Pernah membaca novel berjudul 'Istana Kedua'?, Yup, bagi yang belum tahu atau belum pernah membacanya, akan sedikit ku uraikan. Novel ini tercipta dari tangan penulis favoritku, Asma Nadia. Isinya bercerita tentang kehidupan yang dijalani seorang ibu rumah tangga bernama Arini. Kehidupannya bersama sang suami bernama Andika Prasetya beserta ketiga buah hati mereka dalam istana kebahagiaan yang begitu indah mendadak runtuh dan hancur berkeping-keping saat Arini mengetahui kalau suaminya memiliki istana kedua ditempat lain. Pras telah menikah dengan wanita lain bernama Mei Rose. Dan keberadaan istana keduanya telah Pras rahasiakan dengan rapi selama beberapa tahun.
Dikesempatan ini aku bukan ingin menceritakan ulang isi novel yang mendapat anugerah islamic book fair award ini untuk novel terbaik tahun 2008, tapi aku ingin sedikit berbagi dan menceritakan reaksi yang ku alami setelah membaca seluruh isi novel.
***
Kata demi kata yang dirangkai Asma nadia dalam novel ini membuat siapapun yang membacanya pasti akan terhipnotis dan mampu merasakan pahitnya perjalanan hidup baik yang dilalui tokoh Arini yang menjadi istri tua maupun yang dilalui tokoh Mei Rose yang menjadi istri muda.
Reaksi pertama yang muncul dalam diriku setelah menyelesaikan lembar terakhir novel istana kedua ini adalah; Aku benci laki-laki.
Dalam novel ini, sosok Prasetya merupakan suami dan ayah paling sempurna, paling tidak dimata Arini dan ketiga buah hati mereka. Tapi laki-laki terbaik sekalipun tega melakukan poligami padahal dia telah memiliki keluarga yang sempurna.
***
Usiaku baru memasuki 22 tahun dan belum menikah. Tapi kehadiran novel 'istana kedua' dalam koleksi bukuku membuatku benar-benar merasakan sakitnya diduakan. bayang-bayang poligami tak pelak membuatku takut menikah. Jangankan membayangkan sakitnya diduakan setelah menikah, saat pacaran saja aku tak pernah bisa mentolelir kesalahan akan adanya pihak ketiga. Setiap kali menjalin hubungan yang lebih serius dengan seseorang, pantang bagiku untuk punya kekasih lain. Bukan karena aku sok baik, terlalu setia, cinta mati atau apa, aku cuma takut karma. Aku takut pasanganku sakit hati dan tuhan membalas perbuatanku dengan yang lebih menyakitkan, diduakan atau poligami setelah menikah misalnya. Nauzubillah.
Aku pernah bertanya pada seorang rekan kerja yang kebetulan sering ku ajak bertukar pikiran. Aku bertanya, apakah sebagai seorang lelaki pernah terlintas dalam benaknya untuk punya istri lagi, dia menjawab tidak. Alasannya, dia akan sangat menyakiti hati istrinya yang sudah hidup bersamanya selama puluhan tahun dan memberinya dua orang putra. Jawaban itu memang terdengar indah ditelingaku, tapi sisi lain batinku menganggap jawaban itu terlalu munafik bagi seorang pria normal sepertinya. Zaman seperti sekarang ini, masih adakah yang seperti itu? ku rasa memang ada, tapi mungkin hanya segelintir orang saja.
***
Dalam novel istana kedua diceritakan pula Arini yang melakukan diskusi kecil dengan rekannya sesama penulis yang kebetulan memiliki dua istri. Saat ditanya alasan kenapa laki-laki berpoligini, pria itu menjawab, "lelaki menikah lagi karena ingin menolong? omong kosong. Lelaki yang menikah lagi, seperti aku misalnya, cuma punya satu alasan, mereka jatuh cinta, naksir, dasarnya memang suka pada perempuan itu. Titik. Habis perkara."
Apakah dikehidupan nyata juga seperti itu?,memang benar, banyak pelaku poligami beralasan ingin menolong mereka yang membutuhkan, tapi kenapa banyak pula laki-laki yang justru bercerai dengan istri pertamanya setelah dia memiliki istri baru? dan ironisnya lagi, ada pula pelaku poligami yang berdalih melakukan hal tersebut demi memenuhi sunnah rosul, atau berdalih demi membukakan pintu syurga yang selebar-lebarnya bagi istri pertama, Benarkah seperti itu?
Dalam kehidupan sehari-hari saja, aku sudah sangat akrab dengan kisah-kisah poligami yang dijalani beberapa perempuan disekelilingku. Tak perlu jauh-jauh mengambil contoh, ibuku misalnya. Ibu merupakan istri ke dua dari tiga orang istri yang dimiliki almarhum bapakku. Saat bapak masih hidup, tampak dari luar hubungan antar istri-istri bapak berjalan cukup harmonis. Tapi sepertinya tidak sama dengan keadaan yang sesungguhnya. Itu bisa kurasakan saat aku sering memergoki ibu sedang menangis sendirian dikamar.
Lain lagi dengan kisah yang di alami seorang tetanggaku yang suaminya menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda dan cantik. Setiap kali mampir kerumah wanita ini, aku sering melihat matanya yang masih sembab habis menangis. Dan biasanya dia akan bercerita dengan sendirinya sebelum aku bertanya, ia tumpahkan semua kesedihannya padaku. Ceritanya masih sama seperti yang sudah ku dengar sebelum-sebelumnya, wanita ini sakit hati karena suaminya lebih sering bermalam dirumah istri mudanya. Sementara istri tua sibuk menafkahi anak-anaknya, sibuk ke pasar dan mengurusi semua kebutuhan belanja untuk warung dan dapurnya, si suami justru bersantai ria dirumah istri muda.
Allah... aku semakin takut. Takut kalau suatu saat nanti aku mengalaminya. Jika itu terjadi, bisakah aku ikhlas?
Lain lagi dengan kisah yang di alami seorang tetanggaku yang suaminya menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda dan cantik. Setiap kali mampir kerumah wanita ini, aku sering melihat matanya yang masih sembab habis menangis. Dan biasanya dia akan bercerita dengan sendirinya sebelum aku bertanya, ia tumpahkan semua kesedihannya padaku. Ceritanya masih sama seperti yang sudah ku dengar sebelum-sebelumnya, wanita ini sakit hati karena suaminya lebih sering bermalam dirumah istri mudanya. Sementara istri tua sibuk menafkahi anak-anaknya, sibuk ke pasar dan mengurusi semua kebutuhan belanja untuk warung dan dapurnya, si suami justru bersantai ria dirumah istri muda.
Allah... aku semakin takut. Takut kalau suatu saat nanti aku mengalaminya. Jika itu terjadi, bisakah aku ikhlas?
***
Beberapa waktu lalu, saat aku membicarakan pada ibu perihal kehadiran Acep dalam hidupku yang menyatakan keseriusannya padaku, ibu sudah mewanti-wanti sejak awal. Ibu ingin aku benar-benar selektif dalam memilih calon pendamping hidup, bukan karena aku terlalu memasang harga tinggi, tapi ibu hanya ingin agar aku benar-benar menikah dengan orang yang cintanya tulus sepenuhnya untukku, agar pahitnya poligami yang dulu ibu rasakan tak turut pula dirasakan oleh anak-anak perempuannya. Rabb, Jika saja menikah itu bukan untuk memenuhi separuh agama-Mu, Jika saja aku bisa membuat suamiku nanti seutuhnya hanya milikku dan keluarga kecilku kelak, jika saja jumlah antara laki-laki dan perempuan satu banding satu, ah tuhan.. sungguh, aku tak ingin menyesali semua takdir yang telah digariskan oleh Mu dalam hidup ini.. Aku hanya memohon, agar apapun yang kujalani kini dan nanti dapat ku lalui dengan ikhlas dan sabar. Semoga...! Amin ya robbal'alamin.
Cileungsi, 6 Feb,2012
0 komentar:
Posting Komentar