Hari sabtu, tanggal 13 Juli lalu, aku dan aulia pergi ke ciputat untuk mendaftar kuliah di universitas pamulang.
sepanjang hari itu, yang ku ingat hanya wajah ibu. Dan melihat apa yang akan kulakukan hari itu, memory ku kembali ke masa tiga tahun yang lalu.
Tahun 2010 lalu, dengan sangat hati-hati ku utarakan niatku pada ibu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin kuliah. Dan saat niat itu tersampaikan, dengan nada penuh permohonan ibu memintaku untuk menyimpan rapat-rapat mimpi itu.Mimpi untuk bisa kuliah.
Ibu ingin aku membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal kami karna sejak rumah terakhir kami dijual, kami hanya mampu mengontrak dari satu tempat ke tempat lain. Ibu ingin hari tuanya bisa ia habiskan di rumahnya sendiri meski hanya bangunan sederhana. Ya, ibu tak mengizinkan ku untuk kuliah. Sedih, tentu saja. Orang yang paling ku harapkan untuk mendukung langkahku ternyata justru sebaliknya. Aku tak mampu berkata banyak. Meski dalam hati aku berjanji, suatu hari nanti aku akan mewujudkan kedua mimpi besar kami. Aku akan membuat ibu menghabiskan hari tuanya dirumahnya sendiri dan aku juga akan menjadi seorang perempuan yang berpendidikan tinggi. Itu janji, impian, dan harapan yang selalu ku ucap dalam do’a.
sepanjang hari itu, yang ku ingat hanya wajah ibu. Dan melihat apa yang akan kulakukan hari itu, memory ku kembali ke masa tiga tahun yang lalu.
Tahun 2010 lalu, dengan sangat hati-hati ku utarakan niatku pada ibu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Aku ingin kuliah. Dan saat niat itu tersampaikan, dengan nada penuh permohonan ibu memintaku untuk menyimpan rapat-rapat mimpi itu.Mimpi untuk bisa kuliah.
Ibu ingin aku membangun sebuah rumah untuk tempat tinggal kami karna sejak rumah terakhir kami dijual, kami hanya mampu mengontrak dari satu tempat ke tempat lain. Ibu ingin hari tuanya bisa ia habiskan di rumahnya sendiri meski hanya bangunan sederhana. Ya, ibu tak mengizinkan ku untuk kuliah. Sedih, tentu saja. Orang yang paling ku harapkan untuk mendukung langkahku ternyata justru sebaliknya. Aku tak mampu berkata banyak. Meski dalam hati aku berjanji, suatu hari nanti aku akan mewujudkan kedua mimpi besar kami. Aku akan membuat ibu menghabiskan hari tuanya dirumahnya sendiri dan aku juga akan menjadi seorang perempuan yang berpendidikan tinggi. Itu janji, impian, dan harapan yang selalu ku ucap dalam do’a.
Waktu terus bergulir. Aku focus
menabung untuk bisa mewujudkan mimpi ibu, hingga aku lupa pada impianku
sendiri. Impian untuk bisa kuliah. Dan ketika awal tahun 2013 lalu kakak
pertamaku, teh Yanti resmi di wisuda dengan gelar S1, aku seperti diingatkan
dengan mimpi lamaku yang sempat terlupakan. Jika kakakku saja yang sudah
menikah dan punya dua anak bisa menyelesaikan pendidikan S1 nya, kenapa aku
tidak? Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan dan meminta masukkan dari
beberapa orang terdekat, aku memutuskan untuk segera mewujudkan mimpiku, aku
akan kuliah.
Akhir april lalu aku mengunjungi
ibu dikampung. Pada kesempatan itu kembali dengan hati-hati ku sampaikan pada
ibu bahwa aku ingin kuliah. Setelah berbicara dari hati ke hati, akhirnya aku
berhasil meyakinkan ibu bahwa aku mampu menjalaninya. Ibu memberi izin dengan catatan jika ada
lelaki yang hendak melamarku, ibu tidak mau aku menolaknya dengan alasan masih
kuliah. Seperti yang selalu beliau
minta, ibu ingin aku menikah sebelum menginjak usia 26 tahun.
Ibu, sering kali dengan mudahnya
berubah pikiran. Ketika beberapa waktu lalu ada sedikit masalah diantara kami,
ibu mengungkit-ungkit rencanaku untuk kuliah. Yang intinya, beliau keberatan
jika aku kuliah karna hawatir aku tidak bisa mengirimkannya uang seperti yang
setiap bulan ku lakukan.
Allah…. Aku menangis saat itu. Kenapa ibu begitu teganya
berkata begitu. Ketika semangatku untuk meraih mimpi terasa kian sempurna
dengan kehadiran restu nya, tiba-tiba semua terasa gelap kembali.
Aku sangat mengerti kegundahan ibu mengingat dari sekian
banyak anaknya hanya aku yang jadi harapannya. Tapi meskipun nanti aku harus
membayar biaya kuliah ku sendiri bukan berarti aku akan mengabaikan tanggung
jawabku sebagai seorang anak…
Beberapa pekan lalu, aku berkunjung ke rumah teh yanti di
cileungsi. Ku ceritakan semua kekecewaanku tentang ibu padanya. Alhamdulillah, aku seperti mendapat sokongan
semangat baru. Kakakku serta merta mendukung ku untuk tetap melanjutkan
impianku. Ia sangat mendukungku untuk kuliah lagi. Tapi tetap saja, ia juga
mengingatkan aku tentang pernikahan.
Tekadku bulat. Maka seminggu sebelum waktu pendaftaran gelombang 2 ditutup, kusiapkan semua
perlengkapan yang dibutuhkan untuk mendaftar. Minggu depannya, tepat tanggal 21 Juli 2013 aku dijadwalkan
untuk tes seleksi bersama dengan sahabatku, Aulia.
Hari yang dinanti-nantikan tiba: pengumuman hasil tes yang jatuh pada tanggal 25 juli. Pagi-pagi sekali Aulia, sahabatku yang turut serta mendaftar bersamaku mengirim kabar melalui bbm kalau aku dan dia dinyatakan lulus. Alhamdulillah...
Maka pada hari jum'at, 26 juli kami pergi ke kampus unpam untuk melakukan registrasi ulang. dihari yang sama juga kami langsung mendapat almamater dan kartu mahasiswa. aku dan aulia sama-sama mengambil jurusan sastra inggris. sebenarnya dulu saat masih sekolah di aliyah aku bercita-cita ingin kuliah di jurusan sastra indonesia mengingat aku gemar menulis dan ingin mempelajari sasra indonesia lebih dalam lagi. tapi ketika memasuki dunia kerja, aku malah lebih tertantang untuk mengambil sastra inggris. kuliah semester pertama dijadwalkan baru akan dimulai pada tanggal 5 okotber mendatang. aku punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibutuhkan nanti.
Hingga tulisan ini selesai ku buat, ibu masih belum tahu kalau statusku kini sudah menjadi seorang mahasiswi. Bismillah... semoga Allah melancarkan segala urusanku. amiiin... :)
****************
Cileungsi, 4 Agustus 2013
Hari yang dinanti-nantikan tiba: pengumuman hasil tes yang jatuh pada tanggal 25 juli. Pagi-pagi sekali Aulia, sahabatku yang turut serta mendaftar bersamaku mengirim kabar melalui bbm kalau aku dan dia dinyatakan lulus. Alhamdulillah...
Maka pada hari jum'at, 26 juli kami pergi ke kampus unpam untuk melakukan registrasi ulang. dihari yang sama juga kami langsung mendapat almamater dan kartu mahasiswa. aku dan aulia sama-sama mengambil jurusan sastra inggris. sebenarnya dulu saat masih sekolah di aliyah aku bercita-cita ingin kuliah di jurusan sastra indonesia mengingat aku gemar menulis dan ingin mempelajari sasra indonesia lebih dalam lagi. tapi ketika memasuki dunia kerja, aku malah lebih tertantang untuk mengambil sastra inggris. kuliah semester pertama dijadwalkan baru akan dimulai pada tanggal 5 okotber mendatang. aku punya cukup waktu untuk mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibutuhkan nanti.
Hingga tulisan ini selesai ku buat, ibu masih belum tahu kalau statusku kini sudah menjadi seorang mahasiswi. Bismillah... semoga Allah melancarkan segala urusanku. amiiin... :)
****************
Cileungsi, 4 Agustus 2013
0 komentar:
Posting Komentar