Hidup ini mengajariku begitu banyak hal. Termasuk cara bagaimana aku harus bersyukur atas anugerah yang tuhan berikan padaku. Menyadari banyak kekurangan yang ada didiriku, tak membuat aku lantas marah pada tuhan, kenapa aku harus tercipta seperti ini.
Saat masih kecil, aku bahkan tak asing lagi dengan ejekan-ejekan yang dilontarkan teman-teman karena kulitku yang gelap atau karena mataku yang belo. Awalnya aku marah pada mereka, marah juga pada diri sendiri kenapa aku harus terlahir dengan kulit gelap, tapi toh pada akhirnya kemarahan itu memudar setelah aku tahu kalau teman kecil yang paling sering mengejekku ternyata sebenarnya suka padaku. Bahkan kami pacaran saat masih duduk dibangku kelas 6 MI. hihihi.. He was my first love. :p
Tapi disini aku bukan mau bercerita tentang cinta pertamaku, tapi bercerita bagaimana cerita dimasa kecilku bisa terulang lagi sekarang. Jika dulu cinta pertamaku mengejek aku jelek sebelum kami pacaran, sekarang terbalik. Pacarku yang sekarang justru sering terang-terangan mengatakan kalau aku jelek. Padahal saat masih berteman dulu dia tak pernah bilang begitu. Ya, dia bilang aku jelek.
Memasuki tahun kedua pacaran, bukan hal yang baru lagi kalau tiba-tiba dia melontarkan kalimat itu dengan tatapan jenaka nya. Awalnya syok berat, kaget, tak percaya dia tega bilang begitu, aku bahkan sakit hati karena dia pacar pertama yang bilang aku jelek. Sejak jadian sama pacar pertama hingga yang ke empat, tak ada satupun dari cowokku yang pernah secara tegas bilang aku jelek, bahkan setelah kami putus pun hubungan ku dengan para mantan pacar tetap berjalan baik, dan belum pernah sekalipun kata 'jelek' terlontar dari mereka.
Saat masih kecil, aku bahkan tak asing lagi dengan ejekan-ejekan yang dilontarkan teman-teman karena kulitku yang gelap atau karena mataku yang belo. Awalnya aku marah pada mereka, marah juga pada diri sendiri kenapa aku harus terlahir dengan kulit gelap, tapi toh pada akhirnya kemarahan itu memudar setelah aku tahu kalau teman kecil yang paling sering mengejekku ternyata sebenarnya suka padaku. Bahkan kami pacaran saat masih duduk dibangku kelas 6 MI. hihihi.. He was my first love. :p
Tapi disini aku bukan mau bercerita tentang cinta pertamaku, tapi bercerita bagaimana cerita dimasa kecilku bisa terulang lagi sekarang. Jika dulu cinta pertamaku mengejek aku jelek sebelum kami pacaran, sekarang terbalik. Pacarku yang sekarang justru sering terang-terangan mengatakan kalau aku jelek. Padahal saat masih berteman dulu dia tak pernah bilang begitu. Ya, dia bilang aku jelek.
Memasuki tahun kedua pacaran, bukan hal yang baru lagi kalau tiba-tiba dia melontarkan kalimat itu dengan tatapan jenaka nya. Awalnya syok berat, kaget, tak percaya dia tega bilang begitu, aku bahkan sakit hati karena dia pacar pertama yang bilang aku jelek. Sejak jadian sama pacar pertama hingga yang ke empat, tak ada satupun dari cowokku yang pernah secara tegas bilang aku jelek, bahkan setelah kami putus pun hubungan ku dengan para mantan pacar tetap berjalan baik, dan belum pernah sekalipun kata 'jelek' terlontar dari mereka.
***
Aku masih ingat kapan pertama kali dia bilang aku jelek.
Suatu pagi, aku dibuat panik lantaran file Ms.Power point yang kubuat untuk persentasi saat sidang nanti mengalami error yang fatal, membuatku kelabakan lantaran waktu untuk sidang hanya tinggal dua jam lagi. Akhirnya aku menelepon pacarku, memintanya agar membantu membuatkan bahan persentasi yang baru sesuai dengan draft yang sudah ada. Alhasil jam 8 pagi kami berdua sudah nangkring didepan komputer disalah satu warnet terdekat. Sejam kemudian bahan persentasi sudah hampir rampung, aku meninggalkan pacarku sendirian diwarnet dan kembali ke tempat penginapan untuk mandi dan bersiap-siap sebelum berangkat ke kampus untuk sidang.
Setengah jam kemudian.
setelah rapi dan wangi, aku kembali ke warnet yang berjarak hanya sekitar 100 meter dari tempat menginap. Disana ku lihat pacarku masih duduk didepan komputer. saat melihatku, dia menoleh lalu tersenyum. "eeeh si cinta udah dateng", ucapnya sambil nyengir. Kami lalu duduk bersisian dan dia mulai menjelaskan bahan persentasi yang baru saja diselesaikannya.
Setengah jam sebelum sidang aku ditemani pacarku berangkat ke kampus. Saat sedang jalan berdua menyusuri gang, tiba-tiba pacarku menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajahku beberapa saat. "eh, ayank ko beda sih." ujarnya masih menatapku.
"beda gimana?" tanyaku heran.
"ya beda. Tadi waktu didalem warnet perasaan ayank cantik, ko sekarang jelek."
"hahhh???" Mulutku terbuka. Aku terkejut bukan main mendengar ucapannya. Yang membuatku syok lagi,dari raut wajah dan nada ucapannya sama sekali tak menunjukkan kalau dia sedang bercanda atau meledekku.
"iya beneran.. apa karna tadi didalem ruangan ya jadi gak begitu jelas keliatan..? eh sekarang ko keliatan banget. tuh, bedaknya juga gak rata gitu." tegasnya lagi. Aku sedih. Kalau pacar sendiri saja bilang aku jelek, bagaimana dengan orang lain??
Tapi aku menanggapinya biasa saja, pura-pura tak sakit hati. "iya nih, buru-buru sih, pake bedak aja sampe acak-acakan. Coba dimana aja yang gak ratanya?" Ku dekatkan wajahku ke wajahnya. "ni, disini, disini, disini juga." Ucapnya seraya menekan lembut jari telunjuknya ke beberapa bagian diwajahku.
Sebelum pacaran dengannya, aku juga pernah mendapat ucapan tak enak dari mantan pacarku saat kami masih jadian, tapi aku tak begitu sakit hati karna aku membalas ucapannya.
waktu itu aku dan dia sedang selisih pendapat, sama-sama terbawa emosi dan perang mulutpun tak terelakkan.
"Mut sih, kalo dikasih tau susah."
"yee.. Abib tu yang rese. kalo salah suka gak terima. Nyalahin Mut aja bisanya.." bantahku kesal.
"huuuh.. dasar. Mut item."celetuknya. Aku terperanjat. Aku paling tak suka jika dihina soal fisik oleh orang terdekat, apalagi dia pacarku.
" dih, songong banget ngatain Mut item. Abib tuh, dasar pendek." Ucapku sekena nya. Gantian dia yang terperanjat. Tapi akhirnya kami sama-sama tertawa. Pertengkaran kecil itu berakhir setelah kami saling menautkan jari kelingking pertanda sudah saling memaafkan.
Suatu pagi, aku dibuat panik lantaran file Ms.Power point yang kubuat untuk persentasi saat sidang nanti mengalami error yang fatal, membuatku kelabakan lantaran waktu untuk sidang hanya tinggal dua jam lagi. Akhirnya aku menelepon pacarku, memintanya agar membantu membuatkan bahan persentasi yang baru sesuai dengan draft yang sudah ada. Alhasil jam 8 pagi kami berdua sudah nangkring didepan komputer disalah satu warnet terdekat. Sejam kemudian bahan persentasi sudah hampir rampung, aku meninggalkan pacarku sendirian diwarnet dan kembali ke tempat penginapan untuk mandi dan bersiap-siap sebelum berangkat ke kampus untuk sidang.
Setengah jam kemudian.
setelah rapi dan wangi, aku kembali ke warnet yang berjarak hanya sekitar 100 meter dari tempat menginap. Disana ku lihat pacarku masih duduk didepan komputer. saat melihatku, dia menoleh lalu tersenyum. "eeeh si cinta udah dateng", ucapnya sambil nyengir. Kami lalu duduk bersisian dan dia mulai menjelaskan bahan persentasi yang baru saja diselesaikannya.
Setengah jam sebelum sidang aku ditemani pacarku berangkat ke kampus. Saat sedang jalan berdua menyusuri gang, tiba-tiba pacarku menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajahku beberapa saat. "eh, ayank ko beda sih." ujarnya masih menatapku.
"beda gimana?" tanyaku heran.
"ya beda. Tadi waktu didalem warnet perasaan ayank cantik, ko sekarang jelek."
"hahhh???" Mulutku terbuka. Aku terkejut bukan main mendengar ucapannya. Yang membuatku syok lagi,dari raut wajah dan nada ucapannya sama sekali tak menunjukkan kalau dia sedang bercanda atau meledekku.
"iya beneran.. apa karna tadi didalem ruangan ya jadi gak begitu jelas keliatan..? eh sekarang ko keliatan banget. tuh, bedaknya juga gak rata gitu." tegasnya lagi. Aku sedih. Kalau pacar sendiri saja bilang aku jelek, bagaimana dengan orang lain??
Tapi aku menanggapinya biasa saja, pura-pura tak sakit hati. "iya nih, buru-buru sih, pake bedak aja sampe acak-acakan. Coba dimana aja yang gak ratanya?" Ku dekatkan wajahku ke wajahnya. "ni, disini, disini, disini juga." Ucapnya seraya menekan lembut jari telunjuknya ke beberapa bagian diwajahku.
Sebelum pacaran dengannya, aku juga pernah mendapat ucapan tak enak dari mantan pacarku saat kami masih jadian, tapi aku tak begitu sakit hati karna aku membalas ucapannya.
waktu itu aku dan dia sedang selisih pendapat, sama-sama terbawa emosi dan perang mulutpun tak terelakkan.
"Mut sih, kalo dikasih tau susah."
"yee.. Abib tu yang rese. kalo salah suka gak terima. Nyalahin Mut aja bisanya.." bantahku kesal.
"huuuh.. dasar. Mut item."celetuknya. Aku terperanjat. Aku paling tak suka jika dihina soal fisik oleh orang terdekat, apalagi dia pacarku.
" dih, songong banget ngatain Mut item. Abib tuh, dasar pendek." Ucapku sekena nya. Gantian dia yang terperanjat. Tapi akhirnya kami sama-sama tertawa. Pertengkaran kecil itu berakhir setelah kami saling menautkan jari kelingking pertanda sudah saling memaafkan.
***
Pacarku yang sekarang terbilang unik. Ucapannya yang sering terdengar lucu, gaya bicaranya yang kadang terlihat aneh serta gerakan-gerakan spontan nya yang sering bikin ku ilfeel, justru memiliki nilai humor tersendiri. Termasuk saat dia berlagak romantis atau bahkan saat satu kalimat itu dia lontarkan tanpa rasa bersalah, 'kamu jelek!'
Aku ingat saat akhir bulan lalu kami pergi ke Bandung. Sewaktu mau pulang ke Cileungsi, kami menunggu bus jurusan kampung rambutan di pintu tol Padalarang.Sambil menunggu bus, iseng-iseng ku mainkan Hp pacarku dan memotretnya. lalu gantian, aku minta difoto. Ternyata dia tidak memotretku sekali dua kali, tapi berkali-kali dan dengan berbagai pose dan ekspresi. Setelah puas, dia lalu mengamati satu persatu fotoku.
"Ih, ko hasilnya gini ya... ah pas moto tadi tangannya gerak sih jadi gak jelas." ujarnya sambil memandangi fotoku satu persatu. "mana? coba as liat.." ku ambil Hp dari tangannya dan ikut-ikutan mengamati.
"sini ah, cep dulu yang liat." Dia merebut Hp nya dari tanganku.
"eh ayank bagusan difoto dari samping lho. soalnya kalo dari samping mukanya gak keliatan." Jleb!
Kalau di film-film, mungkin aku diibaratkan orang yang sedang menahan emosi lantas keluar dua tanduk dikepalaku lalu mengeluarkan banyak asap. Menanggapi ucapannya barusan, Aku cuma bisa tersenyum getir.***
Beberapa waktu yang lalu, sepulang kerja aku sengaja berangkat ke Cikarang untuk mengambil kunci kantorku yang terbawa oleh pacarku lantaran kunci itu ia simpan dijaketnya sewaktu dia datang ke tempat kerjaku sehari sebelumnya. Untungnya teman kerja ku punya kunci cadangan jadi hari itu aku bisa masuk kantor.
Aku dan pacarku janjian bertemu di terminal Cikarang. Sekitar pukul 6 sore aku tiba di terminal. Saat turun dari angkutan umum, ku lihat dia yang sedang berdiri menungguku disisi bundaran terminal. Ku hampiri dia. Setelah bertegur sapa sebentar kami lalu menyebrang jalan dan singgah di salah satu penjual mie goreng yang ada sana. Sambil menunggu pesanan kami dibuat, kami duduk berhadapan dan mulai ngobrol ini itu. Ditengah obrolan kami, tiba-tiba dia mengamati wajahku lekat-lekat. Dan aku tau setelah ini dia pasti akan melontarkan kalimat tak enak. Dan benar saja.
"ayank ko pake daleman kerudungnya yang ini? jelek tau, bagusan yang biasa ayank pake," celetuknya enteng. "jelek ya? iya nie soalnya yang biasa as pake lagi dicuci. ya udah pake yang ini aja deh. " jawabku santai. "Kamu tu jelek, jeelek." Ulangnya dengan tegas. Aku yang mudah tersulut emosi diam sesaat sambil memandang wajah lelaki didepanku itu.
'apa?? berani banget lo bilang gue jelek, lo pikir lo tuh ganteng apa? hah?? ngaca dong! Tampang lo tuh pas-pasan cep. Beberapa mantan pacar gue malah jauh lebih ganteng dari lo. Dan harusnya lo sadar, kalo gue emang jelek lo pasti ga bakal suka dan nyatain cinta ke gue. Mikir dong!!' Rentetan kalimat itu meledak-ledak didada.Ya, hanya didalam hati. Aku tak pernah sampai hati melontarkan kalimat itu meski sangat ingin ku muntahkan tepat saat dia bilang aku jelek. Seperti yang sudah-sudah, aku selalu terlihat santai meski sebenarnya aku tersinggung.
***
Dimataku, dia lelaki yang jujur dan apa adanya. Meski kadang dia tak tau kapan harus jujur dan kapan harus diam. Ia tak segan-segan mengkritik jika ada hal dari diriku yang menurutnya kurang bagus atau tak enak dilihat. Sikapnya yang berani bicara blak-blakan membuat pikiran positifku berkesimpulan kalau dia memang sayang padaku bukan dari fisik, tapi dari sisi yang lain.
Namun tak bisa dipungkiri juga, dari segi sosial, sikapnya yang terlalu bicara apa adanya juga membuatku tak pernah merasa bangga saat jalan berdua dengannya.
Dulu, karna tak pernah mendapat kritikan pedas perihal kekurangan fisik yang ku miliki, aku selalu percaya diri setiap kali pacarku mengajak jalan atau bertemu teman-temannya. Dan tentu saja, sikapnya ini membuatku merasa jadi wanita paling beruntung dan tanpa disadari aku selalu bangga setiap kali jalan dengannya, seakan aku berkata pada semua orang yang kami jumpai bahwa "ini pacarku lho!".
Sekarang semua berbeda. Ucapan apa adanya yang sering dilontarkan pacarku berefek buruk pada kepercayaan diriku yang menurun drastis. Aku cenderung minder setiap kali kami jalan berdua.
Sering bergulirnya waktu dan berjalannya hubungan kami, tugas ku adalah berusaha mengembalikan rasa percaya diri dengan segala keterbatasan yang sudah Allah berikan. Dengan begitu aku tak pernah lupa untuk bersyukur.
Meski dia bilang aku jelek, toh itu sama sekali tak mempengaruhi perhatiannya padaku. Sayangnya padaku masih tetap sama. Dia memang tak pernah memuji fisikku yang serba pas-pasan, tapi dia menggantinya dengan bahasa yang lain;
Namun tak bisa dipungkiri juga, dari segi sosial, sikapnya yang terlalu bicara apa adanya juga membuatku tak pernah merasa bangga saat jalan berdua dengannya.
Dulu, karna tak pernah mendapat kritikan pedas perihal kekurangan fisik yang ku miliki, aku selalu percaya diri setiap kali pacarku mengajak jalan atau bertemu teman-temannya. Dan tentu saja, sikapnya ini membuatku merasa jadi wanita paling beruntung dan tanpa disadari aku selalu bangga setiap kali jalan dengannya, seakan aku berkata pada semua orang yang kami jumpai bahwa "ini pacarku lho!".
Sekarang semua berbeda. Ucapan apa adanya yang sering dilontarkan pacarku berefek buruk pada kepercayaan diriku yang menurun drastis. Aku cenderung minder setiap kali kami jalan berdua.
Sering bergulirnya waktu dan berjalannya hubungan kami, tugas ku adalah berusaha mengembalikan rasa percaya diri dengan segala keterbatasan yang sudah Allah berikan. Dengan begitu aku tak pernah lupa untuk bersyukur.
Meski dia bilang aku jelek, toh itu sama sekali tak mempengaruhi perhatiannya padaku. Sayangnya padaku masih tetap sama. Dia memang tak pernah memuji fisikku yang serba pas-pasan, tapi dia menggantinya dengan bahasa yang lain;
Sayank, mimpikanlah masa depan kita, karna setelah bangun, aku lah yang akan mewujudkannya.
ku ingin kau mengerti, betapa ku sayang padamu, aku bakal mencoba jadi yang lebih baik lagi buat kamu.
Setiap ku lihat wanita lain, yang ku lihat cuma kamu. kangeeeeen.
Hanya dengan mendengarmu aku hidup, tetaplah bersamaku.
jarak yang memisahkan kita, malah membuatku semakin sayang sama kamu.
Sayank, andai aku memiliki segalanya didunia ini tanpamu disampingku, aku akan memilih dirimu dan meninggalkan semuanya.
Pernahkah kau menyadari betapa sepinya dunia ini tanpa kehadiranmu?
Cinta, kamu tau nggak? perkenalan, penantian, pengungkapan rasa cinta, perjalanan hubungan kita adalah yang selalu ku panjatkan dalam do'a sejak pertama kita jumpa.
Meski diakuinya aku tak cantik, tapi sikap dan perlakuan tulusnya padaku selama ini membuatku senang. Dia bukan hanya pacar, tapi juga sabahat. Dan semoga hubungan kami langgeng hingga apa yang kami cita-citakan berdua bisa tercapai.
Cinta, aku sayang kamu.
Cileungsi, 16 Februari 2012
Cileungsi, 16 Februari 2012

0 komentar:
Posting Komentar