Saat Aku Lupa

Posted by Violet 11.05, under | No comments

Di claim sebagai salah satu sifat manusiawi, sering dijadikan alasan olehku untuk memaafkan diri sendiri saat sifat ini membuatku harus menahan malu, marah atau bahkan merugikan orang lain. Lupa. Entah sejak kapan sifat ini muncul dalam diriku dan terus ada hingga sekarang.

Saat masih kelas 3 SD, aku pernah dijemur dihalaman belakang sekolah lantaran lupa membawa rapor. Jadi, waktu itu sekitar satu minggu setelah acara pembagian rapor cawu 1, wali kelasku meminta agar para murid segera mengumpulkan rapor masing-masing dan batas akhir pengumpulan ditunggu sampai minggu depan. Pulang sekolah, aku terus mengingat-ingat pesan yang disampaikan pak Abdul agar saat tiba dirumah aku akan langsung memasukan rapor kedalam tas dan esok hari sudah bisa dikumpulkan.

Untuk bisa sampai kerumah, aku harus berjalan kaki sejauh kurang lebih tiga kilometer dari sekolah lantaran ban sepeda yang biasa ku pakai mengalami kebocoran. Meski lelah, sepanjang jalan pulang aku terus mengingat-ingat pesan pak wali kelas. Saat melewati persawahan yang lumayan jauh dari rumah penduduk, tiba-tiba turun hujan yang cukup deras. Aku dan adikku yang saat itu masih memakai baju seragam SD otomatis lari kocar-kacir mencari tempat berteduh agar seragam kami tak basah karena besok masih harus dipakai. Dan demi melindungi pakaian dan buku-buku yang ada didalam tas dari air hujan, Aku dan Roni, adikku, memilih untuk mengambil jalan pintas dan nekat berlari menyusuri pematang sawah yang licin. Apa yang terjadi?

Byuuuuur... Aku terpeleset dipematang sawah, terjungkal kebelakang dan mendarat mulus diatas hamparan padi yang siap dipanen. Hujan yang sangat deras merendam persawahan, membuat seluruh badanku yang kecil masuk kedalam lumpur yang digenangi banyak air.
"Ujaaaaaaaaang.. tolongiiiiiiiiin.....", aku mengangis sejadi-jadinya memanggil-manggil adikku yang sudah lari jauh. Untung saja dia mendengar teriakkanku dan segera balik arah lalu membantuku bangun. Setelah berhasil keluar dari lumpur, aku terdiam beberapa menit dipematang sawah, menangis tersedu-sedu sambil menatap tas ku yang basah dan kemasukan banyak lumpur. Rasanya percuma juga kami lari mencari tempat berteduh, baju kami sudah basah kuyup. Akhirnya aku dan Roni berjalan lebih pelan dan hati-hati.
Kejadian disawah itu membuat ku lupa pada pesan pak Abdul agar besok membawa rapor karena saat tiba dirumah aku langsung lari kekamar mandi untuk membersihkan badan. Keesokan harinya aku tak bisa berangkat kesekolah karena sakit.

***
Satu minggu kemudian.
Sekitar pukul 9 Pagi, Pak Abdul masuk keruang kelas dengan wajah sangarnya. Tanpa mengucapkan salam atau basa basi terlebih dulu beliau langsung membacakan beberapa nama murid dan meminta mereka berdiri didepan kelas. Aku salah satunya. Gak salah lagi, aku dan beberapa teman yang disebutkan namanya menyadari betul kalau kami akan kena hukum lantaran belum mengumpulkan rapor. 
Pak abdul menggiring kami ke halaman belakang sekolahan yang cukup luas, yang biasa dijadikan sebagai tempat main voli. Setelah memberi sedikit nasihat, Pak Abdul menyuruh kami berjajar rapi dan berdiri tegak menghadap matahari. Yup, kami dijemur selama dua jam dilapangan voli dengan posisi tangan hormat kedepan.  Huh, nyebelin. 
Lupa membawa rapor membuatku harus jadi bahan tertawaan teman-teman yang lain. Untung saja keesokan harinya aku tak lupa lagi.

***
Diwaktu yang lain, saat tak ada kegiatan apapun yang membuatku hanya berdiam diri dirumah, biasanya ibu memintaku untuk memasak. Aku patuh saat ibu menyuruhku menggantikan tugasnya di dapur. Tapi sayangnya si 'lupa' sering kali membuat semuanya jadi kacau. Misalnya saat aku masak air sepanci besar, biasanya aku lupa kalau aku sedang masak air dan baru ingat lagi saat isi panci hampir habis. Atau saat aku masak sayur asam tapi lupa memberi asam. Atau saat aku mengukus nasi dipanci, aku sering lupa hingga air dalam panci habis dan nasi jadi gosong berwarna coklat dan tak bisa dimakan sama sekali.



***

Menginjak usia dewasa kebiasaan 'lupa' menjadi hal yang sangat ku benci karena sering kali membuatku repot sendiri.
Pernah suatu pagi aku dibuat kalang kabut oleh si 'lupa'. saat akan pergi ke tempat kerja, aku yang biasanya pergi dengan menebeng motor kakak iparku hari itu harus pergi sendiri karena kakak iparku sakit. uang yang ku punya hanya tinggal sepuluh ribu rupiah, cukup untuk membeli sarapan dan ongkos pulang pergi, jadilah aku berangkat sendiri.


Setelah berdiri dan menunggu beberapa saat dipinggir jalan raya, mobil angkot yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Aku segera naik dan duduk dibelakang bersama lima penumpang lainnya. Mobil melaju.
Tak butuh waktu lama berada diangkot untuk sampai ke pabrik karena jaraknya memang cukup dekat. Saat hampir tiba didepan pabrik, aku segera mengambil ongkos yang ku simpan ditas. aku merogoh tas dan mencari selembar uang yang kupunya. Angkot sudah berada didepan pabrik tapi uangku belum juga ketemu. Aku mulai panik. Sementara tanganku masih terus mencari-cari, angkot masih tetap melaju stabil tanpa berani ku berhentikan. Ya Allah, gimana ini?
Hanya selembar 10 ribuan yang ku punya dan sekarang uang itu tak ada. Angkot semakin jauh membawaku dan aku tak tau harus berbuat apa.
Seorang ibu yang duduk didepanku tampak memperhatikanku dengan raut wajah penuh tanya. Tapi aku tak perduli. Aku cuma ingin bisa segera turun dari angkot dan masuk kerja sebelum jam 8.
Panik yang berlebihan membuatku tak kuat menahan air mata. ku ambil HP dan segera menelepon Zubaidah, salah satu teman terdekatku.
"Halo!" Suara Bedah dari sebrang telepon.
"Halo.. beth, beth gue bingung banget beth. sumpah gue bingung banget."
"kenapa lo? idih, lo nangis ya? kenapa? lo gak gawe?"
"ini gue lagi diangkot mau berangkat gawe. gue bingung gak bisa bayar angkot,Beth. Duit yang buat ongkosnya kaga ada. Gue udah hampir sampe di perempatan Cileungsi lagi, beth. Gimana ya.. hiks.. Hiks"
"yah, kumaha atuh.. lo minta jemput atuh. Syapa gitu, temen kerja lo.." Suara Bedah yang terdengar panik membuatku semakin terisak, menyedot semua perhatian penumpang angkot yang lain.
"Beeeth.. gue mesti gimana ya.. gue ga bisa balik ini.. temen kerja gue mana ada yang mau jemput jam segini, udah jam 8 lebih. hadoooh.. beth, gue bingung banget beth..,"
"ya udah lo turun aja disitu, bilang sama supirnya lo gak punya ongkos gitu. "
"ah gelo mereun. Yang ada nanti gue diomelin lagi sama supirnya. lagian kalopun gue turun juga pan gue kudu balik lagi beth, masa gue jalan kaki ke pabrik.. hiks.." 
Air mata ku semakin deras lantaran angkot akan segera tiba dipemberhentian terakhir, pasar Cileungsi. Menyadari betul apa yang tengah ku alami, si ibu yang duduk persis didepanku segera membuka dompetnya dan memberikan uang lima ribuan padaku. 
"Neng, udah, jangan nangis. Ini ibu ada uang sedikit buat ongkos eneng. Segini cukup? klo kurang bilang aja, kurang berapa nanti ibu tambahin."
ibu itu menaruh uangnya kedalam genggaman tanganku lalu mengusap-usap bahuku, menenangkan. Aku masih terisak saat menyadari semua tatapan yang ada didalam angkot itu tertuju padaku, termasuk supir yang memperhatikan kami dari kaca spion. Perasaanku campur aduk saat itu. Bingung sudah hilang, yang tersisa tinggal malu dan haru. Ku ucapkan terimakasih berkali-kali pada ibu yang sudah berkenan membantuku. Dan sebelum aku turun dari angkot, ibu itu bertanya lagi apakah uang itu cukup untuk ongkos ku ketempat tujuan. Aku mengangguk dan tersenyum, sambil berharap suatu saat aku bisa membalas kebaikannya. 


Peristiwa diangkot tadi membuatku telat setengah jam tiba dipabrik. Di gerbang pabrik beberapa security menatapku terheran-heran yang datang dengan mata sembab habis menangis. mereka menyapaku dengan ramah tapi aku tak membalas. Malu rasanya.
Sampai diruang kerja aku menangis lagi. Menangisi kekonyolanku pagi itu. Bisa-bisanya itu duit gak ada ditas.. lalu dimana? karena penasaran, ku bongkar isi tas dan mengeluarkan semua isinya. Ternyata memang tak ada uang. Yah, aku lupa dimana ku simpan uang itu. Aku mencoba mengingat-ingat kembali dimana ku taruh uang itu tapi tetap saja aku lupa. 
Aku kesal sendiri jadinya. 


Sore harinya, saat pulang kerumah, aku menemukan apa yang sejak pagi ku cari-cari. Yup, mataku menemukan selembar sepuluh ribuan milikku tergeletak anggun diatas tumpukan buku yang ada diatas lemari. heeuh.. ternyata uang itu bukan hilang, melainkan aku yang lupa memasukkannya ke dalam tas. Oh my God!

*** 
Dari sekian banyak peristiwa yang terjadi karena si 'lupa', ada satu hal yang kadang justru membuatku heran sendiri. Setiap kali melihat atau berkenalan dengan cowok ganteng, aku pasti lupa kalau aku sudah punya pacar. :D



0 komentar:

Posting Komentar

My Music