Bapak kedua

Posted by Violet 16.25, under | No comments

Ku sebut beliau sebagai bapak kedua bukan karena beliau menikah dengan ibuku lantas menjadi bapak tiriku, sama sekali bukan. Tapi karena pribadi beliau yang sangat santun dan lembutnya sikap beliau padaku mengingatkan aku pada sosok almarhum bapakku yang wafat saat usiaku tujuh tahun.

Kami pertama kali bertemu saat aku masih kuliah di BEC, saat beliau datang menjenguk anaknya yang tak lain adalah teman akrabku. Beliau adalah ayahnya Acep. Aku sendiri pertama kali kenal dengan Acep sejak kami sama-sama kuliah di BEC dan kebetulan rumah kos kami bersebelahan. Dan Acep jadi sahabat cowok terdekatku selama kami sama-sama menimba ilmu di Bogor. 
Saat datang ke Bogor, aku tak sempat ngobrol banyak dengan beliau karena memang kami bertemu hanya sepintas. Siang itu, tepat saat aku membuka jendela kamar, ku lihat Acep sedang berdiri di teras kamar kos nya bersama seorang bapak. Karena penasaran, ku panggil Acep dari jendela yang terbuka. 
"Acep!", dia menoleh.
"itu bapak Acep bukan?" tanyaku.
"ho-oh, Ast. Ini bapak Acep." jawabnya singkat. Mendengar suaraku, bapaknya langsung mencari asal suara dan saat melihatku yang melongokkan kepala dijendela, beliau tersenyum. Aku nyengir. 
"Pak, salam kenal ya. Astria, Pak. Calonnya Acep. hehe..." Candaku memperkenalkan diri pada bapak yang bikin Acep agak salah tingkah. Kali ini bapak tertawa, dan dengan dialek sundanya yang khas, beliau membalas ucapanku, "oh, iya neng. salam kenal juga dari bapak ya, neng. Eneng sehat?" tanyanya padaku. Aku mengangguk, "Sehat pak, Alhamdulillah. "
"Syukur atuh kalo gitu mah". Selanjutnya, bapak melambaikan tangan dan mengucapkan salam sebelum akhirnya beliau pamit untuk pulang.

***
Pertemuan kami selanjutnya adalah saat Acep mengundangku datang ke rumahnya di Bandung untuk menghadiri resepsi pernikahan kakak perempuannya. Hari itu untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Bandung, dan di rumah Acep, aku disambut hangat oleh orang tua dan keluarga besar Acep yang lainnya. Sedikit kaget juga hari itu karena keluarga Acep mengira kalau aku adalah pacarnya Acep. Hehe...
Aku dan kedua orang tua acep memang tak sempat ngobrol banyak karena mereka sibuk menyambut tamu. Tapi obrolan kami yang singkat sudah cukup membuatku merasa nyaman berada ditengah-tengah mereka. 

***
Seiring berjalannya waktu, aku dan Acep menjalin hubungan yang lebih dekat. Pujangga bilang 'Persahabatan bisa berakhir cinta', dan itulah yang aku dan Acep alami. Kami pacaran sejak pertengahan Mei 2010, setelah Acep menjalani sidang laporan praktek industrinya di kampus BEC.  
Dua bulan kemudian, setelah aku menjalani sidang laporan di kampus BEC, aku berkesempatan silaturahmi lagi ke Bandung, bertemu dengan mama, bapak, adik-adik dan juga kakak-kakak Acep. 
Dan pada kesempatan yang lain kami bertemu lagi di acara wisuda BEC angkatan ku dan Acep. 

Sekitar setahun yang lalu, saat Acep dan bapak berada di NTB untuk suatu keperluan, komunikasi kami berjalan baik meski hanya dari telepon. Beberapa kali aku dan bapak ngobrol panjang lebar di telepon. Sesekali juga aku dibuat terbahak-bahak karena cerita yang disampaikannya, serius tapi penuh canda. Beliau banyak bercerita tentang kegiatan sehari-harinya selama berada di NTB, dari mulai mencari ikan dilaut hingga kegiatannya saat mengerjakan proyek tanam bawang disana.
Keakraban yang hadir antara aku dan bapak tak pernah ada dalam hubungan antara aku dan bapak tiriku yang retak-retak. Buruknya komunikasi antara kami membuat kami merasa asing antara satu dengan lainnya. Itu sebabnya aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang bapak lagi sejak bapak kandungku meninggal meski pada kenyataannya aku punya bapak tiri.

Minggu kemarin aku menyempatkan diri untuk silaturahmi lagi ke Bandung. Seperti  di pertemuan yang sebelumnya, bapak yang sifatnya friendly lebih banyak menginterogasiku ketimbang mama. Dan ini berlangsung sejak pertama bertemu hingga sekarang. Biasanya begitu aku tiba di rumahnya, yang beliau tanyakan adalah; tadi dari rumah jam berapa, naik bus dari mana, gimana kabarnya, gimana kabar keluarga dirumah, dll. Sementara mama yang tak banyak bicara hanya senyam-senyum melihat tingkah bapak. Setiap kali bertemu dan ngobrol dengan bapak, aku merasa seperti sedang bercakap-cakap dengan bapak kandungku sendiri. Tak ada rasa canggung atau malu-malu lagi. Semuanya mengalir begitu saja. 

Aku menganggap beliau istimewa bukan berarti mama nya Acep tak sebaik bapaknya. Mereka sama-sama baik padaku. Mama, sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Senyum tulusnya selalu terpancar setiap kali tatapan kami bertemu. Dan sejauh aku mengenal mereka, tak ada yang tak aku sukai dari cara mereka bersikap dan memperlakukan aku dirumah mereka.

***
Aku dan Acep memang telah membuat berbagai rencana untuk masa depan kami berdua yang semoga semuanya akan berjalan lancar. Tapi seandainya tuhan tak mentakdirkan kami berjodoh, aku berharap akan punya bapak mertua sebaik bapaknya Acep. Paling tidak, hadirnya beliau dalam hidupku membuatku benar-benar merasa memiliki ayah lagi, dan kerinduan ku pada sosok bapak kandungku sedikit terobati.

Thanks to Allah for sending me the person like him!




Cileungsi, 6 Feb, 2012.





0 komentar:

Posting Komentar

My Music