hari di mana kami sama-sama basah kuyup karna nekat menembus derasnya hujan untuk bisa tiba dirumahnya.
Ya, aku pernah datang kerumahnya.
Waktu itu aku ada jadwal interview dengan perusahaan yang ku lamar. Sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa konsultan yang lokasinya di villa bogor indah. Dia menjemputku ke cileungsi. Karna interview dijadwalkan pukul dua siang dia lantas mengajakku ke counternya. kami juga melakukan shalat zuhur di masjid yang letaknya tidak jauh dari counter. setelah selesai, kami bergegas menuju vila bogor indah.
Selama proses interview berlangsung, dia dengan setia menunggu ku. Dan setelah selesai, kami bergegas menuju rumahnya.Diperjalanan menuju rumahnya hujan mulai turun. Tapi kami memutuskan untuk tidak berteduh agar segera sampai ditempat tujuan. Alhasil, kami basah kuyup karna hujan saat itu sangat deras.
itu hanya sepenggal cerita yang mungkin tidak akan kulupakan. betapapun terkadang dia begitu menyebalkan dengan segala kata-katanya yang sengaja memancing emosiku, aku selalu merasa nyaman setiap kali berada disisinya.
dia, menjadi laki-laki pertama yang mengatakan padaku, 'Uhibbuki fillah', Aku mencintaimu karna Allah.
Meski aku tak pernah mengerti sepenuhnya makna dibalik satu kalimat itu mengingat tak banyak hal baik yang ada padaku, tapi aku menyukai itu.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintainya. tapi ketika suatu hari dia bilang kalau dia ingin memiliki istri yang memakai cadar, aku mulai melakukan koreksi dan instrospeksi terhadap diriku sendiri. Aku bukan kriteria sesungguhnya yang dia harapkan. Kesimpulan itu terlalu menyakitkan bagiku. tapi itu membuatku mulai mengontrol hati dan perasaan ku terhadapnya. Ku lakukan berbagai cara agar aku tak mencintainya terlalu berlebihan seperti aku mencintai pacarku dulu. Tujuannya hanya untuk mengurangi resiko sakit hati yang berlebihan pula jika kelak kami tak ditakdirkan untuk bersatu.
Cinta, semoga kita bisa selalu istiqomah di jalan-Nya....
Aku sayang kamu. :)
Selama proses interview berlangsung, dia dengan setia menunggu ku. Dan setelah selesai, kami bergegas menuju rumahnya.Diperjalanan menuju rumahnya hujan mulai turun. Tapi kami memutuskan untuk tidak berteduh agar segera sampai ditempat tujuan. Alhasil, kami basah kuyup karna hujan saat itu sangat deras.
itu hanya sepenggal cerita yang mungkin tidak akan kulupakan. betapapun terkadang dia begitu menyebalkan dengan segala kata-katanya yang sengaja memancing emosiku, aku selalu merasa nyaman setiap kali berada disisinya.
dia, menjadi laki-laki pertama yang mengatakan padaku, 'Uhibbuki fillah', Aku mencintaimu karna Allah.
Meski aku tak pernah mengerti sepenuhnya makna dibalik satu kalimat itu mengingat tak banyak hal baik yang ada padaku, tapi aku menyukai itu.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintainya. tapi ketika suatu hari dia bilang kalau dia ingin memiliki istri yang memakai cadar, aku mulai melakukan koreksi dan instrospeksi terhadap diriku sendiri. Aku bukan kriteria sesungguhnya yang dia harapkan. Kesimpulan itu terlalu menyakitkan bagiku. tapi itu membuatku mulai mengontrol hati dan perasaan ku terhadapnya. Ku lakukan berbagai cara agar aku tak mencintainya terlalu berlebihan seperti aku mencintai pacarku dulu. Tujuannya hanya untuk mengurangi resiko sakit hati yang berlebihan pula jika kelak kami tak ditakdirkan untuk bersatu.
Cinta, semoga kita bisa selalu istiqomah di jalan-Nya....
Aku sayang kamu. :)
0 komentar:
Posting Komentar