Selamanya kita bersama, Semoga!

Posted by Violet 11.30, under | No comments

hari-hari yang penuh dengan berbagai masalah dan cobaan terkadang terasa ringan saat aku berkumpul dengan mereka, para sahabat terbaikku. Ya, mereka yang jadikan hari-hariku indah dan penuh keceriaan.

Saat masih di bangku TK, aku telah memiliki sahabat baik, mereka adalah Zubaidah, Cici, Mikdad dan Anis. Berlima kami lalui masa kecil kami dengan keakraban yang kian terasa. Dan memasuki sekolah MI, kami masih bersama; belajar, bermain bahkan berlomba meraih prestasi disekolah. Tapi seiring berjalannya waktu keakraban kami berlima malah berkurang. Kami terpecah dengan kelompok dan teman main masing-masing. Kecuali aku dan Mikdad. Di madrasah tsanawiyah, aku menemukan teman akrab yang baru. Mereka adalah Kulsum, Hanifah, Nung, dan Umi. Sebenarnya mereka teman ku juga sejak kami sama-sama masih di taman kanak-kanak. Hanya saja persahabatan kami berlima baru benar-benar terjalin saat di kelas dua MTs. Tapi sayang, Nung harus meninggalkan kami berempat karena setelah lulus MTs dia pergi ke kota asalnya dan kami belum pernah bertemu lagi hingga sekarang.

Memasuki sekolah Aliyah, aku mendapat sahabat baru lagi, Aulia dan Reny. Tapi setelah lulus Aliyah Reny kembali ke kota asalnya dan melanjutkan kuliah disana. Sementara aku, Zubaidah, Kulsum dan Aulia mengikuti pendidikan di Yayasan Bogor Educare. Sedangkan Umi, Hanifah dan Mikdad, mereka bekerja di daerah Cileungsi. 

Ini dia sahabat2 terbaikku;

Anis, dia teman mainku semasa kecil. Saat masih di TK kami selalu main bersama-sama. Tapi karna dulu sewaktu MI kami tak satu kelas lagi, hubungan kamipun jadi tak terlalu akrab lagi. Sekarang, sesekali aku bertemu dengannya, dia masih tetap anis yang dulu,






Mikdad, Kami bersahabat sejak masih TK hingga sekolah Aliyah. Hanya saja setelah lulus Aliyah kami jarang komunikasi dan bertemu karna kesibukan masing-masing. Mikdad sahabat terbaikku selama kami bersekolah. Selama aku berganti-ganti kelompok bermain, cuma Mikdad yang tak pernah renggang.

 

Zubaidah, Seperti hal nya Anis dan Mikdad, Bedah juga teman main ku semasa kecil. Selain karna kami dulu bertetangga, kami juga sekolah selalu sama-sama, di Al-fatah. Hanya saja sejak kelas dua MTs hingga memasuki sekolah Aliyah hubungan kami tak seakrab dulu. Tapi semuanya kembali seperti semula sejak kami sama-sama masuk BEC.


Kulsum. Sebenarnya sejak TK kami sekolah ditempat yang sama. Tapi dulu kami tak pernah akrab. Hanya kenal sebatas teman sekolah. Tapi memasuki sekolah MTs kami jadi sangat akrab hingga saat ini. Dulu begitu banyak masa-masa sulit yang kami lalui bersama, saat teman-teman sekelas memisahkan diri dari kami. Dan masa-masa sulit itulah yang semakin mempererat persabatan kami.



Hanifah, sama seperti kulsum, sejak kecil kami sekolah ditempat yang sama. Tapi persahabatan kami baru benar-benar terjalin sejak duduk di bangku MTs hingga saat ini.
 Umi, aku mengenalnya sejak umi sekolah di MTs yang sama denganku. Dan persabahatan kami baru benar-benar terjalin saat kami duduk dibangku Aliyah. Sekarang umi sudah menikah, tapi semoga saja persahabatan kami masih tetap seakrab dulu, meski beberapa bulan yang lalu kami sempat renggang karna suatu masalah, dia tetap sabahat terbaikku.



Aulia, dulu kami tak pernah saling kenal. Tapi saat dia pindah dari Lampung dan melanjutkan sekolah Aliyah di daerah tempat tinggalku, kami lantas saling mengenal dan kian akrab satu sama lain. Dan hingga saat ini, kami masih berteman akrab.

Reny, Sama seperti Aulia, aku baru mengenalnya saat kami sama-sama sekolah di Aliyah Al-fatah. Selepas Aliyah reny kembali ke kota asalnya. Kami jadi jarang bertemu, paling hanya sesekali saat ada even-even tertentu.






Dan sekarang, inilah kami;


Thanks All for being my best friend.. ^_^

dia bilang aku Jelek :')

Posted by Violet 16.57, under | No comments

Hidup ini mengajariku begitu banyak hal. Termasuk cara bagaimana aku harus bersyukur atas anugerah yang tuhan berikan padaku. Menyadari banyak kekurangan yang ada didiriku, tak membuat aku lantas marah pada tuhan, kenapa aku harus tercipta seperti ini.

Saat masih kecil, aku bahkan tak asing lagi dengan ejekan-ejekan yang dilontarkan teman-teman karena kulitku yang gelap atau karena mataku yang belo. Awalnya aku marah pada mereka, marah juga pada diri sendiri kenapa aku harus terlahir dengan kulit gelap, tapi toh pada akhirnya kemarahan itu memudar setelah aku tahu kalau teman kecil yang paling sering mengejekku ternyata sebenarnya suka padaku. Bahkan kami pacaran saat masih duduk dibangku kelas 6 MI. hihihi.. He was my first love. :p

Tapi disini aku bukan mau bercerita tentang cinta pertamaku, tapi bercerita bagaimana cerita dimasa kecilku bisa terulang lagi sekarang. Jika dulu cinta pertamaku mengejek aku jelek sebelum kami pacaran, sekarang terbalik. Pacarku yang sekarang justru sering terang-terangan mengatakan kalau aku jelek. Padahal saat masih berteman dulu dia tak pernah bilang begitu. Ya, dia bilang aku jelek.

Memasuki tahun kedua pacaran, bukan hal yang baru lagi kalau tiba-tiba dia melontarkan kalimat itu dengan tatapan jenaka nya. Awalnya syok berat, kaget, tak percaya dia tega bilang begitu, aku bahkan sakit hati karena dia pacar pertama yang bilang aku jelek. Sejak jadian sama pacar pertama hingga yang ke empat, tak ada satupun dari cowokku yang pernah secara tegas bilang aku jelek, bahkan setelah kami putus pun hubungan ku dengan para mantan pacar tetap berjalan baik, dan belum pernah sekalipun kata 'jelek' terlontar dari mereka.

***
Aku masih ingat kapan pertama kali dia bilang aku jelek.
Suatu pagi, aku dibuat panik lantaran file Ms.Power point yang kubuat untuk persentasi saat sidang nanti mengalami error yang fatal, membuatku kelabakan lantaran waktu untuk sidang hanya tinggal dua jam lagi. Akhirnya aku menelepon pacarku, memintanya agar membantu membuatkan bahan persentasi yang baru sesuai dengan draft yang sudah ada. Alhasil jam 8 pagi kami berdua sudah nangkring didepan komputer disalah satu warnet terdekat. Sejam kemudian bahan persentasi sudah hampir rampung, aku meninggalkan pacarku sendirian diwarnet dan kembali ke tempat penginapan untuk mandi dan bersiap-siap sebelum berangkat ke kampus untuk sidang.

Setengah jam kemudian.
setelah rapi dan wangi, aku kembali ke warnet yang berjarak hanya sekitar 100 meter dari tempat menginap. Disana ku lihat pacarku masih duduk didepan komputer. saat melihatku, dia menoleh lalu tersenyum. "eeeh si cinta udah dateng", ucapnya sambil nyengir. Kami lalu duduk bersisian dan dia mulai menjelaskan bahan persentasi yang baru saja diselesaikannya.
Setengah jam sebelum sidang aku ditemani pacarku berangkat ke kampus. Saat sedang jalan berdua menyusuri gang, tiba-tiba pacarku menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajahku beberapa saat. "eh, ayank ko beda sih." ujarnya masih menatapku.
"beda gimana?" tanyaku heran.
"ya beda. Tadi waktu didalem warnet perasaan ayank cantik, ko sekarang jelek."
"hahhh???" Mulutku terbuka. Aku terkejut bukan main mendengar ucapannya. Yang membuatku syok lagi,dari raut wajah dan nada ucapannya sama sekali tak menunjukkan kalau dia sedang bercanda atau meledekku.
"iya beneran.. apa karna tadi didalem ruangan ya jadi gak begitu jelas keliatan..? eh sekarang ko keliatan banget. tuh, bedaknya juga gak rata gitu." tegasnya lagi. Aku sedih. Kalau pacar sendiri saja bilang aku jelek, bagaimana dengan orang lain??
Tapi aku menanggapinya biasa saja, pura-pura tak sakit hati. "iya nih, buru-buru sih, pake bedak aja sampe acak-acakan. Coba dimana aja yang gak ratanya?" Ku dekatkan wajahku ke wajahnya. "ni, disini, disini, disini juga." Ucapnya seraya menekan lembut jari telunjuknya ke beberapa bagian diwajahku.

Sebelum pacaran dengannya, aku juga pernah mendapat ucapan tak enak dari mantan pacarku saat kami masih jadian, tapi aku tak begitu sakit hati karna aku membalas ucapannya.
waktu itu aku dan dia sedang selisih pendapat, sama-sama terbawa emosi dan perang mulutpun tak terelakkan.
"Mut sih, kalo dikasih tau susah."
"yee.. Abib tu yang rese. kalo salah suka gak terima. Nyalahin Mut aja bisanya.." bantahku kesal.
"huuuh.. dasar. Mut item."celetuknya. Aku terperanjat. Aku paling tak suka jika dihina soal fisik oleh orang terdekat, apalagi dia pacarku.
" dih, songong banget ngatain Mut item. Abib tuh, dasar pendek." Ucapku sekena nya. Gantian dia yang terperanjat. Tapi akhirnya kami sama-sama tertawa. Pertengkaran kecil itu berakhir setelah kami saling menautkan jari kelingking pertanda sudah saling memaafkan.

***
Pacarku yang sekarang terbilang unik. Ucapannya yang sering terdengar lucu, gaya bicaranya yang kadang terlihat aneh serta gerakan-gerakan spontan nya yang sering bikin ku ilfeel, justru memiliki nilai humor tersendiri. Termasuk saat dia berlagak romantis atau bahkan saat satu kalimat itu dia lontarkan tanpa rasa bersalah, 'kamu jelek!'
Aku ingat saat akhir bulan lalu kami pergi ke Bandung. Sewaktu mau pulang ke Cileungsi, kami menunggu bus jurusan kampung rambutan di pintu tol Padalarang.Sambil menunggu bus, iseng-iseng ku mainkan Hp pacarku dan memotretnya. lalu gantian, aku minta difoto. Ternyata dia tidak memotretku sekali dua kali, tapi berkali-kali dan dengan berbagai pose dan ekspresi. Setelah puas, dia lalu mengamati satu persatu fotoku. 
"Ih, ko hasilnya gini ya... ah pas moto tadi tangannya gerak sih jadi gak jelas." ujarnya sambil memandangi fotoku satu persatu. "mana? coba as liat.." ku ambil Hp dari tangannya dan ikut-ikutan mengamati. 
"sini ah, cep dulu yang liat." Dia merebut Hp nya dari tanganku. 
"eh ayank bagusan difoto dari samping lho. soalnya kalo dari samping mukanya gak keliatan." Jleb!
Kalau di film-film, mungkin aku diibaratkan orang yang sedang menahan emosi lantas keluar dua tanduk dikepalaku lalu mengeluarkan banyak asap. Menanggapi ucapannya barusan, Aku cuma bisa tersenyum getir.

***
 Beberapa waktu yang lalu, sepulang kerja aku sengaja berangkat ke Cikarang untuk mengambil kunci kantorku yang terbawa oleh pacarku lantaran kunci itu ia simpan dijaketnya sewaktu dia datang ke tempat kerjaku sehari sebelumnya. Untungnya teman kerja ku punya kunci cadangan jadi hari itu aku bisa masuk kantor. 
Aku dan pacarku janjian bertemu di terminal Cikarang. Sekitar pukul 6 sore aku tiba di terminal. Saat turun dari angkutan umum, ku lihat dia yang sedang berdiri menungguku disisi bundaran terminal. Ku hampiri dia. Setelah bertegur sapa sebentar kami lalu menyebrang jalan dan singgah di salah satu penjual mie goreng yang ada sana. Sambil menunggu pesanan kami dibuat, kami duduk berhadapan dan mulai ngobrol ini itu. Ditengah obrolan kami, tiba-tiba dia mengamati wajahku lekat-lekat. Dan aku tau setelah ini dia pasti akan melontarkan kalimat tak enak. Dan benar saja. 
"ayank ko pake daleman kerudungnya yang ini? jelek tau, bagusan yang biasa ayank pake," celetuknya enteng. "jelek ya? iya nie soalnya yang biasa as pake lagi dicuci. ya udah pake yang ini aja deh. " jawabku santai. "Kamu tu jelek, jeelek." Ulangnya dengan tegas. Aku yang mudah tersulut emosi diam sesaat sambil memandang wajah lelaki didepanku itu. 
'apa?? berani banget lo bilang gue jelek, lo pikir lo tuh ganteng apa? hah?? ngaca dong! Tampang lo tuh pas-pasan cep. Beberapa mantan pacar gue malah jauh lebih ganteng dari lo. Dan harusnya lo sadar, kalo gue emang jelek lo pasti ga bakal suka dan nyatain cinta ke gue. Mikir dong!!' Rentetan kalimat itu meledak-ledak didada.Ya, hanya didalam hati. Aku tak pernah sampai hati melontarkan kalimat itu meski sangat ingin ku muntahkan tepat saat dia bilang aku jelek. Seperti yang sudah-sudah, aku selalu terlihat santai meski sebenarnya aku tersinggung. 

***
Dimataku, dia lelaki yang jujur dan apa adanya. Meski kadang dia tak tau kapan harus jujur dan kapan harus diam. Ia tak segan-segan mengkritik jika ada hal dari diriku yang menurutnya kurang bagus atau tak enak dilihat. Sikapnya yang berani bicara blak-blakan membuat pikiran positifku berkesimpulan kalau dia memang sayang padaku bukan dari fisik, tapi dari sisi yang lain.
Namun tak bisa dipungkiri juga, dari segi sosial, sikapnya yang terlalu bicara apa adanya juga membuatku tak pernah merasa bangga saat jalan berdua dengannya.
Dulu, karna tak pernah mendapat kritikan pedas perihal kekurangan fisik yang ku miliki, aku selalu percaya diri setiap kali pacarku mengajak jalan atau bertemu teman-temannya. Dan tentu saja, sikapnya ini membuatku merasa jadi wanita paling beruntung dan tanpa disadari aku selalu bangga setiap kali jalan dengannya, seakan aku berkata pada semua orang yang kami jumpai bahwa "ini pacarku lho!".

Sekarang semua berbeda. Ucapan apa adanya yang sering dilontarkan pacarku berefek buruk pada kepercayaan diriku yang menurun drastis. Aku cenderung minder setiap kali kami jalan berdua.

Sering bergulirnya waktu dan berjalannya hubungan kami, tugas ku adalah berusaha mengembalikan rasa percaya diri dengan segala keterbatasan yang sudah Allah berikan. Dengan begitu aku tak pernah lupa untuk bersyukur.

Meski dia bilang aku jelek, toh itu sama sekali tak mempengaruhi perhatiannya padaku. Sayangnya padaku masih tetap sama. Dia memang tak pernah memuji fisikku yang serba pas-pasan, tapi dia menggantinya dengan bahasa yang lain;
Sayank, mimpikanlah masa depan kita, karna setelah bangun, aku lah yang akan mewujudkannya.
ku ingin kau mengerti, betapa ku sayang padamu, aku bakal mencoba jadi yang lebih baik lagi buat kamu.
Setiap ku lihat wanita lain, yang ku lihat cuma kamu. kangeeeeen.
Hanya dengan mendengarmu aku hidup, tetaplah bersamaku.
jarak yang memisahkan kita, malah membuatku semakin sayang sama kamu.
Sayank, andai aku memiliki segalanya didunia ini tanpamu disampingku, aku akan memilih dirimu dan meninggalkan semuanya.
Pernahkah kau menyadari betapa sepinya dunia ini tanpa kehadiranmu?
Cinta, kamu tau nggak? perkenalan, penantian, pengungkapan rasa cinta, perjalanan hubungan kita adalah yang selalu ku panjatkan dalam do'a sejak pertama kita jumpa.

Meski diakuinya aku tak cantik, tapi sikap dan perlakuan tulusnya padaku selama ini membuatku senang. Dia bukan hanya pacar, tapi juga sabahat. Dan semoga hubungan kami langgeng hingga apa yang kami cita-citakan berdua bisa tercapai. 

Cinta, aku sayang kamu.

Cileungsi, 16 Februari 2012

Yang Tak Perlu Diucapkan

Posted by Violet 17.21, under | No comments

Aku tak pernah tahu kapan tepatnya aku jatuh cinta pada Edo, pemuda yang usianya tiga tahun lebih tua dariku, yang ku kenal sejak lima tahun silam.
Malam itu Edo sengaja mampir kerumah kontrakanku setelah ia mengantar Umi, pacarnya pulang kerumahnya. Kebetulan jarak tempat tinggal ku dan Umi berdekatan jadi Edo menyempatkan diri untuk mampir. Aku menyambut hangat kedatangan Edo. Diatas karpet merah yang sengaja digelar, kami duduk berdua diteras, menikmati hembusan angin malam sambil ngobrol kesana kemari.
Suasana malam itu masih biasa-biasa saja. Edo duduk bersila disebelah ku yang malam itu tengah mendekap boneka pink pemberian mantan pacarku. Sesekali terdengar kami tertawa bersama lalu hening kembali.
"Put..."sapa Edo lembut.
"apa..?"
"lo jelek banget sekarang." Edo berkata pelan tanpa menoleh ke arahku yang sedikit kaget dengan ucapannya barusan.
"masa sih??"
"iya..." Edo menoleh dan kami saling bertatapan. "lo kurus banget sekarang. tambah item, jelek dah pokonya mah..."
"hehehehe..." aku nyengir. "ga papa lah jeleknya sekarang. Dari pada lo, dari dulu ampe sekarang tetep aja jelek."
"hahahaha... sialan lo Put, ngatain gue jelek." kami tertawa lagi.

Aku sepenuhnya sadar kalau ada perasaan yang beda setiap kali bersama Edo. Perasaan ini juga yang membuat ku tak bisa menghindar saat tiba-tiba Edo meletakkan kepalanya diatas boneka yang ada pangkuanku.
Suasana hening.
Sebenarnya aku ingin sekali mengusap kepala sahabatku itu, tapi niat tersebut segera hilang saat bayangan Acep muncul dipikiranku. Laki-laki yang paling ku cintai.


***

"lo kenapa sih Put cemberut terus...?" Tanya Edo pada ku saat kami jalan bareng.
"sedih gue,do. Cowok  gue sejak lulusan kemaren kaga ngasih kabar lagi. Ngilang gitu aja."
"yang temen sekelas lo itu?"
"ho-oh."
"lah emang dia orang mana? ko bisa ga ada kabar gitu? emang gak ada no hp nya?"
"gak aktif. gue sms juga teu dibales. "
"ya udah napa gak usah sedih mulu. Masih banyak cowo yang mau sama lo. Gue ajakin lo keliling Bekasi dah biar lo seneng."
Saat itu, Aku, yang baru saja lulus dari sekolah Aliyah mengeluhkan soal Fadil. Cowok satu kelas asal Tangerang yang memiliki hubungan spesial denganku sejak kami masih duduk di kelas dua Aliyah.

Begitulah Edo. Selalu ada disaat-saat aku membutuhkan seorang teman curhat. 

*** 

"Dasar cowok brengsek. sialaaaaaaaaaaan...." Aku teriak-teriak histeris seperti orang kesurupan, tak perduli dengan lingkungan sekitar. Air mataku mengalir deras. Napasku berhembus tak beraturan menahan sesak amarah. Sementara Edo yang duduk disampingku hanya menatap pilu. Edo sengaja membawaku ke tepi danau, duduk diatas hamparan rerumputan dan diantara rindangnya pepohonan karena dia bilang aku sedang membutuhkan suasana yang tenang.
"sabar Put..." Edo mencoba menenangkan.
"gak bisa do. lo bayangin aja, gue diboongin. Bilangnya dia cinta banget sama gue. Gak taunya.... 
gak taunya dia dah punya bini. huuaaaaa...." Aku sesenggukan lagi. "pengen banget gue tonjok tu orang. pengen gue tampar mukanya. setelah gue bener-bener sayang dan cinta banget sama dia, gue malah dapet berita kaya gini. gimana gue gak sakit hati, Do."
"ya udah, tampar aja gue klo emang itu bisa bikin sakit hati lo ilang." Edo berujar datar. 
Meski terdengar aneh, Aku tau kalau Edo serius dengan ucapannya. Aku jadi malu sendiri. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, melampiaskan amarah pada Edo atas ulah laki-laki bernama Rony yang ku kenal saat baru masuk kuliah di Bogor Educare.  Ku usap air mata yang sejak tadi membasahi pipi. 
"jangan nangis lagi napa Put. nanti juga lo dapet gantinya. patah hati mah biasa."
"kenapa ya gue setiap punya pacar ngecewain terus....."
"lo sih, jelek..."
"songooooooong"
"hahahaha..". kami tertawa, memecah keheningan senja itu. 

***

Aku belum bisa mengerti tentang perasaanku pada Edo. Yang aku tahu,aku selalu risih jika Edo jalan dengan teman ku yang lain. Lia misalnya. Selain aku, Lia termasuk yang sering jalan dengan Edo. Berbeda denganku dan ke tiga sohibku yang lain, Lia memanggil Edo dengan sebutan 'Abang'. Begitupun Edo, hanya Lia yang dipanggilnya dengan sebutan 'ade'. 
Di beberapa kesempatan aku sering bertanya pada Edo kenapa dia betah sekali dengan status 'jomblo' nya. Dengan enteng Edo hanya menjawab, "lah, pan gue suka nya sama lo.. ngapain gue nyari cewe?!! Jelas aja gue jomblo terus, lo nya gak pernah mau sama gue." Sebuah jawaban simple yang membuat ku salah tingkah. Edo juga tak begitu menanggapi saat kerap kali aku meledek tentang perasaannya. 
"udah lah, Do.. ngaku aja deh. Lo suka kan sama Lia...?"
"kaga. Syapa bilang?! lagian kalopun gue suka sama Lia, dia nya juga pasti gak mau sama gue."
"alaaah, lo ngomong gitu didepan gue. Syapa tau di depan Lia beda lagi."
"eeet dah, ni bocah kaga percaya amat ma gue ya..." Dengan dialeknya yang khas, Edo berkata sambil cengengesan.

***
Dulu aku dan Edo tak pernah saling mengenal satu sama lain hingga Lia dan teman laki-lakinya mempertemukan kami. Semuanya berawal dari perkenalan antara Lia dengan cowok asal Bekasi bernama Jamal. 
Jamal punya beberapa teman akrab diantaranya Indra, Herman dan Edo. Sementara sohib terdekat Lia yaitu aku, Umi, Hany, dan Kulsum. Awalnya, Lia mengenalkan aku pada Herman, salah satu teman dekat Jamal. Ketika Herman dan aku janjian untuk ketemuan, Herman mengajakku mampir ke Rumah Edo. Dari sanalah cerita tentang kami dimulai.
Dari waktu ke waktu, Selain Jamal, ketiga temannya justru menjadi sangat akrab dengan aku dan kawan-kawan. Dan persabatan kami pun masih terjalin hingga kini.


Sebenarnya sudah sejak lama aku menyadari kalau Edo sering memperlakukan aku selayaknya seorang pacar, bukan sabahat semata.  Tapi semua itu menjadi teka-teki tak berujung karena Edo memang tak pernah mengutarakan cinta padaku. Dulu, saat masih sering jalan bareng,  setiap kali Edo memboncengku dengan motornya, dia tak segan-segan menggamit tanganku yang duduk dibelakangnya dan meletakkannya dipinggangnya sambil berujar, 'pegangan put, ntar lo jatoh'. Tapi segera ku tepis. Aku tak mau. 
Hal lainnya yang sering ku anggap berlebihan adalah saat kami nonton di bioskop. Edo sering berusaha menyuapi snack kedalam mulutku. Awalnya aku mau dan menganggap dia sedang bercanda. Tapi aku justru menjadi terganggu dan risih saat dia mengulangi hal itu lagi dan lagi, membuatku jadi serba salah dan tak bisa fokus menonton film yang diputar.  


***
"gue masih gak abis pikir sama lo, Put. "
"Kenapa?"
"dulu gue dateng jauh-jauh naek motor dari Bekasi ke Bogor cuma buat nemuin lo doang, gak taunya lo nya malah pergi ma Zenal. Sial. Gimana gue gak sakit hati coba.." Edo yang semula berbaring dengan meletakkan kepalanya diatas boneka pink yang ada di pangkuanku tiba-tiba duduk tegap dan menatapku tajam. 
"hehehe.. ya maap. lagian kenapa juga mesti ketemu gue? kan ada Lia ma Usum. Lo tinggal dateng aja ke kosan gue trus ketemu sama mereka. Jadikan lo gak sia-sia."
"Susah lo ya kalo di bilangin. " Edo terlihat kesal.
" Gue tu kesana cuma mau ketemu sama lo. Kaga ngarti-ngarti dibilangin dari tadi." Edo ngomel sendiri. "Gue kan suka nya sama lo, bukan sama Lia atau Usum." lanjutnya lagi.
Aku agak kaget juga, tak menyangka dia akan berkata seperti itu. 
"Hah?? emang lo suka sama gue? ko lo ga pernah bilang?"
"Emang lo selama ini gak ngerasa? emang lo gak suka sama gue?"
Jleb!
"ya udah napa.. yang dulu jangan dibahas terus. Sekarang lo dah punya Umi, Gue juga udah punya Acep. Kita udah gak mungkin punya hubungan yang lebih dari sekedar temen."
"syapa bilang gak bisa? gue kan suka sama lo. kalo lo suka sama gue, asalkan lo mau ninggalin Acep, gue juga mau ninggalin Umi."
"dih, sembarangan. Lo gila kali. Gue sayang banget ma Acep. Dan gue juga yakin banget kalo lo sayang banget ma Umi. Ya kan?!"

Perdebatan kecil itu terus berlanjut hingga akhirnya Edo memutuskan untuk pulang. Satu jam kemudian Edo mengirimkan sebuah sms yang membuatku sedih, sedih karena merasa akan kehilangan seorang sahabat sebaik Edo.

'Ya udah put, qt ga usah ketemu lagi ya coz gw takut ntar gw makin suka sama lo sedangkan lo ga suka sama gw. gw ga mo patah hati lagi. gw udah tau gimana perasaan lo ke gw, jadi gw pngen kita ga ketemu lagi biar gw bisa lupain perasaan gw ke lo. Mudah2an lo bahagia ma Acep.'
***

Setahun berlalu. 
Edo menepati perkataannya. Sejak malam itu, aku benar-benar telah kehilangan Edo. Dia membangun sebuah dinding pemisah diatara kami berdua. Bukan hanya dia yang menjaga jarak, tapi juga Umi, yang berstatus sebagai pacarnya yang merupakan salah satu dari ke lima sohib terbaikku.

Aku terus menepis bayang-bayang masalalu bersama Edo. Lelaki yang dulu sempat mendapatkan tempat istimewa dalam hatiku. Dan disaat aku sudah mulai terbiasa tanpanya, sudah bisa melupakan semua hal terbaik yang pernah kami lakukan bersama, Edo justru menghubungiku lagi. Dia meneleponku. Dari cara bicaranya, aku tau kalau dia masih seperti yang dulu. Edo yang keras kepala dan selalu ingin dihormati oleh orang yang lebih muda darinya. Anehnya, setiap kali aku bertanya perihal hubungannya dengan Umi, Edo selalu tak mau cerita. Dia hanya bilang kalau mereka sudah putus. Edo malah terus-terusan memojokkan aku dengan membahas masa lalu, saat-saat dimana aku tak pernah bisa menangkap sinyal darinya kalau dia suka padaku. 
"Kenapa si lo masih ngebahas yang itu-itu terus? gak bosen?"
"bukannya gitu put, coba klo dulu lo ngerti, ga bakal begini jadinya."
"ya trus lo masih nyalahin gue gara-gara kita gak bisa pacaran? gitu?"
"ya iyalah."
"Ga bisa gitu lah,lo yang salah. Berapa taun kita kenal lo gak pernah tuh bilang suka sama gue. Nembak gue jadi pacar gitu, gak pernah kan? trus masih mau nyalahin gue?" tegasku penuh emosi.
"Harusnya lo ngerti. Gak selamanya kan cinta itu harus diungkapin pake kata-kata. Hhh.. yaudah lah. gue juga cape bahas itu lagi, bawaannya kesel mulu. Kapan lo merried ma Acep?"
"gak tau. Tiga taun lagi kali." 
"Buset dah. lama bener. Bilangin tuh ma Acep, klo gak buru-buru ntar keduluan ma gue."
" yeee... siapa elo?!" aku sewot, sementara Edo tertawa lebar mendengar ucapanku barusan.

Tiga puluh menit aku dan Edo berbicara banyak hal di telepon. Dan aku baru mengerti alasan kenapa dia terus membahas masa lalu itu, karna ternyata itu adalah pembicaraan terakhir kami sebelum aku menerima kepastian akan kabar burung yang mengatakan kalau Edo dan Umi akan menikah dalam waktu dekat. Ya, mereka akan menikah. Dan semua yang Edo katakan padaku bahwa mereka sudah putus dan tidak pernah berhubungan lagi adalah ucapan bohong belaka. 

***
Detik ini, hari saat aku menyelesaikan tulisan ini adalah dua hari menjelang pernikahan mereka. Edi prabowo atau yang biasa ku panggil Edo akan menikah dengan sahabat yang ku kenal sejak kami sama-sama dibangku kelas 1 Mts, Umi Rosyani. Satu sisi aku sedih karena akan kehilangan teman baikku, Edo. Yang dulu selalu siap membawaku kemana saja demi melupakan kesedihan, yang meski tubuhnya tidak lebih besar dariku tapi selalu berusaha melindungiku, yang karena sifatnya yang sangat keras kepala membuatku sering mengelus dada dan berharap dia bukanlah jodohku karena kami sama-sama keras kepala. Dan disisi lain aku bahagia. Tuhan menjawab do'aku. Lelaki yang baik seperti Edo memang layak mendapatkan pendamping hidup seperti Umi, sahabatku yang cantik, baik, bisa mengerti, memamami dan menerima Edo seutuhnya.
------------------------------
Do'aku untuk kalian,
Semoga kalian menjadi keluarga yang senantiasa diberkahi Allah, dengan sakinah dan mawadah yang sempurna. Semoga Allah menganugerahi rumah tangga kalian dengan lahirnya putra-putri yang sholeh. Sungguh, aku sayang kalian berdua, meski tak pernah ku ucapkan.


Cileungsi, 10 February 2012

Munajatku

Posted by Violet 15.32, under | No comments

Rabby....
Aku ingin terlihat kuat..
meski ku lemah saat perpijar.
aku ingin terlihat tegar.. meski ku rapuh saat berpijak.

Kuasa-Mu yang menciptakan aku sedemikian indah dan sempurna.
dengan dua kaki dan tangan yang bergerak sempurna,
dua telinga yang dapat mendengar,
dua mata yang dapat melihat,
mulut yang dapat berucap,
dan segala nikmat lainnya dalam raga ini yang jarang ku syukuri.
 Ampuni aku ya Rabb....

Inikah yang membuatku merasa jauh dari-Mu?
inikah yang membuatku merasa tak pernah didengar oleh-Mu?
Inikah yang membuatku merasa sendirian didunia ini?

Aku yang jarang mengucap syukur atas segala anugerah yang Kau beri..
Aku yang selalu lalai menjalani perintah-Mu..
Aku yang diselimuti keangkuhan akan pesona duniawi..
dan aku yang banyak menimbun dosa dalam tingkah dan tuturku..

Rabby...
ampuni aku yang jarang menoleh pada-Mu..
ampuni aku yang sering meragukan kebaikan-Mu dalam do'a-do'a ku..
ampuni aku yang sering menghujat-Mu atas pahitnya ujian hidup yang ku jalani..

Rabby...
Aku tak ingin marah pada-Mu saat ku rasa segalanya terlalu perih..
aku tak ingin berpaling dari-Mu saat ku rasa aku tak mampu lagi bernafas..
aku tak ingin lari dari-Mu saat tak juga ku temukan titik terang dari ujian ini..

Rabb...Engkau pasti tahu,
detik ini.. saat ku gerakan jemari untuk merangkai kata, batinku tengah terluka..
luka atas segala celoteh tak menyenangkan dari orang lain atasku..
luka atas segala permintaan keluarga tercinta yang belum bisa ku penuhi..
luka atas segala ikhtiarku yang seakan menjadi sia-sia dan tak berarti..

Dan dengan segala kerendahan hati, aku mohon pada-Mu ya Rabb..
sembuhkanlah semua lukaku..
kembalikanlah semangat iktiarku dalam menggapai kesejahteraan dunia dan akhirat..
yakinkanlah aku selalu bahwa semuanya baik-baik saja..
kuatkan aku dalam setiap langkah menjejaki sisa usiaku..
dan berilah aku kesabaran yang tak terhingga dalam menjalani skenario indah-Mu ini.

 Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik tempat memohon.
 ************************************************************

Cileungsi, 08 Feb'2012

Please, jangan duain Aku..!!

Posted by Violet 19.01, under | No comments

Pernah membaca novel berjudul 'Istana Kedua'?, Yup, bagi yang belum tahu atau belum pernah membacanya, akan sedikit ku uraikan. Novel ini tercipta dari tangan penulis favoritku, Asma Nadia. Isinya bercerita tentang kehidupan yang dijalani seorang ibu rumah tangga bernama Arini. Kehidupannya bersama sang suami bernama Andika Prasetya beserta ketiga buah hati mereka dalam istana kebahagiaan yang begitu indah mendadak runtuh dan hancur berkeping-keping saat Arini mengetahui kalau suaminya memiliki istana kedua ditempat lain. Pras telah menikah dengan wanita lain bernama Mei Rose. Dan keberadaan istana keduanya telah Pras rahasiakan dengan rapi selama beberapa tahun.

Dikesempatan ini aku bukan ingin menceritakan ulang isi novel yang mendapat anugerah islamic book fair award ini untuk novel terbaik tahun 2008, tapi aku ingin sedikit berbagi dan menceritakan reaksi yang ku alami setelah membaca seluruh isi novel.

***
Kata demi kata yang dirangkai Asma nadia dalam novel ini membuat siapapun yang membacanya pasti akan terhipnotis dan mampu merasakan pahitnya perjalanan hidup baik yang dilalui tokoh Arini yang menjadi istri tua maupun yang dilalui tokoh Mei Rose yang menjadi istri muda.

Reaksi pertama yang muncul dalam diriku setelah menyelesaikan lembar terakhir novel istana kedua ini adalah; Aku benci laki-laki.
Dalam novel ini, sosok Prasetya merupakan suami dan ayah paling sempurna, paling tidak dimata Arini dan ketiga buah hati mereka. Tapi laki-laki terbaik sekalipun tega melakukan poligami padahal dia telah memiliki keluarga yang sempurna.

***
Usiaku baru memasuki 22 tahun dan belum menikah. Tapi kehadiran novel 'istana kedua' dalam koleksi bukuku membuatku benar-benar merasakan sakitnya diduakan. bayang-bayang poligami tak pelak membuatku takut menikah. Jangankan membayangkan sakitnya diduakan setelah menikah, saat pacaran saja aku tak pernah bisa mentolelir kesalahan akan adanya pihak ketiga. Setiap kali menjalin hubungan yang lebih serius dengan seseorang, pantang bagiku untuk punya kekasih lain. Bukan karena aku sok baik, terlalu setia, cinta mati atau apa, aku cuma takut karma. Aku takut pasanganku sakit hati dan tuhan membalas perbuatanku dengan yang lebih menyakitkan, diduakan atau poligami setelah menikah misalnya. Nauzubillah.

Aku pernah bertanya pada seorang rekan kerja yang kebetulan sering ku ajak bertukar pikiran. Aku bertanya, apakah sebagai seorang lelaki pernah terlintas dalam benaknya untuk punya istri lagi, dia menjawab tidak. Alasannya, dia akan sangat menyakiti hati istrinya yang sudah hidup bersamanya selama puluhan tahun dan memberinya dua orang putra. Jawaban itu memang terdengar indah ditelingaku, tapi sisi lain batinku menganggap jawaban itu terlalu munafik bagi seorang pria normal sepertinya. Zaman seperti sekarang ini, masih adakah yang seperti itu? ku rasa memang ada, tapi mungkin hanya segelintir orang saja.

***

Dalam novel istana kedua diceritakan pula Arini yang melakukan diskusi kecil dengan rekannya sesama penulis yang kebetulan memiliki dua istri. Saat ditanya alasan kenapa laki-laki berpoligini, pria itu menjawab, "lelaki menikah lagi karena ingin menolong? omong kosong. Lelaki yang menikah lagi, seperti aku misalnya, cuma punya satu alasan, mereka jatuh cinta, naksir, dasarnya memang suka pada perempuan itu. Titik. Habis perkara."

 Apakah dikehidupan nyata juga seperti itu?,memang benar,  banyak pelaku poligami beralasan ingin menolong mereka yang membutuhkan, tapi kenapa banyak pula laki-laki yang justru bercerai dengan istri pertamanya setelah dia memiliki istri baru? dan ironisnya lagi, ada pula pelaku poligami yang berdalih melakukan hal tersebut demi memenuhi sunnah rosul, atau berdalih demi membukakan pintu syurga yang selebar-lebarnya bagi istri pertama, Benarkah seperti itu?

Dalam kehidupan sehari-hari saja, aku sudah sangat akrab dengan kisah-kisah poligami yang dijalani beberapa perempuan disekelilingku. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh, ibuku misalnya. Ibu merupakan istri ke dua dari tiga orang istri yang dimiliki almarhum bapakku. Saat bapak masih hidup, tampak dari luar hubungan antar istri-istri bapak berjalan cukup harmonis. Tapi sepertinya tidak sama dengan keadaan yang sesungguhnya. Itu bisa kurasakan saat aku sering memergoki ibu sedang menangis sendirian dikamar.

Lain lagi dengan kisah yang di alami seorang tetanggaku yang suaminya menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda dan cantik. Setiap kali mampir kerumah wanita ini, aku sering melihat matanya yang masih sembab habis menangis. Dan biasanya dia akan bercerita dengan sendirinya sebelum aku bertanya, ia tumpahkan semua kesedihannya padaku. Ceritanya masih sama seperti yang sudah ku dengar sebelum-sebelumnya, wanita ini sakit hati karena suaminya lebih sering bermalam dirumah istri mudanya. Sementara istri tua sibuk menafkahi anak-anaknya, sibuk ke pasar dan mengurusi semua kebutuhan belanja untuk warung dan dapurnya, si suami justru bersantai ria dirumah istri muda.
Allah... aku semakin takut. Takut kalau suatu saat nanti aku mengalaminya. Jika itu terjadi, bisakah aku ikhlas?

***
Beberapa waktu lalu, saat aku membicarakan pada ibu perihal kehadiran Acep dalam hidupku yang menyatakan keseriusannya padaku, ibu sudah mewanti-wanti sejak awal. Ibu ingin aku benar-benar selektif dalam memilih calon pendamping hidup, bukan karena aku terlalu memasang harga tinggi, tapi ibu hanya ingin agar aku benar-benar menikah dengan orang yang cintanya tulus sepenuhnya untukku, agar pahitnya poligami yang dulu ibu rasakan tak turut pula dirasakan oleh anak-anak perempuannya.


Rabb, Jika saja menikah itu bukan untuk memenuhi separuh agama-Mu, Jika saja aku bisa membuat suamiku nanti seutuhnya hanya milikku dan keluarga kecilku kelak, jika saja jumlah antara laki-laki dan perempuan satu banding satu, ah tuhan.. sungguh, aku tak ingin menyesali semua takdir yang telah digariskan oleh Mu dalam hidup ini.. Aku hanya memohon, agar apapun yang kujalani kini dan nanti dapat ku lalui dengan ikhlas dan sabar. Semoga...! Amin ya robbal'alamin.



Cileungsi, 6 Feb,2012

Bapak kedua

Posted by Violet 16.25, under | No comments

Ku sebut beliau sebagai bapak kedua bukan karena beliau menikah dengan ibuku lantas menjadi bapak tiriku, sama sekali bukan. Tapi karena pribadi beliau yang sangat santun dan lembutnya sikap beliau padaku mengingatkan aku pada sosok almarhum bapakku yang wafat saat usiaku tujuh tahun.

Kami pertama kali bertemu saat aku masih kuliah di BEC, saat beliau datang menjenguk anaknya yang tak lain adalah teman akrabku. Beliau adalah ayahnya Acep. Aku sendiri pertama kali kenal dengan Acep sejak kami sama-sama kuliah di BEC dan kebetulan rumah kos kami bersebelahan. Dan Acep jadi sahabat cowok terdekatku selama kami sama-sama menimba ilmu di Bogor. 
Saat datang ke Bogor, aku tak sempat ngobrol banyak dengan beliau karena memang kami bertemu hanya sepintas. Siang itu, tepat saat aku membuka jendela kamar, ku lihat Acep sedang berdiri di teras kamar kos nya bersama seorang bapak. Karena penasaran, ku panggil Acep dari jendela yang terbuka. 
"Acep!", dia menoleh.
"itu bapak Acep bukan?" tanyaku.
"ho-oh, Ast. Ini bapak Acep." jawabnya singkat. Mendengar suaraku, bapaknya langsung mencari asal suara dan saat melihatku yang melongokkan kepala dijendela, beliau tersenyum. Aku nyengir. 
"Pak, salam kenal ya. Astria, Pak. Calonnya Acep. hehe..." Candaku memperkenalkan diri pada bapak yang bikin Acep agak salah tingkah. Kali ini bapak tertawa, dan dengan dialek sundanya yang khas, beliau membalas ucapanku, "oh, iya neng. salam kenal juga dari bapak ya, neng. Eneng sehat?" tanyanya padaku. Aku mengangguk, "Sehat pak, Alhamdulillah. "
"Syukur atuh kalo gitu mah". Selanjutnya, bapak melambaikan tangan dan mengucapkan salam sebelum akhirnya beliau pamit untuk pulang.

***
Pertemuan kami selanjutnya adalah saat Acep mengundangku datang ke rumahnya di Bandung untuk menghadiri resepsi pernikahan kakak perempuannya. Hari itu untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Bandung, dan di rumah Acep, aku disambut hangat oleh orang tua dan keluarga besar Acep yang lainnya. Sedikit kaget juga hari itu karena keluarga Acep mengira kalau aku adalah pacarnya Acep. Hehe...
Aku dan kedua orang tua acep memang tak sempat ngobrol banyak karena mereka sibuk menyambut tamu. Tapi obrolan kami yang singkat sudah cukup membuatku merasa nyaman berada ditengah-tengah mereka. 

***
Seiring berjalannya waktu, aku dan Acep menjalin hubungan yang lebih dekat. Pujangga bilang 'Persahabatan bisa berakhir cinta', dan itulah yang aku dan Acep alami. Kami pacaran sejak pertengahan Mei 2010, setelah Acep menjalani sidang laporan praktek industrinya di kampus BEC.  
Dua bulan kemudian, setelah aku menjalani sidang laporan di kampus BEC, aku berkesempatan silaturahmi lagi ke Bandung, bertemu dengan mama, bapak, adik-adik dan juga kakak-kakak Acep. 
Dan pada kesempatan yang lain kami bertemu lagi di acara wisuda BEC angkatan ku dan Acep. 

Sekitar setahun yang lalu, saat Acep dan bapak berada di NTB untuk suatu keperluan, komunikasi kami berjalan baik meski hanya dari telepon. Beberapa kali aku dan bapak ngobrol panjang lebar di telepon. Sesekali juga aku dibuat terbahak-bahak karena cerita yang disampaikannya, serius tapi penuh canda. Beliau banyak bercerita tentang kegiatan sehari-harinya selama berada di NTB, dari mulai mencari ikan dilaut hingga kegiatannya saat mengerjakan proyek tanam bawang disana.
Keakraban yang hadir antara aku dan bapak tak pernah ada dalam hubungan antara aku dan bapak tiriku yang retak-retak. Buruknya komunikasi antara kami membuat kami merasa asing antara satu dengan lainnya. Itu sebabnya aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak lagi sejak bapak kandungku meninggal meski pada kenyataannya aku punya bapak tiri.

Minggu kemarin aku menyempatkan diri untuk silaturahmi lagi ke Bandung. Seperti  di pertemuan yang sebelumnya, bapak yang sifatnya friendly lebih banyak menginterogasiku ketimbang mama. Dan ini berlangsung sejak pertama bertemu hingga sekarang. Biasanya begitu aku tiba di rumahnya, yang beliau tanyakan adalah; tadi dari rumah jam berapa, naik bus dari mana, gimana kabarnya, gimana kabar keluarga dirumah, dll. Sementara mama yang tak banyak bicara hanya senyam-senyum melihat tingkah bapak. Setiap kali bertemu dan ngobrol dengan bapak, aku merasa seperti sedang bercakap-cakap dengan bapak kandungku sendiri. Tak ada rasa canggung atau malu-malu lagi. Semuanya mengalir begitu saja. 

Aku menganggap beliau istimewa bukan berarti mama nya Acep tak sebaik bapaknya. Mereka sama-sama baik padaku. Mama, sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Senyum tulusnya selalu terpancar setiap kali tatapan kami bertemu. Dan sejauh aku mengenal mereka, tak ada yang tak aku sukai dari cara mereka bersikap dan memperlakukan aku dirumah mereka.

***
Aku dan Acep memang telah membuat berbagai rencana untuk masa depan kami berdua yang semoga semuanya akan berjalan lancar. Tapi seandainya tuhan tak mentakdirkan kami berjodoh, aku berharap akan punya bapak mertua sebaik bapaknya Acep. Paling tidak, hadirnya beliau dalam hidupku membuatku benar-benar merasa memiliki ayah lagi, dan kerinduan ku pada sosok bapak kandungku sedikit terobati.

Thanks to Allah for sending me the person like him!




Cileungsi, 6 Feb, 2012.





Saat Aku Lupa

Posted by Violet 11.05, under | No comments

Di claim sebagai salah satu sifat manusiawi, sering dijadikan alasan olehku untuk memaafkan diri sendiri saat sifat ini membuatku harus menahan malu, marah atau bahkan merugikan orang lain. Lupa. Entah sejak kapan sifat ini muncul dalam diriku dan terus ada hingga sekarang.

Saat masih kelas 3 SD, aku pernah dijemur dihalaman belakang sekolah lantaran lupa membawa rapor. Jadi, waktu itu sekitar satu minggu setelah acara pembagian rapor cawu 1, wali kelasku meminta agar para murid segera mengumpulkan rapor masing-masing dan batas akhir pengumpulan ditunggu sampai minggu depan. Pulang sekolah, aku terus mengingat-ingat pesan yang disampaikan pak Abdul agar saat tiba dirumah aku akan langsung memasukan rapor kedalam tas dan esok hari sudah bisa dikumpulkan.

Untuk bisa sampai kerumah, aku harus berjalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer dari sekolah lantaran ban sepeda yang biasa ku pakai mengalami kebocoran. Meski lelah, sepanjang jalan pulang aku terus mengingat-ingat pesan pak wali kelas. Saat melewati persawahan yang lumayan jauh dari rumah penduduk, tiba-tiba turun hujan yang cukup deras. Aku dan adikku yang saat itu masih memakai baju seragam SD otomatis lari kocar-kacir mencari tempat berteduh agar seragam kami tak basah karena besok masih harus dipakai. Dan demi melindungi pakaian dan buku-buku yang ada didalam tas dari air hujan, Aku dan Roni, adikku, memilih untuk mengambil jalan pintas dan nekat berlari menyusuri pematang sawah yang licin. Apa yang terjadi?

Byuuuuur... Aku terpeleset dipematang sawah, terjungkal kebelakang dan mendarat mulus diatas hamparan padi yang siap dipanen. Hujan yang sangat deras merendam persawahan, membuat seluruh badanku yang kecil masuk kedalam lumpur yang digenangi banyak air.
"Ujaaaaaaaaang.. tolongiiiiiiiiin.....", aku mengangis sejadi-jadinya memanggil-manggil adikku yang sudah lari jauh. Untung saja dia mendengar teriakkanku dan segera balik arah lalu membantuku bangun. Setelah berhasil keluar dari lumpur, aku terdiam beberapa menit dipematang sawah, menangis tersedu-sedu sambil menatap tas ku yang basah dan kemasukan banyak lumpur. Rasanya percuma juga kami lari mencari tempat berteduh, baju kami sudah basah kuyup. Akhirnya aku dan Roni berjalan lebih pelan dan hati-hati.
Kejadian disawah itu membuat ku lupa pada pesan pak Abdul agar besok membawa rapor karena saat tiba dirumah aku langsung lari kekamar mandi untuk membersihkan badan. Keesokan harinya aku tak bisa berangkat kesekolah karena sakit.

***
Satu minggu kemudian.
Sekitar pukul 9 Pagi, Pak Abdul masuk keruang kelas dengan wajah sangarnya. Tanpa mengucapkan salam atau basa basi terlebih dulu beliau langsung membacakan beberapa nama murid dan meminta mereka berdiri didepan kelas. Aku salah satunya. Gak salah lagi, aku dan beberapa teman yang disebutkan namanya menyadari betul kalau kami akan kena hukum lantaran belum mengumpulkan rapor. 
Pak abdul menggiring kami ke halaman belakang sekolahan yang cukup luas, yang biasa dijadikan sebagai tempat main voli. Setelah memberi sedikit nasihat, Pak Abdul menyuruh kami berjajar rapi dan berdiri tegak menghadap matahari. Yup, kami dijemur selama dua jam dilapangan voli dengan posisi tangan hormat kedepan.  Huh, nyebelin. 
Lupa membawa rapor membuatku harus jadi bahan tertawaan teman-teman yang lain. Untung saja keesokan harinya aku tak lupa lagi.

***
Diwaktu yang lain, saat tak ada kegiatan apapun yang membuatku hanya berdiam diri dirumah, biasanya ibu memintaku untuk memasak. Aku patuh saat ibu menyuruhku menggantikan tugasnya di dapur. Tapi sayangnya si 'lupa' sering kali membuat semuanya jadi kacau. Misalnya saat aku masak air sepanci besar, biasanya aku lupa kalau aku sedang masak air dan baru ingat lagi saat isi panci hampir habis. Atau saat aku masak sayur asam tapi lupa memberi asam. Atau saat aku mengukus nasi dipanci, aku sering lupa hingga air dalam panci habis dan nasi jadi gosong berwarna coklat dan tak bisa dimakan sama sekali.



***

Menginjak usia dewasa kebiasaan 'lupa' menjadi hal yang sangat ku benci karena sering kali membuatku repot sendiri.
Pernah suatu pagi aku dibuat kalang kabut oleh si 'lupa'. saat akan pergi ke tempat kerja, aku yang biasanya pergi dengan menebeng motor kakak iparku hari itu harus pergi sendiri karena kakak iparku sakit. uang yang ku punya hanya tinggal sepuluh ribu rupiah, cukup untuk membeli sarapan dan ongkos pulang pergi, jadilah aku berangkat sendiri.


Setelah berdiri dan menunggu beberapa saat dipinggir jalan raya, mobil angkot yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Aku segera naik dan duduk dibelakang bersama lima penumpang lainnya. Mobil melaju.
Tak butuh waktu lama berada diangkot untuk sampai ke pabrik karena jaraknya memang cukup dekat. Saat hampir tiba didepan pabrik, aku segera mengambil ongkos yang ku simpan ditas. aku merogoh tas dan mencari selembar uang yang kupunya. Angkot sudah berada didepan pabrik tapi uangku belum juga ketemu. Aku mulai panik. Sementara tanganku masih terus mencari-cari, angkot masih tetap melaju stabil tanpa berani ku berhentikan. Ya Allah, gimana ini?
Hanya selembar 10 ribuan yang ku punya dan sekarang uang itu tak ada. Angkot semakin jauh membawaku dan aku tak tau harus berbuat apa.
Seorang ibu yang duduk didepanku tampak memperhatikanku dengan raut wajah penuh tanya. Tapi aku tak perduli. Aku cuma ingin bisa segera turun dari angkot dan masuk kerja sebelum jam 8.
Panik yang berlebihan membuatku tak kuat menahan air mata. ku ambil HP dan segera menelepon Zubaidah, salah satu teman terdekatku.
"Halo!" Suara Bedah dari sebrang telepon.
"Halo.. beth, beth gue bingung banget beth. sumpah gue bingung banget."
"kenapa lo? idih, lo nangis ya? kenapa? lo gak gawe?"
"ini gue lagi diangkot mau berangkat gawe. gue bingung gak bisa bayar angkot,Beth. Duit yang buat ongkosnya kaga ada. Gue udah hampir sampe di perempatan Cileungsi lagi, beth. Gimana ya.. hiks.. Hiks"
"yah, kumaha atuh.. lo minta jemput atuh. Syapa gitu, temen kerja lo.." Suara Bedah yang terdengar panik membuatku semakin terisak, menyedot semua perhatian penumpang angkot yang lain.
"Beeeth.. gue mesti gimana ya.. gue ga bisa balik ini.. temen kerja gue mana ada yang mau jemput jam segini, udah jam 8 lebih. hadoooh.. beth, gue bingung banget beth..,"
"ya udah lo turun aja disitu, bilang sama supirnya lo gak punya ongkos gitu. "
"ah gelo mereun. Yang ada nanti gue diomelin lagi sama supirnya. lagian kalopun gue turun juga pan gue kudu balik lagi beth, masa gue jalan kaki ke pabrik.. hiks.." 
Air mata ku semakin deras lantaran angkot akan segera tiba dipemberhentian terakhir, pasar Cileungsi. Menyadari betul apa yang tengah ku alami, si ibu yang duduk persis didepanku segera membuka dompetnya dan memberikan uang lima ribuan padaku. 
"Neng, udah, jangan nangis. Ini ibu ada uang sedikit buat ongkos eneng. Segini cukup? klo kurang bilang aja, kurang berapa nanti ibu tambahin."
ibu itu menaruh uangnya kedalam genggaman tanganku lalu mengusap-usap bahuku, menenangkan. Aku masih terisak saat menyadari semua tatapan yang ada didalam angkot itu tertuju padaku, termasuk supir yang memperhatikan kami dari kaca spion. Perasaanku campur aduk saat itu. Bingung sudah hilang, yang tersisa tinggal malu dan haru. Ku ucapkan terimakasih berkali-kali pada ibu yang sudah berkenan membantuku. Dan sebelum aku turun dari angkot, ibu itu bertanya lagi apakah uang itu cukup untuk ongkos ku ketempat tujuan. Aku mengangguk dan tersenyum, sambil berharap suatu saat aku bisa membalas kebaikannya. 


Peristiwa diangkot tadi membuatku telat setengah jam tiba dipabrik. Di gerbang pabrik beberapa security menatapku terheran-heran yang datang dengan mata sembab habis menangis. mereka menyapaku dengan ramah tapi aku tak membalas. Malu rasanya.
Sampai diruang kerja aku menangis lagi. Menangisi kekonyolanku pagi itu. Bisa-bisanya itu duit gak ada ditas.. lalu dimana? karena penasaran, ku bongkar isi tas dan mengeluarkan semua isinya. Ternyata memang tak ada uang. Yah, aku lupa dimana ku simpan uang itu. Aku mencoba mengingat-ingat kembali dimana ku taruh uang itu tapi tetap saja aku lupa. 
Aku kesal sendiri jadinya. 


Sore harinya, saat pulang kerumah, aku menemukan apa yang sejak pagi ku cari-cari. Yup, mataku menemukan selembar sepuluh ribuan milikku tergeletak anggun diatas tumpukan buku yang ada diatas lemari. heeuh.. ternyata uang itu bukan hilang, melainkan aku yang lupa memasukkannya ke dalam tas. Oh my God!

*** 
Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi karena si 'lupa', ada satu hal yang kadang justru membuatku heran sendiri. Setiap kali melihat atau berkenalan dengan cowok ganteng, aku pasti lupa kalau aku sudah punya pacar. :D



My Music