Aku tak pernah tahu kapan tepatnya aku jatuh cinta pada Edo, pemuda yang usianya tiga tahun lebih tua dariku, yang ku kenal sejak lima tahun silam.
Malam itu Edo sengaja mampir kerumah kontrakanku setelah ia mengantar Umi, pacarnya pulang kerumahnya. Kebetulan jarak tempat tinggal ku dan Umi berdekatan jadi Edo menyempatkan diri untuk mampir. Aku menyambut hangat kedatangan Edo. Diatas karpet merah yang sengaja digelar, kami duduk berdua diteras, menikmati hembusan angin malam sambil ngobrol kesana kemari.
Suasana malam itu masih biasa-biasa saja. Edo duduk bersila disebelah ku yang malam itu tengah mendekap boneka pink pemberian mantan pacarku. Sesekali terdengar kami tertawa bersama lalu hening kembali.
"Put..."sapa Edo lembut.
"apa..?"
"lo jelek banget sekarang." Edo berkata pelan tanpa menoleh ke arahku yang sedikit kaget dengan ucapannya barusan.
"masa sih??"
"iya..." Edo menoleh dan kami saling bertatapan. "lo kurus banget sekarang. tambah item, jelek dah pokonya mah..."
"hehehehe..." aku nyengir. "ga papa lah jeleknya sekarang. Dari pada lo, dari dulu ampe sekarang tetep aja jelek."
"hahahaha... sialan lo Put, ngatain gue jelek." kami tertawa lagi.
Aku sepenuhnya sadar kalau ada perasaan yang beda setiap kali bersama Edo. Perasaan ini juga yang membuat ku tak bisa menghindar saat tiba-tiba Edo meletakkan kepalanya diatas boneka yang ada pangkuanku.
Suasana hening.
Sebenarnya aku ingin sekali mengusap kepala sahabatku itu, tapi niat tersebut segera hilang saat bayangan Acep muncul dipikiranku. Laki-laki yang paling ku cintai.
***
"lo kenapa sih Put cemberut terus...?" Tanya Edo pada ku saat kami jalan bareng.
"sedih gue,do. Cowok gue sejak lulusan kemaren kaga ngasih kabar lagi. Ngilang gitu aja."
"yang temen sekelas lo itu?"
"ho-oh."
"lah emang dia orang mana? ko bisa ga ada kabar gitu? emang gak ada no hp nya?"
"gak aktif. gue sms juga teu dibales. "
"ya udah napa gak usah sedih mulu. Masih banyak cowo yang mau sama lo. Gue ajakin lo keliling Bekasi dah biar lo seneng."
Saat itu, Aku, yang baru saja lulus dari sekolah Aliyah mengeluhkan soal Fadil. Cowok satu kelas asal Tangerang yang memiliki hubungan spesial denganku sejak kami masih duduk di kelas dua Aliyah.
Begitulah Edo. Selalu ada disaat-saat aku membutuhkan seorang teman curhat.
***
"Dasar cowok brengsek. sialaaaaaaaaaaan...." Aku teriak-teriak histeris seperti orang kesurupan, tak perduli dengan lingkungan sekitar. Air mataku mengalir deras. Napasku berhembus tak beraturan menahan sesak amarah. Sementara Edo yang duduk disampingku hanya menatap pilu. Edo sengaja membawaku ke tepi danau, duduk diatas hamparan rerumputan dan diantara rindangnya pepohonan karena dia bilang aku sedang membutuhkan suasana yang tenang.
"sabar Put..." Edo mencoba menenangkan.
"gak bisa do. lo bayangin aja, gue diboongin. Bilangnya dia cinta banget sama gue. Gak taunya....
gak taunya dia dah punya bini. huuaaaaa...." Aku sesenggukan lagi. "pengen banget gue tonjok tu orang. pengen gue tampar mukanya. setelah gue bener-bener sayang dan cinta banget sama dia, gue malah dapet berita kaya gini. gimana gue gak sakit hati, Do."
"ya udah, tampar aja gue klo emang itu bisa bikin sakit hati lo ilang." Edo berujar datar.
Meski terdengar aneh, Aku tau kalau Edo serius dengan ucapannya. Aku jadi malu sendiri. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu, melampiaskan amarah pada Edo atas ulah laki-laki bernama Rony yang ku kenal saat baru masuk kuliah di Bogor Educare. Ku usap air mata yang sejak tadi membasahi pipi.
"jangan nangis lagi napa Put. nanti juga lo dapet gantinya. patah hati mah biasa."
"kenapa ya gue setiap punya pacar ngecewain terus....."
"lo sih, jelek..."
"songooooooong"
"hahahaha..". kami tertawa, memecah keheningan senja itu.
***
Aku belum bisa mengerti tentang perasaanku pada Edo. Yang aku tahu,aku selalu risih jika Edo jalan dengan teman ku yang lain. Lia misalnya. Selain aku, Lia termasuk yang sering jalan dengan Edo. Berbeda denganku dan ke tiga sohibku yang lain, Lia memanggil Edo dengan sebutan 'Abang'. Begitupun Edo, hanya Lia yang dipanggilnya dengan sebutan 'ade'.
Di beberapa kesempatan aku sering bertanya pada Edo kenapa dia betah sekali dengan status 'jomblo' nya. Dengan enteng Edo hanya menjawab, "lah, pan gue suka nya sama lo.. ngapain gue nyari cewe?!! Jelas aja gue jomblo terus, lo nya gak pernah mau sama gue." Sebuah jawaban simple yang membuat ku salah tingkah. Edo juga tak begitu menanggapi saat kerap kali aku meledek tentang perasaannya.
"udah lah, Do.. ngaku aja deh. Lo suka kan sama Lia...?"
"kaga. Syapa bilang?! lagian kalopun gue suka sama Lia, dia nya juga pasti gak mau sama gue."
"alaaah, lo ngomong gitu didepan gue. Syapa tau di depan Lia beda lagi."
"eeet dah, ni bocah kaga percaya amat ma gue ya..." Dengan dialeknya yang khas, Edo berkata sambil cengengesan.
Di beberapa kesempatan aku sering bertanya pada Edo kenapa dia betah sekali dengan status 'jomblo' nya. Dengan enteng Edo hanya menjawab, "lah, pan gue suka nya sama lo.. ngapain gue nyari cewe?!! Jelas aja gue jomblo terus, lo nya gak pernah mau sama gue." Sebuah jawaban simple yang membuat ku salah tingkah. Edo juga tak begitu menanggapi saat kerap kali aku meledek tentang perasaannya.
"udah lah, Do.. ngaku aja deh. Lo suka kan sama Lia...?"
"kaga. Syapa bilang?! lagian kalopun gue suka sama Lia, dia nya juga pasti gak mau sama gue."
"alaaah, lo ngomong gitu didepan gue. Syapa tau di depan Lia beda lagi."
"eeet dah, ni bocah kaga percaya amat ma gue ya..." Dengan dialeknya yang khas, Edo berkata sambil cengengesan.
***
Dulu aku dan Edo tak pernah saling mengenal satu sama lain hingga Lia dan teman laki-lakinya mempertemukan kami. Semuanya berawal dari perkenalan antara Lia dengan cowok asal Bekasi bernama Jamal.
Jamal punya beberapa teman akrab diantaranya Indra, Herman dan Edo. Sementara sohib terdekat Lia yaitu aku, Umi, Hany, dan Kulsum. Awalnya, Lia mengenalkan aku pada Herman, salah satu teman dekat Jamal. Ketika Herman dan aku janjian untuk ketemuan, Herman mengajakku mampir ke Rumah Edo. Dari sanalah cerita tentang kami dimulai.
Dari waktu ke waktu, Selain Jamal, ketiga temannya justru menjadi sangat akrab dengan aku dan kawan-kawan. Dan persabatan kami pun masih terjalin hingga kini.
Sebenarnya sudah sejak lama aku menyadari kalau Edo sering memperlakukan aku selayaknya seorang pacar, bukan sabahat semata. Tapi semua itu menjadi teka-teki tak berujung karena Edo memang tak pernah mengutarakan cinta padaku. Dulu, saat masih sering jalan bareng, setiap kali Edo memboncengku dengan motornya, dia tak segan-segan menggamit tanganku yang duduk dibelakangnya dan meletakkannya dipinggangnya sambil berujar, 'pegangan put, ntar lo jatoh'. Tapi segera ku tepis. Aku tak mau.
Hal lainnya yang sering ku anggap berlebihan adalah saat kami nonton di bioskop. Edo sering berusaha menyuapi snack kedalam mulutku. Awalnya aku mau dan menganggap dia sedang bercanda. Tapi aku justru menjadi terganggu dan risih saat dia mengulangi hal itu lagi dan lagi, membuatku jadi serba salah dan tak bisa fokus menonton film yang diputar.
Sebenarnya sudah sejak lama aku menyadari kalau Edo sering memperlakukan aku selayaknya seorang pacar, bukan sabahat semata. Tapi semua itu menjadi teka-teki tak berujung karena Edo memang tak pernah mengutarakan cinta padaku. Dulu, saat masih sering jalan bareng, setiap kali Edo memboncengku dengan motornya, dia tak segan-segan menggamit tanganku yang duduk dibelakangnya dan meletakkannya dipinggangnya sambil berujar, 'pegangan put, ntar lo jatoh'. Tapi segera ku tepis. Aku tak mau.
Hal lainnya yang sering ku anggap berlebihan adalah saat kami nonton di bioskop. Edo sering berusaha menyuapi snack kedalam mulutku. Awalnya aku mau dan menganggap dia sedang bercanda. Tapi aku justru menjadi terganggu dan risih saat dia mengulangi hal itu lagi dan lagi, membuatku jadi serba salah dan tak bisa fokus menonton film yang diputar.
***
Perdebatan kecil itu terus berlanjut hingga akhirnya Edo memutuskan untuk pulang. Satu jam kemudian Edo mengirimkan sebuah sms yang membuatku sedih, sedih karena merasa akan kehilangan seorang sahabat sebaik Edo.
"gue masih gak abis pikir sama lo, Put. "
"Kenapa?"
"dulu gue dateng jauh-jauh naek motor dari Bekasi ke Bogor cuma buat nemuin lo doang, gak taunya lo nya malah pergi ma Zenal. Sial. Gimana gue gak sakit hati coba.." Edo yang semula berbaring dengan meletakkan kepalanya diatas boneka pink yang ada di pangkuanku tiba-tiba duduk tegap dan menatapku tajam.
"hehehe.. ya maap. lagian kenapa juga mesti ketemu gue? kan ada Lia ma Usum. Lo tinggal dateng aja ke kosan gue trus ketemu sama mereka. Jadikan lo gak sia-sia."
"Susah lo ya kalo di bilangin. " Edo terlihat kesal.
" Gue tu kesana cuma mau ketemu sama lo. Kaga ngarti-ngarti dibilangin dari tadi." Edo ngomel sendiri. "Gue kan suka nya sama lo, bukan sama Lia atau Usum." lanjutnya lagi.
Aku agak kaget juga, tak menyangka dia akan berkata seperti itu.
"Hah?? emang lo suka sama gue? ko lo ga pernah bilang?"
"Emang lo selama ini gak ngerasa? emang lo gak suka sama gue?"
Jleb!
"ya udah napa.. yang dulu jangan dibahas terus. Sekarang lo dah punya Umi, Gue juga udah punya Acep. Kita udah gak mungkin punya hubungan yang lebih dari sekedar temen."
"syapa bilang gak bisa? gue kan suka sama lo. kalo lo suka sama gue, asalkan lo mau ninggalin Acep, gue juga mau ninggalin Umi."
"dih, sembarangan. Lo gila kali. Gue sayang banget ma Acep. Dan gue juga yakin banget kalo lo sayang banget ma Umi. Ya kan?!"
Perdebatan kecil itu terus berlanjut hingga akhirnya Edo memutuskan untuk pulang. Satu jam kemudian Edo mengirimkan sebuah sms yang membuatku sedih, sedih karena merasa akan kehilangan seorang sahabat sebaik Edo.
'Ya udah put, qt ga usah ketemu lagi ya coz gw takut ntar gw makin suka sama lo sedangkan lo ga suka sama gw. gw ga mo patah hati lagi. gw udah tau gimana perasaan lo ke gw, jadi gw pngen kita ga ketemu lagi biar gw bisa lupain perasaan gw ke lo. Mudah2an lo bahagia ma Acep.'
***
Setahun berlalu.
Edo menepati perkataannya. Sejak malam itu, aku benar-benar telah kehilangan Edo. Dia membangun sebuah dinding pemisah diatara kami berdua. Bukan hanya dia yang menjaga jarak, tapi juga Umi, yang berstatus sebagai pacarnya yang merupakan salah satu dari ke lima sohib terbaikku.
Aku terus menepis bayang-bayang masalalu bersama Edo. Lelaki yang dulu sempat mendapatkan tempat istimewa dalam hatiku. Dan disaat aku sudah mulai terbiasa tanpanya, sudah bisa melupakan semua hal terbaik yang pernah kami lakukan bersama, Edo justru menghubungiku lagi. Dia meneleponku. Dari cara bicaranya, aku tau kalau dia masih seperti yang dulu. Edo yang keras kepala dan selalu ingin dihormati oleh orang yang lebih muda darinya. Anehnya, setiap kali aku bertanya perihal hubungannya dengan Umi, Edo selalu tak mau cerita. Dia hanya bilang kalau mereka sudah putus. Edo malah terus-terusan memojokkan aku dengan membahas masa lalu, saat-saat dimana aku tak pernah bisa menangkap sinyal darinya kalau dia suka padaku.
"Kenapa si lo masih ngebahas yang itu-itu terus? gak bosen?"
"bukannya gitu put, coba klo dulu lo ngerti, ga bakal begini jadinya."
"ya trus lo masih nyalahin gue gara-gara kita gak bisa pacaran? gitu?"
"ya iyalah."
"Ga bisa gitu lah,lo yang salah. Berapa taun kita kenal lo gak pernah tuh bilang suka sama gue. Nembak gue jadi pacar gitu, gak pernah kan? trus masih mau nyalahin gue?" tegasku penuh emosi.
"Harusnya lo ngerti. Gak selamanya kan cinta itu harus diungkapin pake kata-kata. Hhh.. yaudah lah. gue juga cape bahas itu lagi, bawaannya kesel mulu. Kapan lo merried ma Acep?"
"gak tau. Tiga taun lagi kali."
"Buset dah. lama bener. Bilangin tuh ma Acep, klo gak buru-buru ntar keduluan ma gue."
" yeee... siapa elo?!" aku sewot, sementara Edo tertawa lebar mendengar ucapanku barusan.
Tiga puluh menit aku dan Edo berbicara banyak hal di telepon. Dan aku baru mengerti alasan kenapa dia terus membahas masa lalu itu, karna ternyata itu adalah pembicaraan terakhir kami sebelum aku menerima kepastian akan kabar burung yang mengatakan kalau Edo dan Umi akan menikah dalam waktu dekat. Ya, mereka akan menikah. Dan semua yang Edo katakan padaku bahwa mereka sudah putus dan tidak pernah berhubungan lagi adalah ucapan bohong belaka.
***
Detik ini, hari saat aku menyelesaikan tulisan ini adalah dua hari menjelang pernikahan mereka. Edi prabowo atau yang biasa ku panggil Edo akan menikah dengan sahabat yang ku kenal sejak kami sama-sama dibangku kelas 1 Mts, Umi Rosyani. Satu sisi aku sedih karena akan kehilangan teman baikku, Edo. Yang dulu selalu siap membawaku kemana saja demi melupakan kesedihan, yang meski tubuhnya tidak lebih besar dariku tapi selalu berusaha melindungiku, yang karena sifatnya yang sangat keras kepala membuatku sering mengelus dada dan berharap dia bukanlah jodohku karena kami sama-sama keras kepala. Dan disisi lain aku bahagia. Tuhan menjawab do'aku. Lelaki yang baik seperti Edo memang layak mendapatkan pendamping hidup seperti Umi, sahabatku yang cantik, baik, bisa mengerti, memamami dan menerima Edo seutuhnya.
------------------------------
Do'aku untuk kalian,
Semoga kalian menjadi keluarga yang senantiasa diberkahi Allah, dengan sakinah dan mawadah yang sempurna. Semoga Allah menganugerahi rumah tangga kalian dengan lahirnya putra-putri yang sholeh. Sungguh, aku sayang kalian berdua, meski tak pernah ku ucapkan.
Cileungsi, 10 February 2012
0 komentar:
Posting Komentar